Jurnalisme Warga

Aceh Jaya Pelopor Ikan Asin Terbaik di Aceh

Ikan asin merupakan bahan makanan yang terbuat dari daging ikan yang diawetkan dengan menambahkan banyak garam.

Editor: mufti
IST
PIPI MURFIZA, S.Pd., alumnus Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG) Banda Aceh, melaporkan dari Aceh Jaya 

PIPI MURFIZA, S.Pd., alumnus Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG) Banda Aceh, melaporkan dari Aceh Jaya

Sungguh berlimpah kekayaan alam ciptaan Allah yang bisa dijadikan sebagai sumber pendapatan oleh hamba-Nya. Salah satunya adalah apa yang berasal dari lautan.

Lautan merupakan salah satu dari penampakan alam perairan, selain selat, danau, sungai, dan rawa.

Luas lautan di Indonesia sekitar 5,8 juta km2 dengan garis pantai sepanjang 81.0009 km; merupakan garis pantai produktif terpanjang kedua di dunia.

Laut sebagai aset nasional, memiliki banyak manfaat bagi kehidupan. Seperti sebagai jalur transportasi, sumber bahan makanan, sumber energi dan pertambangan, kawasan perdagangan, hingga wilayah pertahanan keamanan.

Sumber daya laut tidak hanya berupa ikan, tetapi juga bahan tambang dan lain-lain.

Berbicara tentang kekayaan alam tentu tidak ada habisnya. Kali ini saya ingin menceritakan tentang potensi perikanan tangkap di laut Aceh Jaya, tempat saya berasal.

Menangkap ikan di laut menjadi mata pencaharian mayoritas penduduk Aceh Jaya. Dari ikan segar yang berhasil ditangkap di laut, sebagiannya diolah jadi ikan asin dengan nilai jual tinggi.

Ikan asin merupakan bahan makanan yang terbuat dari daging ikan yang diawetkan dengan menambahkan banyak garam. Dengan metode pengawetan ini daging ikan yang biasanya membusuk dalam waktu singkat dapat disimpan di suhu kamar untuk jangka waktu berbulan-bulan, walaupun biasanya harus ditutup rapat.

Selain itu, daging ikan yang diasinkan akan bertahan lebih lama dan terhindar dari kerusakan fisik akibat infeksi serangga, larva lalat, dan beberapa jasad renik perusak lainnya.

Pengeringan atau pengasinan, baik dengan garam kering maupun air garam, adalah satu-satunya metode pengawetan ikan yang tersedia secara luas sampai abad ke-19.

Seperti daging asin lainnya, ikan asin pun menyediakan protein hewani yang diawetkan bahkan tanpa pendinginan.

Sebagai tambahan informasi, ikan kering dan ikan asin (atau ikan kering dan asin) adalah makanan pokok di Karibia, Afrika Barat, Afrika Utara, Asia Selatan, Asia Tenggara, Tiongkok Selatan, Skandinavia, sebagian Kanada, termasuk Newfoundland, pesisir Rusia, dan Kutub Utara.

Sedangkan di Aceh, sentra produksi ikan asin yang paling terkenal adalah di Calang, Aceh Jaya. Deretan penjual ikan asin yang membuka lapak di sepanjang sisi jalan, menggantung ikan-ikan asin pada tali dan kayu untuk menarik perhatian pembeli.

Aroma khas pun tercium menggoda para pengguna jalan yang lewat melintasi Jalan Banda Aceh-Meulaboh. 

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved