Breaking News
Jumat, 10 April 2026

Kupi Beungoh

Zoel Helmi: Guru Dayah Oemar Diyan Indrapuri yang Kuasai 7 Bahasa Dunia

Zoel Helmi mengusai 7 bahasa di dunia, yaitu Bahasa Inggris, Arab, Perancis, Jerman, dan Turki, selain Bahasa Indonesia dan Aceh tentunya.

Editor: Amirullah
Serambinews.com
Raihana Salsabilla dan Salsabila Salwa Jaisa 

Oleh: Raihana Salsabilla dan Salsabila Salwa Jaisa

SERAMBINEWS.COM – Mengusai asing terasa rumit bagi sebagian orang, apalagi bahasa yang memiliki aksara cara tulis tersendiri. Namun, hal itu tidak menjadi halangan bagi Zoel Helmi. 

Zoel Helmi mengusai 7 bahasa di dunia, yaitu Bahasa Inggris, Arab, Perancis, Jerman, dan Turki, selain Bahasa Indonesia dan Aceh tentunya. Bahkan, dia ingin menambah lagi dengan bahasa Cina, Jepang dan Korea. Wow! Menakjubkan bukan?

Dayah Oemar Diyan Indrapuri Aceh Besar tergolong beruntung. Betapa tidak, Zoel Helmi bersedia menjadi guru di dayah modern yang menjadi incaran anak-anak dari seluruh Aceh, bahkan Indonesia ini. 

Salah satu fokus dayah ini adalah dalam penguasaan dua bahasa asing, yaitu Inggris dan Arab. Kami selaku alumni Dayah Oemar Diyan telah melewati masa-masa santri yang wajib berbicara Bahasa Inggris dalam dua minggu, demikian juga Bahasa Arab.

“Ada hukuman jika melanggar aturan bahasa. Anak laki akan dibotaki, anak perempuan dihukum pakai jilbab merah-hijau selama seminggu,” ujar Dina Alya Hasan, alumni Dayah OD Indrapuri 2025 yang kini kuliah di dua kampus: USK dan UIN Ar-Raniry, Sabtu (11/10/2025).

Baca juga: 10 Prompt Gemini AI Edit Foto Wanita Berhijab Berbagai Gaya, Ubah Fotomu yang Biasa Saja Jadi Keren

Mulai dari Langsa dan Mesir

Zoel Helmi Ridhwan lahir di Lhokseumawe pada 10 September 1985. Ia akrab dikenal sebagai Ustadz Zoel Helmi karena beliau merupakan pendidik bahasa di Pesantren Modern Tgk. Chiek Oemar Diyan, Aceh Besar.

Di balik kesederhanaannya, tersimpan kisah panjang perjuangan dan semangat belajar yang luar biasa hingga mampu menguasai 5 bahasa asing. 

Perjalanan pendidikan dimulai dari TK Malahayati Gandapura, Aceh Utara, dilanjutkan ke SD Hagu Teungoh Lhokseumawe dan kemudian ke Pesantren Modern MUQ Bustanul Ulum Langsa. Dari pesantren inilah tumbuh ketertarikan terhadap bahasa, meskipun pada awalnya tidak begitu ia sadari.

Setelah menamatkan pendidikan di Langsa orang tuanya menawarkannya untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri. Mesir menjadi pilihan yang disetujui keluarga, bukan hanya karena biaya hidup yang terjangkau, tetapi juga karena Suasananya yang Islami.

Namun, perjalanan awalnya di Universitas Al-Azhar, Kairo, tidak berjalan mulus Ustadz Zoel Helmi sempat merasa menyesal mengambil jurusan Syariah Islamiyah karena kesulitan memahami bahasa Arab.

Padahal beliau mengambil jurusan itu karena dianggap mudah dibandingkan jurusan yang lain. Ia bahkan sempat di-drop out setelah tiga kali gagal dalam ujian.

Tetapi semangatnya tidak padam. Ia kembali bangkit dan memilih jurusan Ushuluddin yang justru membuatnya menemukan dunia yang ia cintai. Dari sanalah titik balik hidupnya dimulai, terutama setelah mendapat gelar Lc.

Inspirasi dari orang masuk Islam

Ketertarikannya dalam bahasa Arab tumbuh setelah melihat banyak orang Eropa yang baru masuk Islam rela datang jauh-jauh ke Mesir untuk belajar bahasa Arab, dari situ ia merenung.

"Kalau mereka yang baru masuk Islam saja semangat mempelajari bahasa Arab mengapa saya yang lahir di negeri muslim tidak demikian,?" bisik batinnya. 

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved