Minggu, 12 April 2026

Opini

Kasim Arifin Oase Perjuangan Tanpa Pamrih

Kasim Arifin yang lahir di Langsa, 18 April 1939 mendatangi daerah terpencil dan terbelakang itu hanya karena hasrat ingin membumikan semua pengetahua

Editor: Ansari Hasyim
FOR SERAMBINEWS.COM
 Fauzi Umar, Ketua Devisi Kemitraan ICMI Orwil Aceh/Pengurus MES Aceh 

Oleh: Fauzi Umar

ACEH patut berbangga memiliki putra terbaiknya Kasim Arifin, sosok mahasiswa Institut Pertanian Bogor (kini IPB University) yang fenomenal, inspiratif dan mengharukan.  

Bagaimana tidak kisah mahasiswa IPB Tahun 1964 yang menghilang 15 tahun untuk mengikuti Program Pengerahan Mahasiswa (kini Kuliah Kerja Nyata KKN) ke Waimital Pulau Seram Maluku tidak mau kembali ke kampus menyelesaikan pendidikannya hanya karena niat dan idealismenya ingin hidup bersama petani dan membangun Waimital menjadi daerah yang subur yang membawa kesejahteraan untuk warganya. 

Kasim Arifin yang lahir di Langsa, 18 April 1939 mendatangi daerah terpencil dan terbelakang itu hanya karena hasrat ingin membumikan semua pengetahuannya yang diperoleh dari IPB.  

Nuraninya terketuk, Kasim ingin berbuat sesuatu di Waimital, dia bertemu keluarga miskin, nuraninya terketuk ingin berbuat sesuatu.  

Baca juga: Kasim Arifin Pahlawan Pengabdian

Kasim meninggalkan semua identitas kota yang ada pada dirinya, dia berbaur dengan petani berjalan kaki puluhan kilometer memakai sandal jepit dan baju lusuh.  Pekerjaan ini dilakukan setiap hari bolak balik, dia menerapkan ilmu dan pengetahuan yang diperoleh dari IPB dengan pendekatan kemasyarakatan.

Kasim membantu masyarakat untuk membuka hutan, membuat sawah baru, irigasi, pembukaan jalan baru tanpa harus menunggu bantuan dari pemerintah.  

Dia membangkitkan kembali semangat gotong royong dan kebersamaan  bersama masyarakat. Kasim peduli pada masyarakat disana melebihi dari dirinya sendiri, hingga dia pun mendapat kasih sayang masyarakat di sana hingga disapa “antu” sebuah sebutan untuk orang yang dihormati di Waimital.

Begitu larutnya Kasim membangun bersama masyarakat hingga Kasim lupa untuk kembali menyelesaikan pendidikannya di IPB.  Seharusnya dia di Waimital hanya tiga bulan. 

Tapi dia merasa tugasnya belum selesai. Bahkan saat semua teman-temannya pulang, dia tetap menjadi petani. Bahkan semua temannya telah diwisuda, dia masih setia di kampung itu. Hingga semua temannya lulus dan menjadi pejabat, dia tetap memilih tinggal di Waimital hingga 15 tahun lamanya.

Kasim tidak tergiur dengan teman-teman yang telah lulus dan menjadi pejabat negara, memegang nakhoda dibeberapa BUMN.  

Kasim tetap ingin menjadi petani biasa yang bersahaja membangun Waimital hingga cita-citanya terwujud.  

Kasim baru mau kembali ke kampus menyelesaikan pendidikannya setelah dibujuk Rektor IPB Prof. Dr. Andi Hakim Nasution dengan mengutus sahabat dekatnya selama kuliah Saleh Widodo.

Kasim kembali ke IPB dengan sandal jepit dan baju lusuh, namun dia disambut dan dielu-elukan bak seorang pahlawan. 

Dia dielu-elukan segenap penjuru.  Kisahnya menitikkan haru. Dia diabadikan dalam puisi. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved