Jurnalisme Warga

Menelusuri Budaya “Eh Leuho” di Sabang

Budaya “Eh Leuho” atau tidur siang, merupakan tradisi yang sudah mendarah daging di Sabang.  Tradisi ini bukanlah sesuatu yang baru

Editor: mufti
IST
FAISAL, S.T., M.Pd., Kepala SMKN 1 Julok, dan Ketua IGI Daerah Aceh Timur, melaporkan dari Kota Sabang 

FAISAL, S.T., M.Pd., Kepala SMKN 1 Julok, dan Ketua IGI Daerah Aceh Timur, melaporkan dari Kota Sabang

SABANG, sebuah kota kecil di ujung paling barat Indonesia, bagian dari Provinsi Aceh, juga dikenal sebagai Pulau Weh. Dengan topografi berbukit dan terletak di tepi laut, Sabang menawarkan keindahan alam yang menawan, mulai dari pantai berpasir putih, hutan tropis, hingga kehidupan bawah laut yang kaya, menjadikannya surga bagi penyelam dan pencinta alam.

Sebagai titik Nol Kilometer Indonesia, Sabang juga memiliki nilai sejarah yang penting. Budaya lokal yang khas, seperti "eh leuho" atau tradisi tidur siang, memberikan warna unik pada kehidupan sehari-hari di kota wisata ini.

Sabang bukan hanya sekadar tentang keindahan alam. Kota ini juga menyimpan jejak sejarah sebagai pelabuhan bebas sejak tahun 1965. Di masa lalu, Sabang menjadi tempat bongkar muat kapal-kapal yang menghubungkan Aceh dengan dunia luar.

Arsitektur kolonial yang masih berdiri hingga kini menceritakan kisah masa lampau, menjadikannya menarik bagi mereka yang ingin mengeksplorasi sejarah. Benteng Jepang yang tersebar di pulau ini menjadi saksi bisu dari masa Perang Dunia II, ketika Sabang memainkan peran penting sebagai basis pertahanan.

Keunikan lain yang menjadi daya tarik wisata adalah budaya tidur siang yang dikenal sebagai "eh leuho". Ini merupakan tradisi lokal di mana masyarakat berhenti sejenak dari aktivitas mereka antara pukul 12 siang hingga 4 sore untuk beristirahat.

Budaya ini telah berlangsung selama puluhan tahun, sejak masa Sabang menjadi pelabuhan bebas (free port).

Dulu, masyarakat harus bekerja pada malam hari untuk mengakomodasi jadwal kapal yang tiba, sehingga mereka beristirahat di siang hari.

Meskipun tampak sederhana, "eh leuho" mencerminkan kearifan lokal dalam menjaga keseimbangan hidup antara kerja dan istirahat. Ini adalah sebuah kebiasaan yang diwariskan secara turun-temurun, yang kini menjadi bagian tidak terpisahkan dari identitas masyarakat Sabang.

Dengan kombinasi keindahan alam, sejarah yang kaya, dan budaya unik, Sabang adalah destinasi yang menawarkan pengalaman wisata yang berbeda.

Kota ini mengajak pengunjungnya untuk menikmati keindahan alam yang menenangkan, menjelajahi jejak sejarah, dan merasakan kehidupan masyarakat lokal yang ramah. Sabang adalah sebuah tempat di mana pesona alam dan tradisi berpadu dalam harmoni yang memikat.

Sejarah budaya "Eh Leuho"

Budaya “Eh Leuho” atau tidur siang, merupakan tradisi yang sudah mendarah daging di Sabang.  Tradisi ini bukanlah sesuatu yang baru, melainkan sudah ada sejak tahun 1965. Pada masa itu, Sabang dikenal sebagai pelabuhan bebas yang ramai dikunjungi kapal-kapal dari berbagai penjuru. Kapal-kapal ini sering berlabuh di malam hari, mengharuskan masyarakat setempat melakukan aktivitas bongkar muat barang pada waktu tersebut. Aktivitas ini tentu saja menguras tenaga, sehingga masyarakat membutuhkan waktu istirahat di siang hari untuk memulihkan stamina sebelum kembali bekerja pada  malam hari.

Kebiasaan ini berulang setiap hari, dari tahun ke tahun, hingga menjadi sebuah pola hidup yang diwariskan secara turun-temurun. Kini, tidur siang bukan hanya sekadar aktivitas untuk mengisi ulang energi, tetapi juga telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Sabang yang sulit untuk dilepaskan.

“Eh Leuho” mencerminkan kearifan lokal masyarakat Sabang, sebuah kebiasaan yang menonjolkan keseimbangan antara kerja dan istirahat. Ini adalah tradisi yang unik dan berbeda dari daerah lain di Indonesia, menjadikan Sabang memiliki ciri khas yang menarik bagi para wisatawan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved