KUPI BEUNGOH
Guru sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa: Masih Relevankah?
Namun, di era modern ini, penting untuk mengkritisi: apakah frasa ini masih relevan, atau justru mengabaikan kebutuhan mendesak akan pengakuan nyata
Keikhlasan seorang guru dalam mendidik merupakan suatu keniscayaan. Begitu pula pada profesi lainnya.
Namun, seakan profesi guru sajalah yang dituntut ikhlas dalam mengabdi dengan mencukupkan apresiasi sekadarnya untuk para guru yang mulia jasanya.
Sebenarnya guru akan lebih ikhlas apabila pengorbanannya dihargai dengan “pantas dan layak”.
Bagaimanapun juga, kerisauan guru terhadap suatu hal akan membebani psikologisnya yang akan berdampak pada kualitas pelayanannya dalam pendidikan.
Baca juga: Membenahi Regulasi Perlindungan Guru
Ungkapan "tanpa tanda jasa" sering diartikan sebagai wujud penghormatan dan kemuliaan terhadap ketulusan guru dalam mendidik generasi bangsa.
Tetapi, dalam konotasi ini, apakah dengan ungkapan tersebut secara tidak langsung menormalisasikan rendahnya perhatian terhadap kesejahteraan guru?
Di era modern, apresiasi terhadap guru tidak hanya berupa penghormatan verbal semata.
Harus dipahami bersama bahwa kesejahteraan finansial, pelatihan profesional, perlindungan secara hukum, dan fasilitas pendidikan yang memadai adalah bentuk nyata dari "tanda jasa" yang dibutuhkan untuk mendukung peran para guru.
Menghargai guru secara nyata bukan hanya hak mereka, tetapi juga investasi jangka panjang bagi generasi masa depan bangsa.
Peran Guru di Era Digital
Di tengah revolusi teknologi dewasa ini, guru menghadapi banyak tantangan.
Mereka dituntut untuk mencerdaskan intelektual, emosional, spiritual siswa dan juga menguasai berbagai teknologi pendidikan, bersaing dengan sumber belajar digital, dan tetap relevan dalam membimbing peserta didik di dunia yang terus berubah.
Namun, peran guru sebagai "pemandu manusiawi" tetap tak tergantikan oleh apapun sepanjang sejarah.
Kemajuan teknologi tidak akan berbanding lurus dengan kebutuhan manusiawi seperti kasih sayang, ketulusan, cinta, dan pengalaman yang didapati dari teknologi canggih.
Teknologi dapat berbagi informasi lebih cepat, ilmu yang canggih, serta komunikasi yang cepat, tetapi hanya peran guru yang mampu mengajarkan nilai-nilai kehidupan manusia seperti empati, dan kemampuan berpikir kritis.
Guru tetaplah pahlawan, tetapi penghormatan kepada mereka harus ditingkatkan dan lebih dari sekadar ungkapan klise yang menenangkan semata.
Kemudahan Tanpa Tantangan, Jalan Sunyi Menuju Kemunduran Bangsa |
![]() |
---|
Memaknai Kurikulum Cinta dalam Proses Pembelajaran di MTs Harapan Bangsa Aceh Barat |
![]() |
---|
Haul Ke-1 Tu Sop Jeunieb - Warisan Keberanian, Keterbukaan, dan Cinta tak Henti pada Aceh |
![]() |
---|
Bank Syariah Lebih Mahal: Salah Akad atau Salah Praktik? |
![]() |
---|
Ketika Guru Besar Kedokteran Bersatu untuk Indonesia Sehat |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.