Opini

Silent Treatment dalam Islam

Silent treatment dipahami sebagai perilaku mendiamkan seseorang beberapa lama setelah sebelumnya berselisih.

Editor: mufti
IST
Hayail Umroh, Dosen Psikologi Keluarga dan Duta Kesehatan Mental Dandiah 

Atau sebaliknya, melakukan silent treatment karena merasa berkuasa atas diri pasangannya, dengan berpikir mendiamkan bisa membuat mereka menderita, kemudian mau mengalah, mengaku salah dan meminta maaf sehingga pelaku merasa menjadi pemenang dalam konflik tersebut. Kedua kondisi ini tetap saja bentuk dari ketidaksejahteraan mental yang mempengaruhi kemampuan berkomunikasi dan beradaptasi seseorang terhadap masalah.

Memaafkan lebih baik

Islam mengajarkan untuk memberikan maaf sebagai perwujudan sifat Allah yang Maha Rahim. Tentu saja memaafkan tidaklah mudah, apalagi setelah disakiti oleh pasangan tercinta. Namun menjadi pribadi pemaaf itu mulia sebagaimana tertuang dalam Al-Qur’an. Dalam kajian psikologis, memaafkan dikatakan dapat membuat batin lebih tenang, jauh dari penyakit hati dan fisik atau psikosomatik, kondisi sakit fisik yang diakibatkan oleh tekanan batin. Melepaskan rasa marah terhadap seseorang itu baik untuk jiwa dan raga.
Maka memulai perjalanan untuk memaafkan menjadi salah satu cara yang dapat dipelajari demi memiliki jiwa yang sehat. Orang yang sehat jiwanya, memiliki fleksibilitas berpikir dan adaptif yang tinggi dalam menghadapi permasalahan.

Semoga Allah menjaga pernikahan kita meski kadang ada riak emosi negatif di dalamnya, dan samara tetap menjadi tujuan akhir sejak ikatan itu dimulai. Silent treatment tidak lagi dibutuhkan jika mental kita sejahtera, kalau pun ada, janganlah sampai berlama-lama, agar mood kembali baik dan energi terbaharui sehingga lebih mumpuni menyelesaikan konflik.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved