Jurnalisme Warga
Menghadirkan Industri ‘Hospitality’ di Banda Aceh
Sejujurnya istilah "industri hospitality" saya dengar dari Dr Safrizal MSi, Penjabat Gubernur Aceh pada awal Desember 2024 lalu.
Agenda Silaknas ini dimaksudkan untuk saling menyampaikan laporan kerja tahunan, baik oleh Majelis Pengurus Pusat (MPP), Badan Organisasi Otonom (Batom), maupun oleh Majelis Pengurus Wilayah (MPW) ICMI.
Saya selaku Ketua MPW ICMI Aceh bersama para personel pengurus wilayah dan pengurus daerah ICMI kabupaten/kota berangkat ke Bogor 23 orang. Rata-rata per provinsi mengirimkan 20-an orang. Ditambah dengan peserta organisasi daerah (Orda) yang datang dari berbagai daerah kabupaten/kota, maka total peserta yang hadir pada acara Silaknas ICMI di Bogor ini mencapai 1500-an orang.
Dengan jumlah orang yang hadir 1.500 orang yang harus membayar kontribusi wajib kepada panitia guna membiayai akomodasi sebanyak Rp2.500.000 per orang. Belum lagi ongkos penerbangan, transportasi lokal, pengeluaran masing-masing pribadi selama di Bogor. Maka, taksiran saya, dalam tiga hari itu uang yang mengalir dari peserta ke acara seperti ini bisa mencapai miliaran rupiah.
Berangkat dari dua pengalaman di atas dalam dua minggu ini, saya terpikir kembali, benar juga apa yang dikatakan oleh Dr Safrizal pada awal Desember lalu di Hotel Hermes Banda Aceh. Bahwa industri hospitality juga akan mendatangkan miliaran rupiah kepada kita. Apalagi beliau ungkapkan hal itu di depan 23 kapolres dan juga di depan 23 orang kepala kantor pertanahan se- Aceh. Yang tentu saja mereka hadir ke Banda Aceh dengan membawa sopir dan bawahannya.
Acara seperti ini saja sudah menghadirkan orang ke Banda Aceh 200-orang. Mungkin saja semua mereka berbelanja kebutuhannya selama berada di Banda Aceh. Ini jika dirupiahkan bisa mencapai ratusan juta. Belum lagi biaya-biaya yang dikeluarkan oleh penyelenggara kegiatan.
Dari perhitungan menghadiri pertemuan di Banda Aceh, Kupang, dan Bogor selama Desember 2024 ini saya perkirakan uang masuk ke daerah-daerah tempat acara itu digelar mencapai belasan miliar rupiah. Wah, ini lahan bisnis yang patut kita kembangkan.
Tahun lalu, saya sempat ngobrol-ngobrol dengan sopir taksi di Bangkok, Thailand. Dia muslim dan berasal dari Naritya, Thailand Selatan. Saya memulai pembicaraan, "Thailand semakin maju iya, berbeda dengan beberapa tahun lalu. Apa sumber utama pendapatan Thailand?”
Dengan ramah dan akrab dalam bahasa Melayu, dia jawab, "Pendapatan utama kami dari industri pariwisata, Pak. Kami tidak banyak industri manufacturing. Andalan kami hanya pariwisata saja."
Jawaban senada juga saya dengar dari pemandu wisata di Vollendam dan Kukenhauf pada April 2018 di Belanda. Negara kecil yang sangat bersih dan tertib ini juga mengandalkan industri pariwisata sebagai sumber utama pemasukan negara mereka.
Belanda adalah negara kecil yang dengan pelayanan kereta api cepatnya yang bagus dan nyaman, kita bisa keliling negara ini dalam waktu satu hari. Benar-benar hospitality.
Catatan ini secara naratif membuktikan bahwa industri hospitality dalam bisnis pariwisata benar-benar dapat memberikan pendapatan yang nyata bagi warga setempat. Karenanya, saya sarankan agar usaha-usaha di bidang pariwisata di Aceh, utamanya di Banda Aceh, Aceh Besar, Sabang, dan Aceh Tengah terus dikembagkan dan ditingkatkan mutu pelayanannya.
Semoga dengan diangkatnya Almuniza Kamal MSi, Kadis Budpar Aceh sebagai Pj Wali Kota Banda Aceh, maka industri hospitality yang mengandalkan keramahtamahan dan pelayanan yang baik dalam bisnis pariwisata semakin berkembang di Banda Aceh. Insyaallah.
| Layar yang Mengubungkan Kita |
|
|---|
| Asyiknya Belajar Alam di Sungai Lhok Buloh |
|
|---|
| Kepedulian Bupati Syech Muharram terhadap Aksara Arab Melayu melalui Program ‘Beut Kitab bak Sikula’ |
|
|---|
| Memetik Hikmah dari Peluncuran Buku MemoryGraph |
|
|---|
| Kenduri di Makam Putroe Sani, Dari Kejayaan Sultan Iskandar Muda ke Sunyi Makam Permaisuri |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Ketua-MPW-ICMI-Aceh-Dr-Taqwaddin-3.jpg)