Kamis, 7 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Mengungkap Misteri Aulia 44 di Sabang

Selain terkenal dengan panorama darat dan lautannya, Pulau Weh atau Sabang dikenal juga sebagai salah satu tempat penyebaran Islam di Aceh

Tayang:
Editor: mufti
IST
ANTONI ABDUL FATTAH, penulis buku, pramubakti di MIN Sabang, dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe), melaporkan dari Kota Sabang 

ANTONI ABDUL FATTAH, penulis buku, pramubakti di MIN Sabang, dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe), melaporkan dari Kota Sabang

Selain terkenal dengan panorama darat dan lautannya, Pulau Weh atau Sabang dikenal juga sebagai salah satu tempat penyebaran Islam di Aceh atau lebih dikenal sebagai pulau para aulia atau wali Allah.

Mereka yang berjumlah lebih dari 44 orang ini makamnya sudah terdata, sedangkan yang belum terdata kemungkinan lebih banyak lagi jumlahnya. Tercatat, lebih dari 44 ulama, baik yang singgah, tinggal sementara, dan menetap di Sabang.

Baru-baru ini, saat sedang mencari bahan referensi di internet tentang jejak para aulia lainnya di Sabang, saya temukan selembar foto rumah Tengku di Sabang, seorang ulama Baja (kemungkinan Gampong Paya?)

Di Pulau Weh,. menurut keterangan Institut Kerajaan Belanda untuk Linguistik, Geografi, dan Etnologi (KITLV), foto tersebut diambil sekitar tahun 1900.  Saya belum menemukan data tentang sang Tengku Paya tersebut.  Itu sebab saya belum berani untuk menyimpulkan beliau bagian dari aulia 44 atau bukan.  Tentunya harus ada penelitian lanjutan.

Ulama yang tinggal di Sabang ada karena faktor "terpaksa" karena terdampar saat berlayar ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji, lalu mereka memutuskan untuk menetap dan berdakwah di Pulau Weh. Setelah terdampar itu, mereka berusaha beberapa kali untuk kembali melanjutkan perjalanan ke Makkah, tetapi mengalami berbagai hambatan dan rintangan.

Kisah ini sendiri sering dijadikan patokan tentang sejarah aulia 44 di Sabang. Padahal, tidak semua aulia 44 yang menetap di Sabang adalah karena faktor ini. Banyak faktor yang melatarbelakangi para aulia ini menetap di pulau yang bikin orang bule di masa lalu berdecak kagum pada keindahan alamnya ini.

Dari berbagai literatur yang saya dapatkan, pada masa itu Gampong Iboih belum bernama. Kemungkinan nama iboih diambil dari nama sang ulama tersebut.  Karena iboih sendiri adalah nama sebuah gampong di Pidie, juga di Labuhan Haji, Aceh Selatan.

Ada juga ulama yang pindah ke Sabang karena faktor menghindari huru-hara di ibu kota Kerajaan Aceh Darussalam. Seperti yang terjadi pada Teungku Ibrahim Musatafari Adham Chik atau lebih dikenal sebagai Teungku Chik di Iboih. Sesampainya di Sabang, tepatnya di Gampong Iboih,  beliau bersama istrinya, Ummi Siti Rubiah, menetap dan berdakwah di Pulau Weh.

Ada juga yang menetap di Sabang karena menjadi pejabat kerajaan, seperti kisah sosok Syeikh Hubaillah Junaidi Al-Habsyi atau Tengku Bak Cuh. Menurut pemerhati sejarah Kerajaan Aceh di Sabang, Aidillan Helmi, Tengku Cot Bak Cuh adalah seorang ulama yang ditugaskan menjadi Wali (Gubernur) Kerajaan Lamuri di Aceh Besar untuk mengurusi sistem pemerintahan dan perekonomian di Pulau Weh. Beliau dimakamkan di Jaboi.

Pada masa lalu Teluk Jaboi sendiri disebutkan sebagai pusat perdagangan. Ada dua komoditas yang diburu oleh pedagang atau masyarakat internasional di Pulau Weh saat di bawah pemerintahan Lamuri. Komoditas itu adalah belerang dan terumbu karang, terutama yang berwarna merah.

Saya juga tak menampik jika ada ulama atau dai yang memang bertujuan untuk berdakwah saat datang ke Sabang. Seperti episode kedatangan  untuk pertama kalinya Mufti Kerajaan Aceh, Syeikh Abdullah Kana’an atau di Aceh lebih dikenal sebagai Tengku Chik Lampeuneu’eun ke Aceh.

Syekh Abdullah Kan’an disebut satu rombongan dengan ulama besar Aceh lainnya, Abdurrahim Bawarith bin Muhammad Saleh dari Yaman atau dikenal sebagai Tgk Chik Awe Geutah. Mereka mulanya berlabuh di Nikobar dan Andaman, kemudian singgah di Pulau Weh, lalu ke Pulau Ruja (Sumatra). Sebagian menetap di Aceh Besar, sebagian lagi ke daerah Pase.

Saya meyakini, sebagian ulama dari rombongan Syeikh Abdullah Kana’an ini ada yang menetap dan berdakwah di Sabang. Apakah mereka adalah Syeikh Hasbullah Al-Junaidi Habsyah, Syekh  Nasrullah  Al-Junaidi  Al-Habsyah, atau ulama-ulama dari luar Aceh yang makamnya ditemukan di Sabang? Sayangnya, penelitian tentang kiprah para aulia ini sepertinya agak sulit dilakukan karena tidak adanya catatan sejarah tentang hal tersebut.

Kalaupun ada, mungkin terdapat di Perpustakaan Universitas Leiden di Belanda. Sedangkan catatan yang ada hanya melalui catatan oral, baik bersumber dari keturunan sang aulia atau pemerhati sejarah Sabang yang menemukan data tersebut karena memang konsen dan serius meneliti dan mencari tahu tentang hal ini selama bertahun-tahun.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved