Jurnalisme Warga
Mengungkap Misteri Aulia 44 di Sabang
Selain terkenal dengan panorama darat dan lautannya, Pulau Weh atau Sabang dikenal juga sebagai salah satu tempat penyebaran Islam di Aceh
Saat masih bersekolah di madrasah aliah, saya pernah menemukan artikel yang membahas tentang aulia 44 di Sabang yang dimuat di sebuah tabloid mingguan yang diterbitkan oleh Pemerintah Kota Sabang. Sayangnya saat itu saya tidak tertarik menyalinnya di buku karena layaknya remaja kebanyakan, saya tidak menyukai sejarah.
Ada juga satu lagi artikel yang dimuat di sebuah laman berita di internet. Namun, sayangnya artikel tersebut tidak dapat diakses lagi bersama dengan lamannya. Selebihnya yang dapat ditemukan di internet hanyalah daftar nama makam ke-44 aulia tersebut. Sebagiannya berisi kisah “kekeramatan” beberapa aulia yang ditulis dalam blog pribadi sehingga belum dapat dibuktikan keabsahannya.
Tentunya bila ada upaya pencarian ini, baik dilakukan oleh lembaga pemerintah ataupun perseorangan dan akhirnya dibukukan atau ada data tercatat yang dapat ditemukan, masyarakat Sabang atau masyarakat luar mengetahui peran mereka di Sabang sesungguhnya. Bukan hanya kisah kekeramatan para aulia ini saja. Metode dakwah seperti apa yang mereka lakukan kepada masyarakat Sabang karena saat Teungku Chik Di Iboih datang ke sini, beliau melihat tidak adanya guru atau ulama yang mengajarkan ilmu agama di Sabang, Hal ini menjadi catatan penting bagi para peneliti sejarah aulia 44 di Sabang. Karena konon kabarnya saking berpengaruhnya ulama di Sabang saat itu, Laksamana Cheng Ho dikabarkan sempat belajar strategi perang, merakit senjata, dan belajar mengaji dari tokoh Islam di Sabang.
Sementara 12 orang awak kapal Cheng Ho memilih untuk menetap di Sabang berdakwah sepanjang hayatnya.
Keduabelas pendakwah asal Negeri Tirai Bambu ini dimakamkan di Pantai Pasir Putih, Gampong Paya Keuneukai.
Maka, tindak lanjut ke depannya makam para aulia ini haruslah lebih terawat karena masyarakat sudah mengetahui peran masing-masing dari ke-44 aulia ini sehingga mereka lebih tertarik untuk berziarah ke Sabang.
Bila sudah banyak peziarah ke Sabang, maka makam para aulia ini akan lebih terawatt karena telah dipugar atau direhab baik oleh pemerintahan gampong setempat atau pemerintah kota. Dan hal ini akan berdampak kepada pendapatan Pemko Sabang karena jumlah wisatawan selalu bertambah karena wisatwan yang datang tidak hanya datang untuk beristirahat sejenak dari rutinitas dunia, berburu kuliner, berfoto dengan latar belakang keindahan panorama darat dan laut Sabang. Akan tetapi, mereka juga datang untuk berziarah setiap harinya ke makam para ulama yang ada di Sabang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ANTONI-ABDUL-FATTAH.jpg)