Kupi Beungoh
Kisah Nja’ Ali, Jago Bedah Lintas Zaman
emaja Gampong Peulanggahan, Banda Aceh ini diterima sebagai Helper Burger Zieken Venpleger Bijzender Bembte (asisten perawat pasien umum) yang bekerja
Oleh: Azhar Abdullah Panton*)
Tidak banyak yang tahu, kalau bangsa Aceh memikili seorang ahli bedah lintas zaman.
Kredibilitasnya telah diakui sejak zaman kolonial hingga zaman kemerdekaan.
Hebatnya, ia bukanlah seorang dokter, tapi hanya seorang perawat berijazah Sekolah Rakyat (SR) yang memulai karir di Militair Hospital (Rumah Sakit Militer) Pemerintah Hindia-Belanda di Kutaraja (selanjutnya disingkat RSMHB).
Bangsa Aceh dimaksud adalah Nja’ Ali (Nyak Ali-PUEBI).
Saat usia 16 tahun, bermodalkan ijazah SR, Ali melamar pekerjaan di RSMHB yang kala itu juga populer dengan nama RS Pante Pirak.
Remaja Gampong Peulanggahan, Banda Aceh ini diterima sebagai Helper Burger Zieken Venpleger Bijzender Bembte (asisten perawat pasien umum) yang bekerja di bagian zaal (bangsal), terhitung 1 Juli 1913.
Setahun kemudian, pria kelahiran Tapaktuan, 21 Juli 1897 ini dipindahkan ke bagian operatie kamer (ruang bedah) dan verband kamer (ruang perban).
Disinilah Ali mulai berkenalan dan berinteraksi dengan dunia pembedahan hingga di kemudian hari ia diakui sebagai ahli bedah.
Baca juga: Kesabaran Nabi Muhammad SAW Sebagai Kunci Suksesnya Dakwah
Dua windu bertugas sebagai asisten perawat, pada tahun 1930, kepala RSMHB, WG Nelessen menaikkan jabatannya menjadi Burger-Zieken Venpleger (perawat pasien umum).
Enam tahun setelahnya (1936), karir Ali di RS yang selesai dibangun 1880 ini semakin menanjak. Ia diangkat sebagai penanggung jawab perawat.
Berkat ketekunan, keuletan, dan dedikasinya dalam mengemban tugas, dokter bedah Belanda mengapresiasi kinerja Ali.
Sedikit demi sedikit ia mulai menurunkan ilmunya, sampai akhirnya Ali menguasai ilmu pembedahan dengan baik.
Atas prestasi dan pengabdiannya, pada tahun 1941, Kepala Jawatan Kesehatan Militer Pemerintah Hindia-Belanda yang berkedudukan di Bandung mengangkat Ali sebagai Hospital Assistant (asisten RS).
Ia diberikan kartu identitas Militair Geneeskundige Dienst (layanan kesehatan militer).
Sejak saat itu, suami Tjut Meurah Siti ini sudah memiliki otoritas untuk menangani pasien militer.
Sejak RSMHB didirikan hingga 1935, semua dokternya berkebangsaan Belanda.
Baru tahun 1936 diisi dengan seorang dokter umum dari kalangan pribumi.
Ia adalah Mohammad Majoedin yang tiba di Aceh 13 Maret 1936.
Baca juga: Saat Muscab IDI, Ini Harapan Pemko Lhokseumawe untuk Para Dokter
Sekitar tiga tahun kemudian dikirim lagi tiga orang dokter pribumi. Mereka adalah I Made Bagiastra, Soedono, dan Lie Sek Hong.
Setahun setelahnya dikirim dokter Ratumbuisang.
Status Ali sebagai perawat yang ahli bedah di RSMHB berakhir 12 Maret 1942, setelah tentara Jepang berhasil menguasai Kutaraja (Banda Aceh).
Saat itu seluruh dokter dan perawat berkebangsaan Belanda ditawan oleh tentara Jepang.
RS pun dijadikan markas mereka sehingga layanan kesehatan terhenti sama sekali.
Beberapa hari kemudian, dibuka poliklinik untuk umum di bekas rumah Pastur yang terletak di belakang komplek Gereja Pante Pirak (Gereja Katolik Hati Kudus).
Sebagai Kepala Poliklinik ditunjuk Majoedin yang dibantu oleh beberapa orang lainnya, yaitu: Ratumbuisang, Yoesoef (apoteker), Tjut Mahmoed dan R Sitompul (laboratorium) dan Ali sebagai penanggung jawab bagian perawatan.
Poliklinik ini hanya berjalan sekitar tiga bulan.
Setelah itu, pada 25 Juni 1942 bagian kesehatan Gunseibu (urusan kolonial) memerintahkan agar pasien dan aktivitas pelayanan kesehatan dipindahkan kembali ke bekas RSMHB.
Saat itu RS hanya memiliki seorang dokter dan beberapa perawat.
Bersama Majoedin, yang juga ditunjuk sebagai kepala RS, Ali menjadi tulang punggung dalam menangani kasus-kasus yang membutuhkan pembedahan.
Kondisi ini berlangsung hingga Jepang kalah dan menyerah kepada tentara sekutu.
Zaman kemerdekaan, manajemen RS tidak jauh berbeda.
Sampai tahun 1950, RS yang sudah berganti nama menjadi Rumah Sakit Umum (RSU) Kutaraja ini masih dipimpin oleh Majoedin yang sekaligus diangkat sebagai Kepala Jawatan Kesehatan Daerah Aceh.
Baca juga: dr Fahrizal Sp. THT - BKL Jadi Ketua IDI Cabang Lhokseumawe
Selanjutnya ia dipindahkan ke Bandung dan digantikan oleh I Made Bagiastra dan dibantu R Midi.
Sejak saat itu Ali berganti pasangan dalam ruang bedah.
Ayah dari tujuh putra dan empat putri ini berkolaborasi dengan R Midi dalam menjalankan tugasnya.
Pada tahun 1952, Ali sebenarnya telah memasuki usia pensiun.
Namun karena saat itu belum ada dokter ahli bedah, I Made Bagiastra selaku kepala RSU Kutaraja tetap mempertahankannya.
Hal yang sama juga terjadi ketika Ali pensiun terhitung 1 Desember 1959 dalam usia 62 tahun 4 bulan.
R Midi yang saat itu sudah menjadi kepala RSU Kutaraja, meminta Ali untuk tetap mengabdi sebagai asisten dokter bedah.
Ali selalu dipercaya sebagai asisten dokter bedah sampai ia mengundurkan diri tahun 1981.
Dokter-dokter bedah yang pernah didampinginya antara lain: tiga dokter pemerintah di RSU Kutaraja berkebangsaan Amerika Serikat, yaitu M Meiselbah (1954-1957), R Mlasowsky (1957-1961), dan Bela Szoke (1961-1962).
Kemudian Ibnoe Ibrahim (1967-1973), M Nazif Arsyad (1973-1977), Ridwan Ibrahim (1978), dan Hafas Hanafiah (1979).
Ali juga menjadi asisten dua dokter spesialis kebidanan dan penyakit kandungan, TMA Chalik (1970-1975) dan Aboebakar Oemar (1975-1981).
Secara administratif, otoritas Ali hanya sebagai asisten dokter bedah, namun dalam aktivitas medis pria yang kesehariannya selalu berpakaian serba putih ini bekerja lebih dari sekadar asisten.
Sebagai informasi, saat ini bangunan RSMHB telah menjadi aset RS Tingkat II Iskandar Muda yang lebih dikenal dengan RS Kesdam.
Sedangkan RSU-nya, sejak 1979 berganti nama menjadi RSUD dr Zainoel Abidin dan pindah ke lokasi saat ini di Gampong Bandar Baru (Lampriet), Kuta Alam, Banda Aceh.
Baca juga: Senator Aceh H Sudirman: Masalah Tukin Dosen ASN, Ini Darurat, Harus Segera Diselesaikan
Apresisasi atas Dedikasi
Dedikasi Ali dalam bekerja mendapat apresiasi dari dokter bedah Belanda maupun dokter pribumi.
WJ Van Ramshorst, dokter bedah kandungan, dalam pernyataannya tertanggal 1 Mei 1929 menulis, “Ali bangsa Aceh, selama kurun waktu Mei 1928 sampai Mei 1929, telah bekerja di ruang bedah, sangat menyenangkan saya.
Saat berpuluh kali melakukan bedah besar, ia mampu menguasai peralatan secara mandiri dan bekerja dengan tenang, sopan dan dapat dipercaya.
Orangnya tampan dan sehat, bersamanya kegiatan pembedahan semakin menyenangkan”.
Apresiasi senada juga diutarakan dua ahli bedah dan ginekolog Belanda lainnya, L Elsbach (Agustus 1934) dan CR Ritsema Van Eck (19 Agustus 1939), serta beberapa dokter spesialis Belanda lainnya.
Semua testimoni yang ditulis secara pribadi ini masih terdokumentasikan dengan baik dalam arsip milik anak kelima Ali, Mohd Amin.
Sepeninggal Amin, semua arsip terkait Ali tersimpan dalam perpustakaan mini milik anak ketiga Amin, Nurchaili.
Sementara Majoedin, dokter umum yang juga harus berperan sebagai dokter bedah mengatakan, “Untunglah saya telah mahir menjalankan pembedahan dengan bantuan besar dari mantri (perawat-pen.) kamar bedah Ali, yang sekarang, setelah pensiun dan masih bekerja di Banda Aceh”.
Pernyataan ini ditulisnya dalam buku ‘Bunga Rampai tentang Aceh’, yang diterbitkan Bhratara Karya Aksara Jakarta, 1980.
Selain apresiasi dan penghargaan yang diutarakan secara pribadi, Ali juga mendapatkan penghargaan Tri Dasa Warsa Satiya dan Penghargaan dari Menteri Kesehatan RI atas jasa-jasa dan pengandiaanya selama 25 tahun tanpa terputus (1978).
Sebelumnya pada awal kemerdekaan (1946), ia juga mendapat penghargaan dari Markas Daerah Pesindo Aceh atas jasa-jasanya dalam memberikan pertolongan medis kepada prajurit yang terluka saat perang Cumbok yang berlangsung di wilayah Pidie.
Ali menghembuskan napas terakhir pada tanggal 11 Agustus 1987 dalam usia 90 tahun.
Enam tahun setelah ia mengundurkan diri dalam usia 84 tahun karena faktor kesehatan.
Ali dikebumikan di Komplek Pemakaman Umum Masjid Tgk Dianjong, Gampong Peulanggahan, Banda Aceh.
Demikian sekelumit kisah Nja’ Ali, sang jago bedah lintas zaman yang telah berbakti kepada nusa dan bangsa selama 68 tahun tiada henti.
Prestasi kerja ini tentu menjadi catatan sejarah tersendiri bagi dunia kesehatan Indonesia, khususnya Aceh. Karenanya Nja’ Ali layak disebut sebagai pahlawan kesehatan Aceh.
*) PENULIS adalah Alumnus Universitas Syiah Kuala, peminat literasi sejarah Aceh
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Artikel KUPI BEUNGOH lainnya baca DI SINI
| Merawat Identitas Serambi Mekkah di Tengah Arus Modernisasi |
|
|---|
| Penundaan Persetujuan PoD I Gubernur Aceh: Antara Romantisme Sejarah dan Realisme Investasi Global |
|
|---|
| Asap Rokok di Momen Lebaran: Ancaman Tersembunyi bagi Kesehatan Ginjal Keluarga |
|
|---|
| Triliunan Harta di Bawah Tanah Aceh jatuh ke Jaringan Kejahatan |
|
|---|
| Rumput, Angin dan Cerita dari Savana Indrapuri |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Kisah-Nja-Ali-Jago-Bedah-Lintas-Zaman.jpg)