Kupi Beungoh
Bahasa Aceh : Bukan Sekedar Kata, Tapi Jejak Martabat Rakyat Aceh. Jangan Biarkan Lenyap!
Jika tidak ada intervensi serius, bukan tidak mungkin dalam 2-3 generasi mendatang, bahasa Aceh hanya akan menjadi catatan sejarah.
Meski UU No. 24/2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara mengamanatkan pelestarian bahasa daerah, implementasinya di Aceh masih setengah hati.
Bahasa Aceh hanya diajarkan sebagai muatan lokal di sebagian kecil sekolah, tanpa kurikulum yang sistematis.
Bandingkan dengan Bali, di mana Bahasa Bali diwajibkan hingga tingkat SMA.
Peneliti bahasa Taufik Abdul Hakim menyebut, "Kebijakan yang tidak afirmatif membuat bahasa daerah hanya menjadi pajangan" (Jurnal Linguistik Indonesia, 2020).
4. Generasi Muda yang Terputus dari Akar
Survei Dinas Pendidikan Aceh (2022) menunjukkan bahwa 65 % remaja Aceh berusia 15-24 tahun kesulitan memahami peribahasa atau kosa kata tradisional dalam Bahasa Aceh.
Mayoritas mengaku lebih sering menonton konten berbahasa Indonesia di TikTok atau YouTube daripada mendengarkan cerita rakyat dalam bahasa ibu.
Solusi (disarankan) Menyelamatkan Bahasa Aceh dari Kepunahan
1.Integrasi ke Sistem Pendidikan
Pemerintah Aceh perlu memperkuat Perda No. 5/2019 tentang Bahasa, Tulisan, dan Sastra Aceh dengan memasukkan Bahasa Aceh sebagai mata pelajaran wajib dari SD hingga SMA.
Contoh sukses bisa diadopsi dari Suku Maori di Selandia Baru, yang berhasil menghidupkan kembali bahasa mereka melalui program "Kohanga Reo" (Sekolah Bahasa Ibu).
2. Revitalisasi melalui Media dan Teknologi
Kolaborasi antara pemerintah, seniman, dan platform digital seperti Aceh TV atau Rapoet Haba perlu ditingkatkan.
Pembuatan podcast, lagu, atau serial animasi berbahasa Aceh bisa menarik minat generasi muda.
3.Insentif bagi Penutur Aktif
Pemerintah bisa memberikan penghargaan atau beasiswa kepada pelajar yang aktif menggunakan Bahasa Aceh dalam esai atau karya seni.
| Penjajahan Akademik Berbaju Saintifik |
|
|---|
| Mengetuk Pintu Hati Serambi Mekkah dan Normalisasikan Kesehatan Mental di Aceh |
|
|---|
| Di Balik Kritik Terhadap Mualem, Ada Perjuangan Besar untuk Aceh |
|
|---|
| Dari PCOS Menuju Era PMOS |
|
|---|
| Mafia Sitasi Permalukan Pendidikan Aceh : Ketika Akademik Indonesia Terjebak Ilusi Scopusisasi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Adam-Juliandika-Mahasiswa-Pascasarjana.jpg)