Jurnalisme Warga
Kisah Rumah Sakit Jiwa Era Kolonial di Sabang
Akibat dari serangan-serangan sporadis ini diketahui banyak tentara penjajah Belanda yang mengalami stres selama berada di Hindia Belanda.
ANTONI ABDUL FATTAH, Tenaga Kependidikan di MIN Sabang dan Anggota Forum Aceh Menulis Menulis (FAMe) Chapter Sabang, melaporkan dari Kota Sabang
Atjeh Pungo atau Atjeh Moorden adalah momok yang paling menakutkan bagi pra serdadu penjajah Belanda di Aceh selama kurun waktu 1910 hingga 1930-an. Hal ini berawal dari syahidnya Teungku Chik Di Tiro dan berakhirnya Perang Aceh melawan Belanda.
Pemerintah Kolonial Belanda mengira mereka akan mampu “mendisiplinkan” rakyat Aceh setelah Teungku Chik Di Tiro dan putra-putranya syahid dalam medan perang. Akan tetapi, ternyata penjajah Belanda tetap digelayuti kecemasan karena aksi “jihad fi sabilillah” para laskar Aceh atau oleh penjajah Belanda disebut sebagai sindrom “Atjeh Moord” atau “Atjeh Moorden” ini semakin menjadi-jadi.
Serangan rakyat Aceh terhadap orang-orang Belanda di Aceh dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja, tanpa sepengetahuan tentara Belanda. Banyak pejabat militer dan perwiranya yang berakhir tragis di tangan mujahid Aceh.
Akibat dari serangan-serangan sporadis ini diketahui banyak tentara penjajah Belanda yang mengalami stres selama berada di Hindia Belanda.
Pada akhirnya banyak pejabat atau perwira militer yang ditugaskan ke Aceh takut dan waswas hatinya. Bisa saja hari ini bertugas di Aceh, besok pulang ke Negeri Belanda tinggal nama saja.
Gerakan ini sebenarnya adalah bagian dari jihad fi sabilillah yang terus digelorakan oleh rakyat Aceh kepada ‘kaphe’ (kafir) Belanda. Hikayat Prang Sabi disebut-sebut sebagai salah satu pemicu aksi ini. Akibat aksi sporadis rakyat Aceh ini, penjajah Belanda pusing tujuh keliling. Rasa takut menghantui mereka, walaupun tidak semua dari tentara Belanda ini mati bersimbah darah. Banyak juga di antara mereka yang hanya luka-luka. Hal ini mengakibatkan banyak dari mereka yang tidak ingin membawa istri dan anaknya saat bertugas ke Aceh.
Menanggapi fenomena ini, pemerintah kolonial Belanda mengutus seorang psikiater terkenal bernama Dr FH van Loon untuk melakukan penyelidikan di wilayah Aceh terhadap sejumlah pasien jiwa yang dipertimbangkan untuk dirawat di lembaga ini (rumah sakit jiwa) dan mengumpulkan informasi lebih lanjut.
Kisah ini dinukilkan kembali oleh Residen Aceh, J Jongejans, dalam bukunya. “Land en volk van Atjeh vroeger en nu”.
Rencana pembangunan rumah sakit jiwa (RSJ) di Aceh juga didukung oleh para uleebalang (hulubalamg) yang diangkat sebagai pejabat Belanda. Seperti yang diungkapkan oleh Teuku Umar saat masih memainkan peran sebagai pejabat kolonial Belanda bahwa pemerintah kolonial Belanda harus membangun rumah sakit di Aceh.
Selain Van Loon, pemerintah kolonial Belanda juga mengutus pejabat untuk urusan kebumiputeraan, yakni Dr RH Kern. Menurutnya, apa yang dilakukan rakyat Aceh itu adalah perasaan tidak puas akibat mereka telah ditindas oleh orang Belanda karena itu jiwanya akan tetap melawan Belanda.
Kemudian, hasil penelitian Van Loon dan Kern ini semakin menguatkan keinginan pemerintah Belanda untuk mendirikan rumah sakit jiwa (Krankzinnigengesticht) di Sabang setelah sebelumnya, RSJ telah dibangun di Pulau Jawa, Medan, dan wilayah lainnya di Nusantara.
Bangunan RSJ mulai dikerjakan pada tahun 1904 oleh Sabang Maatschappij dan baru difungsikan pada September 1923. Dari hasil penelitian mantan kepala Rumah Sakit TNI-Al J Lilipory Sabang, Mayor Kolonel dr Hisnindarsyah disebutkan bahwa bahan-bahan bangunannya dibawa dari Kesultanan Deli dan Jawa.
Hal ini dapat dilihat dari sisa-sisa genteng yang masih utuh, tertulis tahun 1904 dan bermerek Deli Clei.
Krankzinnigengesticht ini merupakan RSJ keempat yang didirikan di Hindia Belanda, rumah sakit umum yang berada di bawah kendali pemerintah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ANTONI-ABDUL-FATTAH.jpg)