Sabtu, 30 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Kisah Rumah Sakit Jiwa Era Kolonial di Sabang

Akibat dari serangan-serangan sporadis ini diketahui banyak tentara penjajah Belanda yang mengalami stres selama berada di Hindia Belanda.

Tayang:
Editor: mufti
IST
ANTONI ABDUL FATTAH, Tenaga Kependidikan di MIN Sabang dan Anggota Forum Aceh Menulis Menulis (FAMe) Chapter Sabang, melaporkan dari Kota Sabang 

Menurut David Kloos, saat itu pemerintah kolonial Belanda tidak dapat memahami motif serangan-serangan ini karena mereka sudah menyatakan perang telah usai. Jadi, peristiwa yang disebut Atjeh-moorden (“Pembunuhan di Aceh”) itu dibingkai sebagai gejala kondisi rasial: akibat dari kemerosotan pola pikir masyarakat Aceh selama berabad-abad.

Pada tahun 1923, RSJ terbesar di Hindia Belanda dibangun di Aceh sebagai tanggapan terhadap serangan tersebut dan berdasarkan nasihat yang diberikan oleh para etnolog dan psikiater.

Ribuan orang dipenjara dan ‘dirawat’ di sana tanpa disengaja. Oleh Belanda, aksi “Atjeh Moorden” ini disamakan dengan serangan amok, tapi dengan motivasi agama.

Serangan amok adalah kondisi psikologis yang ditandai dengan perilaku agresif dan marah yang tiba-tiba dan hebat, serta tidak terkendali. Orang yang sedang amok dapat membahayakan diri sendiri atau orang lain.

Dr Latumenten yang menjadi kepala RSJ di Sabang kemudian juga melakukan studi terhadap pelaku-pelaku pembunuhan khas Aceh yang oleh Pemerintah Belanda mereka itu diduga telah dihinggapi penyakit saraf atau gila. Namun, hasil penelitian dr Latumenten tersebut menunjukkan bahwa semua pelaku adalah orang-orang normal.

Adapun yang mendorong mereka melakukan perbuatan nekat tersebut adalah karena sifat dendam ‘tueng bila’ (balas dendam) kepada Belanda. Untuk itu, seharusnya tindakan kekerasan jangan diperlakukan terhadap rakyat Aceh.

Menurut mantan kepala Rumah Sakit TNI-Al J Lilipory Sabang, Mayor Kolonel dr Hisnindarsyah, tujuan pembangunan RSJ ini lebih bersifat politis daripada rehabilitatif, yakni sebagai tempat pengasingan tahanan politik pemerintah kolonial. Mereka yang diasingkan ke RSJ ini di antaranya adalah para mujahid Aceh.

Dalam buku “Sumatraansche indrukken - Part 2,” disebutkan bahwa sejak dibukanya  RSJ Sabang pada 15 September 1923, tercatat dari 271 pasien orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), setengahnya adalah warga Aceh, atau sekitar 135 orang.

 “Dari 135 orang tersebut, 85 orang masih berada dalam perawatan hingga akhir tahun 1923. Februari (75 laki-laki dan 10 perempuan). Sejauh ini mayoritas dari 50 pasien lainnya telah dikembalikan ke masyarakat Aceh dalam keadaan sembuh (membaik), yaitu lebih dari 30 persen. Hanya dalam jangka waktu tiga tahun atau 10 persen per tahun. Jumlah kematian mencapai kurang lebih 5 persen selama satu tahun penuh. Perlu dicatat bahwa jumlah residivisme sangat kecil dan dapat diabaikan dalam pertimbangan ini,” tulis buku yang diterbitkan di Surabaya pada tahun 1928 itu.

Lantaran membeludaknya pasien yang dirawat di RSJ Sabang, masih di tahun 1923, pemerintah kolonial Belanda memperluas bangunan rumah sakit ini. Menurut data yang saya peroleh, tercatat total pasien yang dirawat di RSJ Sabang saat itu berjumlah 1.400 pasien. Sejak tahun 1930, Krankzinnigengesticht Sabang telah  memiliki 1.222 tempat tidur.

Setelah kemerdekaan, bangunan RSJ Sabang ini telah beralih fungsi menjadi Rumah Sakit Angkatan Laut (RSAL) Johannes Lilipory di Gampong Ie Meulee. Nama rumah sakit ini diambil dari nama seorang tentara Kerajaan Hindia Belanda (Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger/KNIL) yang membelot dan berjuang bersama rakyat Indonesia, khususnya di Sabang, bernama Johannes Lilipory. Demikian, kisahnya.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved