Kupi Beungoh
Tariff Trump: ‘Cupo Katijah", Lowrence Wong, dan Koji Sato – Bagian II
Tidak hanya Jepang, sekutu kuat AS, Jerman, pemasok utama otomatif ke US juga harus membayar 76 miliar dolar.
Oleh: Ahmad Humam Hamid*)
BENCANA tarif Trump juga menimpa perusahaan besar.
Koji Sato, CEO Toyota diperkirakan akan menanggung sekitar 12,5 miliar dolar dari 25 miliar dolar beban masuk kenderaan dan semua produk otomotif dari Jepang ke AS.
Tidak hanya Jepang, sekutu kuat AS, Jerman, pemasok utama otomatif ke US juga harus membayar 76 miliar dolar.
Jumlah ini membuat tiga CEO otomotif besar German -Sten Ola Källenius dari Marcedes, Oliver Zipse dari BMW, Oliver Blume dari Volkswagen harus bekerja memastikan mereka perusahaan mereka selamat dan berlanjut.
Seluruh persoalan tarif dengan antara AS dengan berbagai mitra negara maju, pada akhirnya akan menemukan titik keseimbangan dan penyelesaian tersendiri.
Bagaimana dengan negara berkembang, apalagi miskin, seperti di sejumlah negara Afrika? Akan bagaimanakah mereka?
Sebenarnya tidak hanya negara miskin yang bermasalah, negara yang tergolong berpendapatan menengah bawah versi bank Dunia, seperti Indonesia, juga “limbung” menghadapi kebijakan Trump.
Ditambah dengan keruwetan ekonomi domestik, dan utang luar negeri, Indonesia barangkali salah satu negara yang mempunyai masalah besar dan pekerjaan rumah yang banyak jika saja kebijakan Trump berlanjut.
Apa Hubungannya dengan Cupo Katijah?
Terlepas dari semua itu, negara akan mengurus dirinya sendiri untuk jangka pendek.
Perusahaan besar juga akan berjuang, kalaupun mereka bangkrut, pemegang saham dan pekerjanya yang akan merana.
Namun bagiamana pula dengan jutaan rakyat yang hidupnya telah terhubung dengan sistem ekonomi global yang mempunyai prinsip “bejana berhubungan” dengan ekonomi besar sekelas ekonomi AS dan Cina?
Bagaimana dengan ratusan ribu bahkan jutaan buruh tekstil, industri listrik, sepatu, dan berbagai barang rumah tangga yang berhubungan dengan pasar AS?
Bagaimana dengan jutaan penduduk Indonesia yang tinggal di pedesaan seperti “Cupo Katijah” di Pidie Jaya?
Bukankah produk komoditi pertanian seperti kopi, karet, dan kakao yang hampir semuanya diekspor telah mulai merasakan babak awal kebijakan Trump?
Lihatlah harga karet teman dan kerabat “Cupo Katijah” di kawasan pedalaman Aceh Utara, Aceh Timur, dan Bireun.
Karet alam telah mengalami penurunan harga lebih dari 3000 rupiah per kilogram semenjak kebijakan tariff Trump dalam tempo tiga minggu terakhir.
Lihat pula bagaimana hancurnya harga kakao yang terasa sangat jauh berbeda dari harga terakhir sebelum kebijakan Trump diumumkan.
Jika harga biji coklat kering sepanjang tahun 2024 dan awal 2025 bertengger relatif di atas 120 ribu rupiah, sejak bulan April telah berubah.
Kini harga referensinya turun 19,88 persen.
Harga patokan ekspor juga turun sekitar 20,34 persen.
Seorangpun tak bisa memprediksi berapa harga kakao beberapa bulan ke depan.
Walaupun kopi pada awal kebijakan Trump tidak sangat terpengaruh dengan kebijakan tarif itu, dalam beberapa hari terakhir kondisinya telah berubah.
Kopi arabica Gayo mengalami penurunan harga yang signifikan.
Di kawasan sentra produksi semua produk kopi telah mengalami penurunan.
Green been misalnya telah mengalami penurunan lebih dari sepuluh ribu rupiah.
Penurunan telah mempengaruhi kehidupun “Ine Katijah” di kawasan dataran tinggi Gayo.
Baca juga: Inilah Daftar Produk yang Dipertaruhkan AS dan China di Tengah Tarif Brutal Trump!
“Cupo Katijah” dari Desa Hingga Kota
Metafora dan keterwakilan “Cupo Katijah” sangat layak karena ia dapat berupa seorang isteri petani atau janda yang mempunyai anak.
Ia hidup dari usaha pertanian kecil milik dirinya, bagi hasil, atau sewa.
Secara jenis kelamin dan gender, Cupo Katijah memang perempuan - wanita.
Bagaimana dengan laki-laki?
Sama saja, karena mereka hidup dalan kondisi dan ekosistem yang serupa, walau tak seringkali sama.
Kelas sosial dan posisi metafora Cup Katijah dalam masyarakat di berbagai tempat di dunia, mewakili kelompok miskin pedesaan maupun perkotaan. Mereka hidup serba kekurangan.
Jika jumlah “Cupo Katijah” dianggap sebagai representasi rumah tangga pertanian usaha kecil, maka jumlah “Cupo Katijah” global versi FAO tidak kurang dari 600 juta rumah tangga.
Bagaimana dengan Cupo Katijah kota?
Jika Cupo Katijah desa berurusan dengan 600 juta rumah tangga, maka hitungan Cupo Katijah kota lebih banyak dengan individu.
Menurut data ILO terakhir yang tersedia, ada sekitar dua miliar penduduk kota yang hidup sebagai buruh dan pekerja informal.
“Cupo Katijah” bisa juga tinggal di kota dan menjadi buruh pabrik sepatu atau tekstil dengan upah harian yang sangat minim.
Kini dengan kenaikan tarif AS akibat ulah Trump, patrik tempat ia berkerja sudah mulai gulung tikar.
Mungkin saja mereka baru saja naik kelas melampaui “garis kemiskinan teoritis” yang digunakan negara, maupun para guru besar hebat dari berbagai universitas.
Apa yang luput dari pantauan adalah “Cupo Katijah” dan kawan-kawannya adalah kelompok pertama mayoritas yang menderita ketika ada goncangan ekonomi global.
Apalagi bila ada semacam gelombang disrupsi dan ketidakpastian seperti kebijakan tarif Trump.
Ibarat sekawanan orang yang berdiri di dalam air yang tingginya telah sampai kebatas dagu, apalagi bibir, sedikit saja ada gelombang kecil, akan membuat mereka tenggelam.
Kebijakan tarif Trump adalah gelombang besar.
Gelombang itu akan menenggelamkan mereka dan memporak porandakan ekosistem fisik dan sosial ekonomi mereka.
Kekacauan pasar global hari ini masih saja berlangsung, padahal kebijakan itu belum diterapkan.
Trump masih memberi waktu sembilan puluh hari kepada semua negara untuk bernegosiasi.
Sekalipun kebijakan itu ditunda, pasar tetap saja bergeming.
Kebijakan itu adalah perang dagang, dan perang dagang dalam sejarahnya adalah sebuah ketidakpastian.
Ketidakpastian ekonomi global, ketidakpastian keuangan global, ketidak pastian kebijakan d ekonomi negara, adalah “momok besar” kehidupan hari ini.
Ketidakpastian itu kini telah mulai mengerogoti kehidupan “Cupo Katijah” di seluruh dunia.
Ukurannya kolosal, seorang pun tak tahu kapan akan berakhir.
*) PENULIS adalah Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/humam-hamid-sosiolog-aceh-4.jpg)