Kupi Beungoh
Dilema Etika Kedokteran di Era Digital
Fenomena ini memantik pertanyaan penting: apakah kita sedang menyaksikan krisis etik di dunia kedokteran, atau hanya sekadar badai media yang dibesar-
Oleh: Prof Dr dr Rajuddin, Sp.OG (K), Subsp.FER *)
Belakangan ini, jagat maya dan media massa riuh dengan pemberitaan sejumlah kasus dugaan pelecehan seksual yang melibatkan oknum dokter.
Seperti air yang tumpah dari gelas, cerita demi cerita bermunculan di media sosial, diikuti dengan pemberitaan yang kerap kali menggunakan diksi-diksi provokatif.
Masyarakat pun bereaksi beragam: ada yang marah, kecewa, bahkan mulai memandang sinis seluruh profesi dokter.
Fenomena ini memantik pertanyaan penting: apakah kita sedang menyaksikan krisis etik di dunia kedokteran, atau hanya sekadar badai media yang dibesar-besarkan?
Sebagai media yang selalu berkomitmen pada pemberitaan berimbang, penting bagi kita untuk menempatkan persoalan ini dalam perspektif yang tepat.
Pelecehan seksual dalam bentuk apapun tentu tidak bisa ditoleransi, terlebih jika dilakukan oleh tenaga medis yang seharusnya menjadi tempat masyarakat menitipkan kesehatan dan kepercayaan.
Baca juga: Bocah Usia 12 Tahun Selamat dari Gagal Jantung, Usai LVAD oleh Dokter IJN Malaysia, Begini Prosesnya
Namun, kita juga perlu waspada terhadap generalisasi yang bisa merugikan banyak dokter yang bekerja dengan integritas tinggi.
Data dari Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) menunjukkan bahwa per tanggal 24 April 2024 ada 279.321 dokter yang terdaftar di Indonesia, kasus pelanggaran etik yang terbukti masih sangat kecil.
Ini membuktikan bahwa kasus-kasus yang mencuat belakangan ini adalah pengecualian, bukan gambaran umum profesi dokter di Indonesia.
Yang patut menjadi perhatian adalah bagaimana relasi kuasa antara dokter dan pasien seringkali menciptakan kerentanan.
Dalam situasi pemeriksaan medis, pasien berada dalam posisi yang tidak setara secara pengetahuan, otoritas, dan kondisi fisik.
Ketimpangan inilah yang kadang dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk melakukan pelanggaran.
Namun di sisi lain, kita juga perlu mengakui bahwa profesi dokter adalah salah satu profesi yang paling rentan terhadap burnout.
Baca juga: Kejadian Lagi, Dokter Lecehkan Pasien Saat Sedang Jalani Rawat Inap, Kasus di Rumah Sakit Malang
Orang yang rentan terhadap burnout adalah individu yang mengalami stres kronis di tempat kerja atau situasi lain yang belum dikelola dengan baik, yang dapat menyebabkan kelelahan fisik, emosional, dan mental, serta penurunan motivasi dan kinerja.
| JKA: Kepentingan Rakyat atau Kepentingan Elite? |
|
|---|
| Dam Haji: Mau Potong di Makkah atau Mudik ke Indonesia? |
|
|---|
| Aceh sebagai Episentrum Baru Pengetahuan Humaniora |
|
|---|
| Scopus, Sitasi, dan Martabat Ilmu di Kampus Aceh: Membaca Ulang Kupi Beungoh Prof. TMJ |
|
|---|
| Kebijakan Datang di Tengah Luka: Awai Buet Dudoe Pike, Teulah Akhe Keupeu Lom Guna |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Rajuddin-tanggapi-soal-dokter.jpg)