Kupi Beungoh
Dilema Etika Kedokteran di Era Digital
Fenomena ini memantik pertanyaan penting: apakah kita sedang menyaksikan krisis etik di dunia kedokteran, atau hanya sekadar badai media yang dibesar-
Ketiga, pendidikan etik bagi calon dokter perlu diperkuat sejak di bangku kuliah.
Yang tak kalah penting, masyarakat perlu bijak menyikapi informasi.
Baca juga: Kapan Bisa Mengetahui Jenis Kelamin Bayi di Kandungan Melalui USG? Begini Penjelasan dr Boyke
Tidak semua yang viral itu benar, dan tidak semua yang benar itu viral. Mari beri ruang bagi proses hukum untuk bekerja, sambil terus mendorong perbaikan sistem di dunia kedokteran.
Kita semua sepakat bahwa pelecehan seksual adalah kejahatan yang harus diberantas.
Tapi kita juga harus ingat, bahwa generalisasi yang tidak berdasar hanya akan merugikan ribuan dokter yang setiap hari berjuang menyelamatkan nyawa dengan integritas tinggi.
Pada akhirnya, yang kita butuhkan adalah sistem yang mampu memberikan keadilan bagi korban tanpa merusak kepercayaan publik terhadap profesi dokter secara keseluruhan.
Karena ketika kepercayaan itu hilang, yang akan dirugikan adalah masyarakat sendiri saat membutuhkan pertolongan medis. (*)
*) PENULIS adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran USK dan Sekretaris ICMI Orwil Aceh. Email rajuddin@usk.ac.id
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Artikel kupi beungoh lainnya
| JKA: Kepentingan Rakyat atau Kepentingan Elite? |
|
|---|
| Dam Haji: Mau Potong di Makkah atau Mudik ke Indonesia? |
|
|---|
| Aceh sebagai Episentrum Baru Pengetahuan Humaniora |
|
|---|
| Scopus, Sitasi, dan Martabat Ilmu di Kampus Aceh: Membaca Ulang Kupi Beungoh Prof. TMJ |
|
|---|
| Kebijakan Datang di Tengah Luka: Awai Buet Dudoe Pike, Teulah Akhe Keupeu Lom Guna |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Rajuddin-tanggapi-soal-dokter.jpg)