Minggu, 12 April 2026

Opini

Di Balik Papan Tulis dan Tong Sampah 7 Miliar

DI Aceh, guru berjibaku dengan administrasi, makin getir oleh kebijakan tak masuk akal. Bayangkan jadi guru di pelosok.

Editor: mufti
IST
Frida Pigny S IP MCom, Home education specialist, advokat keberagaman, publik speaker, anggota Aceh Australian Alumni (AAA), dan founder SuperSchool.ing 

Frida Pigny S IP MCom, Home education specialist, advokat keberagaman, publik speaker, anggota Aceh Australian Alumni (AAA), dan founder SuperSchool.ing

DI Aceh, guru berjibaku dengan administrasi, makin getir oleh kebijakan tak masuk akal. Bayangkan jadi guru di pelosok. Jauh dari pusat kota, harus menyusun RPP, menilai siswa, menyusun laporan BOS, menyulap internet lambat jadi pelaporan online, semua sambil mempersiapkan materi ajar yang layak. Waktu untuk benar-benar mendidik? Terkikis habis demi memenuhi sistem yang lebih mencintai formulir ketimbang murid.

Di tengah tekanan itu, sebagian guru mencari ruang bernapas, berseragam, duduk di warung kopi, menyiasati sistem. Ada yang menyarankan pemilik warung menambah kanopi agar nyaman “nongkrong” tanpa takut razia. Ironis? Ya. Tapi juga manusiawi. Di sisi lain, ada pula guru yang mengeluh tak punya cukup waktu di antara kantor dan rumah. Sistem ini telah membuat mereka lelah, bukan malas.

Lalu datang kabar mengejutkan. Dinas Pendidikan Aceh menggelontorkan Rp7 miliar hanya untuk pengadaan tong sampah HDPE di sejumlah SMAN. Di tengah mutu pendidikan yang masih terseok, keputusan ini mencederai akal sehat. Ini bukan sekadar pemborosan, ini adalah pengkhianatan terhadap prioritas.

Sementara anak-anak di ruang kelas butuh guru yang hadir sepenuh hati. Para pendidik kita sibuk mengisi data, mengejar sertifikasi, mengikuti pelatihan dan seremonial, dan menyiapkan laporan untuk program yang belum tentu nyata. Pendidikan telah direduksi menjadi rutinitas mekanis. Guru, yang seharusnya jadi pelita, justru terjebak jadi operator sistem.

Di luar sana, banyak kepala sekolah memilih diam. Mereka tahu, suara kritis bisa berujung pemanggilan. Guru pun belajar bertahan dengan menyimpan idealisme mereka di laci, dan mengganti semangat mengajar dengan sekadar menjalankan tugas. Tak sedikit yang mencari “me time” di sela jam kerja, bukan karena malas, tapi karena tercekik beban tak berujung.
Masyarakat pun tak sepenuhnya membantu. Ada yang bilang, “Enak ya jadi guru, gaji tetap, libur banyak.” Tapi sedikit yang tahu bahwa gaji itu hanya cukup untuk bertahan, waktu libur biasanya habis untuk menyusun laporan atau ikut pelatihan tambahan demi sertifikasi.

Akibatnya? Anak-anak didik menjadi korban paling sunyi. Mereka kehilangan guru yang benar-benar hadir. Guru tak lagi punya waktu untuk memahami karakter murid, memberi dorongan personal, atau menyalakan api keingintahuan. Mereka bukan lagi pendidik. Mereka jadi pengisi data. Dan ini bukan kesalahan pribadi. Ini kegagalan sistemik.

Tapi perubahan itu mungkin. Kita hanya perlu punya keberanian untuk membongkar ilusi ini.
Jikalau kita mau menengok ke luar, belajar dari mereka yang telah lebih dulu membalikkan arah sistem. Seperti Finlandia yang menunjukkan bahwa ketika birokrasi dipangkas dan kualitas pendidikan justru meningkat tanpa adanya laporan RPP berulang. Fokus mereka hanya satu, yaitu para anak didik.

Lihatlah Jepang yang mengembangkan budaya lesson study, di mana guru saling berbagi dan memperbaiki metode mengajar, bukan saling bersaing. Ini menciptakan ruang aman untuk tumbuh bersama sebagai pendidik.

Sementara di Kanada, penilaian guru tidak semata-mata berdasar jumlah pelatihan yang diikuti, tapi berdasarkan dampak nyata pada murid. Guru diberi ruang refleksi dan feedback, bukan hanya checklist. Singapura menjamin kesejahteraan guru melalui gaji yang kompetitif, tunjangan pengembangan diri, dan cuti profesional. Hasilnya, profesi guru di sana sangat dihormati dan jadi incaran banyak orang muda.

Di Brazil, Escola da Ponte membalik peran guru, bukan sebagai penyampai materi, tapi fasilitator belajar yang mendesain pengalaman belajar sesuai minat anak. Di sana, guru tidak terjebak target kurikulum, tapi jadi pemantik rasa ingin tahu. Sementara di sekolah-sekolah di Eropa Barat, wellbeing guru jadi perhatian utama. Ada sesi konsultasi dan penguatan mental bagi guru secara berkala, karena mereka tahu guru yang bahagia adalah kunci murid yang berkembang.

Generasi gagap

Sistem pendidikan kita seperti bangunan megah yang tampak kokoh dari luar, tapi keropos dari dalam. Ia pincang bukan hanya karena satu bagian yang lemah, melainkan karena semua lini, dari pucuk hingga akar, memiliki cacat struktural yang diwariskan dari era industri.

Di puncak rantai, ada kepala dinas yang menelurkan kebijakan tanpa mendengar suara lapangan. Anggaran miliaran bisa dengan ringan dialokasikan untuk tong sampah HDPE, seolah-olah itu prioritas paling genting di tengah jeritan kualitas belajar yang tak kunjung membaik. Mereka bicara visi, tapi yang terjadi justru revisi demi revisi, agar narasi tetap rapi meski realita porak-poranda.

Lalu ada kepala sekolah. Banyak dari mereka tak lagi menjadi pemimpin pembelajaran, tapi operator sistem. Mereka memilih diam dengan gumulan asap rokok yang memenuhi ruangan kerja ber-AC. Memberikan contoh penerapan nyata bagi para anak didik tentang ‘hidup sehat’. Bukan karena tidak tahu atau tidak peduli, tapi justru karena tahu. Satu suara lantang bisa jadi tiket keluar dari sistem. Maka mereka patuh, menjalankan perintah, dan menjaga posisi. Lebih aman begitu.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved