Kupi Beungoh
Aceh, Maroko, dan Warung Kopi
Kesamaan lainnya yang tak kalah menarik adalah budaya minum kopi dan maraknya warung kopi di kedua tempat ini.
*) Oleh: M Fataya Almuwahhid
MEMBICARAKAN Aceh dan Maroko rasanya seperti membicarakan dua sosok adik dan abang.
Walaupun terpaut jarak yang begitu jauh (yang satu di timur, yang satu di barat) hal itu tak menjadi penghalang bagi keduanya untuk memiliki banyak kesamaan.
Salah satunya adalah tradisi membaca Dala’ilul Khairat, atau yang lebih akrab disebut dala’e—sebuah kitab kumpulan shalawat dan zikir karya ulama besar Maroko, Syaikh Muhammad bin Sulaiman Al-Jazuli.
Ada juga kisah terkenal tentang penjelajah masyhur asal Maroko, Ibnu Batutah, yang pernah menginjakkan kaki di tanah Aceh sekitar tahun 1345 Masehi, ketika Samudera Pasai dipimpin oleh Raja Al-Malik Az-Zahir.
Kesamaan lainnya yang tak kalah menarik adalah budaya minum kopi dan maraknya warung kopi di kedua tempat ini.
Kopi dan warung kopi di Aceh telah menjadi identitas yang tak terpisahkan.
Tak heran jika Aceh dijuluki sebagai Negeri Seribu Warung Kopi. Ke mana pun kita pergi, hampir pasti akan kita temui minimal satu warung kopi.
Namun, warung kopi bukan sekadar tempat menikmati kopi.
Sejak dulu, warung kopi telah menjadi ruang sosial: tempat berbincang, menyelesaikan transaksi, bertemu teman dan kerabat, bahkan tempat menyendiri untuk mengerjakan tugas, merancang proyek, atau sekadar merenung.
Aneka hidangan tersedia di sana. Mulai dari kuphi pancong (Kopi sareng hitam dalam gelas setengah isi yang diracik dari biji kopi Arabika atau Robusta) hingga kopi susu, perpaduan seimbang antara kopi dan susu.
Ada juga kopi sanger, mirip kopi susu tetapi dengan proporsi kopi yang lebih dominan, menciptakan rasa yang lebih kuat.
Selain kopi, warung-warung ini juga menyediakan berbagai minuman lain seperti teh dingin, teh tarik, susu cokelat, dan sebagainya.
Disana juga tersedia jajanan khas Aceh, baik kue tradisional seperti timphan, pulot bakar, maupun citarasa nusantara serta sajian lainnya.
Menariknya, hal serupa juga ditemukan di Maroko. Di kota Fes, dalam radius satu kilometer dari tempat tinggal kami, terdapat lebih dari dua puluh warung kopi.
Semua kalangan (mulai dari anak muda hingga orang tua) betah duduk di maqha (bahasa Arab untuk warung kopi).
Para remaja berkumpul, bercanda tawa; mahasiswa sibuk dengan muqarrar (diktat)-nya; orang paruh baya menatap layar laptopnya; dan para lansia menikmati senja bersama secangkir kopi dan sebatang rokok.
Beberapa waktu lalu, kami duduk bersama warga Maroko di sebuah maqha, menyaksikan Final Copa del Rey antara dua rival abadi: Barcelona dan Real Madrid.
Antusiasme terhadap sepak bola di sini sangat tinggi. Jika timnas Maroko bermain, hampir dipastikan semua warung kopi penuh sesak.
Sedangkan menu andalan di warung kopi Maroko antara lain normal dan spesial, dua jenis kopi hitam tanpa gula yang disajikan dalam gelas kecil—bedanya, spesial ditambahkan susu.
Ada juga attai bin na’na’ (أتاي بالنعناع), teh khas Maroko dengan daun mint yang memberikan sensasi segar.
Selain minuman, maqha juga menyajikan berbagai halawiyat (حلويات)—kue-kue kering dengan beragam bentuk dan topping, mirip kue-kue lebaran di Indonesia.
Juga aneka roti khas Prancis seperti croissant, roti renyah berbentuk bulan sabit, dan pain au chocolat, roti isi cokelat berlapis mentega.
Keberadaan roti-roti ini tak lepas dari sejarah kolonialisme Prancis di Maroko selama 44 tahun, sebelum akhirnya merdeka pada 1956.
Satu hal unik yang membedakan warung kopi di Aceh dan Maroko adalah posisi kursi dan meja.
Di Aceh, kursi mengelilingi meja dari segala sisi. Sebaliknya, di Maroko, kursi di maqha cenderung menghadap ke jalan.
Setiap meja biasanya hanya memiliki satu atau dua kursi yang semuanya menghadap ke arah jalan, terutama di bagian teras.
Jadi, jika kita berjalan melewati sebuah maqha, besar kemungkinan Anda akan menjadi tontonan para kakek yang sedang menikmati normal atau attai-nya sambil merokok.
Entah mengapa, tapi tampaknya ada kesenangan tersendiri bagi masyarakat Maroko dalam menyaksikan lalu-lalang kehidupan di jalanan.
Setidaknya antara Maroko dan warung Kopi telah mengobati sedikit kerinduan kami para mahasiswa untuk Tanoh recong. (*)
*) PENULIS adalah Mahasiswa Aceh di Maroko dan Alumni Dayah Insan Qurani Aceh Besar
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
BACA TULISAN KUPI BEUNGOH LAINNYA DI SINI
| Perang dan Damai - Bagian 9, Perjalanan Ke Manado Kota Toleransi |
|
|---|
| Prabowo, Doli, dan Mualem di Balik Perpanjangan Otsus Aceh |
|
|---|
| Sosok Ismail Rasyid, Pengusaha Asal Aceh yang Menembus Batas-batas Kemungkinan |
|
|---|
| Traffic Light dan Karakter Kita: Renungan Umur Manusia |
|
|---|
| Peusijuk: Dari Warisan Budaya ke Katalisator Pendidikan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/M-Fataya-Almuwahhid-Mahasiswa-Aceh-di-Maroko.jpg)