Opini

Seks Berisiko, IMS Mengintai

Herpes genital kerap diabaikan meski bersifat menahun dan mudah kambuh, dan HPV menjadi perhatian utama karena kaitannya dengan kanker serviks.

Editor: mufti
IST
dr Zulfan Sp DVE, Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala 

dr Zulfan Sp DVE, Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala

DALAM dunia yang terus berkembang dan terbuka ini, pembahasan mengenai seksualitas seharusnya tidak lagi menjadi hal yang tabu. Edukasi dan pemahaman yang benar justru menjadi kunci dalam mencegah berbagai permasalahan kesehatan yang berkaitan dengan aktivitas seksual. Salah satu isu yang patut mendapatkan sorotan adalah hubungan erat antara perilaku seksual berisiko dan infeksi menular seksual (IMS).
Keduanya memiliki keterkaitan yang kuat dan sering kali menjadi lingkaran masalah yang berulang jika tidak dicegah melalui pendekatan yang tepat.

Perilaku seksual berisiko adalah segala bentuk aktivitas seksual yang meningkatkan peluang seseorang untuk tertular atau menularkan IMS. Jenis perilaku ini mencakup hubungan seksual tanpa kondom, terutama dengan pasangan yang status kesehatannya tidak diketahui, berganti-ganti pasangan seksual tanpa perlindungan, hingga melakukan hubungan seksual di bawah pengaruh alkohol atau narkoba.

Tak hanya itu, perilaku menyimpang dengan seks anal tanpa pengaman juga dikategorikan sebagai aktivitas berisiko tinggi karena jaringan pada area tersebut lebih rentan terhadap luka dan penularan infeksi.
Tidak heran, kasus IMS di Aceh terus meningkat kian hari. Kekhawatiran utama adalah banyaknya orang yang melakukan perilaku seksual tersebut tanpa sepenuhnya menyadari risiko yang mengintai.

Di balik satu momen kenikmatan sesaat, tersembunyi potensi dampak jangka panjang yang bisa memengaruhi kesehatan, kesuburan, bahkan kualitas hidup. Perilaku yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi tanpa edukasi yang memadai justru memperbesar potensi terjadinya penularan IMS secara luas dalam masyarakat.

Berbagai jenis infeksi menular seksual (IMS) yang umum di masyarakat disebabkan oleh bakteri, virus, atau parasit, seperti klamidia, gonore, sifilis, herpes genital, HIV/AIDS, HPV (Human Papillomavirus), dan trikomoniasis. Beberapa, seperti klamidia dan gonore, sering tak bergejala di awal namun dapat menimbulkan komplikasi serius seperti infertilitas jika tidak segera ditangani. Sifilis yang sempat mereda kini kembali meningkat, sementara HIV dan HPV berdampak jangka panjang pada kekebalan tubuh dan risiko kanker.

Herpes genital kerap diabaikan meski bersifat menahun dan mudah kambuh, dan HPV menjadi perhatian utama karena kaitannya dengan kanker serviks.

Hubungan kausal antara perilaku seksual berisiko dan IMS sangatlah jelas. Ketika seseorang terlibat dalam hubungan seksual tanpa proteksi, terutama dengan pasangan yang tidak diketahui status kesehatannya, maka risiko penularan IMS meningkat secara signifikan. Virus dan bakteri penyebab IMS dapat berpindah melalui cairan tubuh seperti sperma dan cairan vagina, serta melalui luka atau lecet pada kulit di area genital. Penggunaan kondom yang konsisten dan benar telah terbukti secara ilmiah menurunkan risiko penularan berbagai jenis IMS, termasuk HIV.

Namun, penting juga untuk memahami apa yang menyebabkan seseorang terlibat dalam perilaku seksual berisiko. Salah satu faktor utama adalah kurangnya edukasi mengenai kesehatan seksual dan reproduksi. Banyak remaja dan dewasa muda yang tidak mendapatkan informasi yang cukup tentang pentingnya perlindungan dan potensi bahaya dari aktivitas seksual yang tidak aman. Pendidikan seks yang diberikan secara terbatas, sering kali hanya sebatas anatomi dan fisiologi, belum menyentuh aspek hubungan, komunikasi, persetujuan, serta pentingnya tanggung jawab dan perlindungan.

Selain kurangnya edukasi, pengaruh lingkungan sosial dan tekanan teman sebaya juga turut memainkan peran. Dalam beberapa budaya, keperawanan dan keperjakaan masih dianggap sebagai simbol moralitas, sehingga topik seks menjadi sangat tertutup untuk dibicarakan. Akibatnya, remaja mencari informasi dari internet atau teman sebaya yang belum tentu akurat. Penyalahgunaan alkohol dan narkoba menjadi faktor lain yang tak kalah penting, karena dalam kondisi tidak sadar, seseorang cenderung mengabaikan risiko dan membuat keputusan impulsif.

Tak hanya itu, ketimpangan gender juga menjadi penyebab munculnya perilaku seksual berisiko. Dalam banyak kasus, perempuan tidak memiliki kuasa penuh untuk menentukan apakah pasangannya akan menggunakan kondom atau tidak. Beberapa perempuan bahkan dipaksa melakukan hubungan seksual atau bekerja di industri seksual karena tekanan ekonomi. Dalam konteks ini, kekerasan seksual juga tidak bisa dipisahkan dari isu IMS karena korban tidak memiliki kesempatan untuk melindungi diri.

Kemiskinan dan keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan juga memperburuk keadaan. Di wilayah terpencil atau kelompok masyarakat miskin, alat kontrasepsi dan fasilitas tes IMS mungkin sulit dijangkau. Bahkan, rasa malu dan takut akan stigma sering kali menjadi penghalang bagi seseorang untuk mencari pertolongan medis ketika mengalami gejala IMS. Padahal, deteksi dan pengobatan dini sangat penting untuk mencegah komplikasi serta mencegah penyebaran lebih lanjut kepada orang lain.

Edukasi seks

Langkah pencegahan adalah kunci utama dalam upaya menurunkan angka IMS di masyarakat. Edukasi seks yang komprehensif perlu diberikan sejak usia sekolah, dengan pendekatan yang sesuai dengan usia dan budaya lokal. Materi yang disampaikan harus mencakup tidak hanya cara mencegah kehamilan, tetapi juga pentingnya komunikasi dalam hubungan, batasan pribadi, persetujuan, serta penggunaan alat pelindung diri seperti kondom. Guru, orang tua, dan tenaga kesehatan perlu diberikan pelatihan agar mampu menjadi fasilitator edukasi yang netral dan tidak menghakimi.

Vaksinasi juga menjadi pilar penting dalam pencegahan. Vaksin HPV yang direkomendasikan untuk anak perempuan dan laki-laki usia 9–14 tahun telah terbukti mampu mencegah kanker serviks serta kutil kelamin. Negara-negara yang telah mengintegrasikan vaksin ini ke dalam program imunisasi nasional menunjukkan penurunan angka HPV secara signifikan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved