Kupi Beungoh
Wakaf dan Masa Depan Pendidikan: Dari Tradisi ke Transformasi
George Makdisi mencatat bahwa struktur kelembagaan dan pendanaan universitas-universitas awal di Barat, terinspirasi dari sistem wakaf.
Oleh: Muhammad Nasir*)
DALAM sejarah peradaban Islam, wakaf tidak sekadar bentuk amal jariyah individual.
Ia adalah sistem sosial yang mengintegrasikan nilai spiritual, keberlanjutan ekonomi, dan kemerdekaan intelektual.
Di masa lalu, wakaf berperan sebagai penopang utama ekosistem pendidikan, memungkinkan ilmu berkembang dalam ruang yang merdeka dari tekanan politik, fluktuasi anggaran negara, dan logika komersial.
Salah satu contoh monumental adalah Universitas Al-Qarawiyin di Maroko, didirikan pada tahun 859 oleh Fatimah Al-Fihri.
Ia mewakafkan seluruh hartanya untuk mendirikan lembaga pendidikan yang hingga kini tetap berdiri dan diakui UNESCO sebagai universitas tertua di dunia.
Ketahanannya selama lebih dari seribu tahun bukan berasal dari negara atau pasar, melainkan dari kekuatan wakaf.
Model Wakaf dalam Pendidikan Tinggi: Dari Islam ke Barat
Peran wakaf sebagai infrastruktur pendidikan juga berdampak secara global.
George Makdisi dan Monica Gaudiosi mencatat bahwa struktur kelembagaan dan pendanaan universitas-universitas awal di Barat--seperti Merton College (Oxford, 1264)--terinspirasi dari sistem wakaf di dunia Islam.
Model ini kemudian menjalar ke Cambridge dan Harvard, melahirkan sistem endowment fund yang hingga kini menjadi tulang punggung otonomi akademik universitas elite dunia.
Contohnya, Harvard kini memiliki dana abadi lebih dari 50 miliar dolar AS, yang memungkinkan kampus tersebut mempertahankan kebebasan akademik dan keberlanjutan riset, tanpa ketergantungan pada anggaran negara atau korporasi.
Ketika tekanan politik datang, mereka tetap mampu bersuara, karena didukung fondasi finansial yang mandiri—suatu hal yang belum dimiliki sebagian besar kampus di Indonesia.
Indonesia: Krisis Kemandirian Akademik di Era Komersialisasi
Di Indonesia, pendidikan tinggi justru bergerak ke arah yang bertolak belakang.
Komersialisasi membuat pendidikan--dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi--menjadi komoditas yang semakin eksklusif.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan peningkatan tajam dalam pengeluaran rumah tangga untuk pendidikan, terutama di wilayah perkotaan.
| Banjir Aceh yang Menghapus Sebuah Kampung |
|
|---|
| Serambi Indonesia Cahaya yang tak Padam di Era Digital |
|
|---|
| Ekoteologi Islam: Peringatan Iman atas Kerusakan Lingkungan dan Bencana Ekologis Aceh |
|
|---|
| Duka dan Air Mata Rakyat Aceh Dibalik Usaha Membersihkan Rumah Pasca Banjir Bandang |
|
|---|
| Simpang Lima di Kala Malam: Refleksi tentang Keindahan, Ketertiban, dan Identitas Aceh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Muhammad-Nasir-wakaf.jpg)