Jumat, 24 April 2026

Kupi Beungoh

Wakaf dan Masa Depan Pendidikan: Dari Tradisi ke Transformasi

George Makdisi mencatat bahwa struktur kelembagaan dan pendanaan universitas-universitas awal di Barat, terinspirasi dari sistem wakaf.

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/HANDOVER
Muhammad Nasir, Dosen Tetap pada Magister Keuangan Islam Terapan Politeknik Negeri Lhokseumawe dan Nazhir di Lembaga Wakaf Gen Cahaya Peradaban Lhokseumawe. 

Tidak hanya memberikan pendidikan gratis, tetapi juga beasiswa dan tiket pulang bagi lulusan asing.

Di Turki, universitas berbasis vakıf seperti Fatih Sultan Mehmet Vakıf University membuktikan bahwa manajemen wakaf yang modern dan transparan dapat menopang pendidikan tinggi berkualitas. 

Malaysia juga mengembangkan pendekatan serupa melalui Universiti Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM) dan Yayasan Wakaf Malaysia, yang mengintegrasikan wakaf pendidikan dalam kebijakan nasional.

Di Indonesia, beberapa kampus seperti UII dan UMY telah memulai model wakaf produktif. 

Namun, inisiatif ini masih terbatas dan belum menjadi gerakan nasional. 

Diperlukan regulasi yang kondusif, insentif fiskal yang mendorong partisipasi publik, serta penguatan jejaring alumni sebagai sumber pendanaan jangka panjang. 

Jika setiap alumni menyisihkan 1 persen dari pendapatannya untuk dana abadi, atau jika sebagian dana CSR dialihkan ke wakaf pendidikan, maka dalam satu dekade kita bisa membangun ekosistem kampus yang benar-benar merdeka dan berkelanjutan.

Dari Tradisi Menuju Transformasi

Wakaf bukan sekadar warisan spiritual, tetapi instrumen visioner yang menjembatani tradisi dan transformasi. 

Di tengah tantangan zaman--globalisasi, disrupsi digital, dan krisis kepercayaan terhadap institusi--pendidikan membutuhkan fondasi baru yang kokoh dan etis. 

Wakaf menawarkan solusi: ia menjamin keberlanjutan, membebaskan ilmu dari kooptasi, dan menghidupkan semangat keadilan sosial.

Transformasi pendidikan tidak bisa semata-mata mengandalkan kurikulum baru atau digitalisasi. 

Yang lebih esensial adalah membangun sistem yang memungkinkan ilmu berkembang dalam ruang yang merdeka, inklusif, dan bertanggung jawab. 

Inilah saatnya wakaf dihidupkan kembali--dengan tata kelola profesional, visi jangka panjang, dan semangat kolektif membangun masa depan bangsa.

Jika Harvard bisa berdiri kokoh di atas sistem yang terinspirasi dari dunia Islam, mengapa kita yang mewarisinya justru abai? 

Jika Al-Qarawiyin mampu bertahan lebih dari seribu tahun karena kekuatan wakaf, mengapa tidak kita jadikan inspirasi untuk masa depan pendidikan Indonesia? 

Wakaf bukan hanya tentang memberi. 

Ia adalah tentang mewariskan peradaban.

*) PENULIS adalah Dosen Tetap pada Magister Keuangan Islam Terapan Politeknik Negeri Lhokseumawe dan Nazhir di Lembaga Wakaf Gen Cahaya Peradaban Lhokseumawe.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca artikel Kupi Beungoh lainnya di SINI

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved