Jumat, 24 April 2026

Kupi Beungoh

Aceh, Islam, dan Modernitas: Warisan dan Wawasan

Ketika Islam dijadikan simbol kosong yang dipisahkan dari nilai-nilai keadaban, maka ia menjadi kaku--dan terkadang, memusuhi kehidupan itu sendiri.

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/HANDOVER
Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Jika Sultan Iskandar Muda hidup hari ini, ia barangkali lebih sibuk membangun pusat riset energi terbarukan di Lhokseumawe daripada sibuk mengatur perempuan tidak duduk mengangkang di kereta roda dua, sekaligus dengan aturan pakaian.

Oleh: Ahmad Humam Hamid*) 

“Yahwa-paman bahasa Aceh-, aku baru keluar dari Masjid Jumeirah. Klasik betul, arsitektur abad lalu. Tapi lingkungan sekitarnya bersih, teratur. Anak-anak main bola di taman. Ibu-ibu bawa stroller, pakai abaya dan sneakers. Modern, tapi islami. Aku jadi bertanya: kenapa Aceh tak bisa begini?”

Pesan WA itu saya terima dari seorang pemuda Aceh yang sedang transit di Dubai, dalam perjalanan ke Tunisia untuk memulai studi S2-nya. 

Ayahnya seorang tokoh lokal di dataran tinggi Gayo yang wawasannya luas. 

Punya kebun kopi arabika 8 hektare, alumni kampus Islam terkemuka, dan pembelajar yang tangguh. 

Hampir setiap kali saya ke Gayo, saya singgah ke dia, ngopi, makan alpukat, markisa, dan kadang jus terong Belanda. 

Kami bicara, sementara pemuda tadi-anaknya, semenjak kecil selalu duduk bersama kami, mendengar dengan cermat.

Pemuda itu bukan tokoh politik, bukan pula aktivis. 

Hanya seorang anak muda biasa--pernah belajar di dayah selama tiga tahun sambil sekolah lanjutan, lalu kuliah di kota, kini merantau ke Afrika Utara. 

Seperti banyak generasi muda lainnya, ia punya mata yang tajam dan hati yang terusik oleh kenyataan: mengapa Aceh yang dibanggakan sebagai “Serambi Mekkah”, terasa semakin jauh dari semangat masa depan Islam itu sendiri?

Aceh hari ini berdiri di antara dua kutub: semangat menjaga identitas Islam yang kuat, dan kebutuhan mendesak untuk merangkul dunia modern yang terus bergerak. 

Dalam perjalanan itu, seperti kata Fareed Zakaria-pemikir global terkemuka muslim AS berdarah India-, sering kali umat Islam bukan tersesat dalam iman, melainkan ragu dalam menghadapi perubahan.

Kita bisa melihat Dubai sebagai contoh ekstrem modernitas. 

Tapi Jumeirah bukan sekadar distrik elite--ia adalah simbol keberhasilan menggabungkan nilai-nilai Islam dengan keterbukaan, efisiensi, dan teknologi. 

Di sana, masjid tetap berdiri agung, tetapi tidak menjadi simbol ketakutan; melainkan ruang spiritual yang damai. 

Tidak ada razia moral, tapi ada etika sosial yang terbangun karena sistem yang rapi.

Dan pertanyaannya makin terasa menusuk: mengapa Aceh, yang begitu bangga dengan syariat, belum berhasil membentuk wajah Islam yang membebaskan dan menggugah harapan?

Barangkali masalahnya bukan pada Islam. Tapi pada cara kita memperlakukannya.

Kita terlalu menjadikan Islam sebagai pagar, bukan jendela. 

Ia dipakai untuk membatasi gerak, bukan untuk membuka wawasan. 

Maka kita pun melihatnya penggunaannya lebih sering sebagai alat kontrol moral di ruang publik--razia, sanksi sosial, dan baliho penuh peringatan.

Padahal, jika Islam dipahami sebagai jendela--yang membuka cakrawala berpikir, memperluas empati, dan menyalakan daya cipta--maka syariat bukan lagi sekadar seperangkat larangan, melainkan fondasi etis untuk membangun masyarakat yang sehat, adil, dan berdaya saing. 

Aceh, dengan status kekhususannya, sesungguhnya punya peluang besar untuk menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam bisa menjadi motor penggerak reformasi, bukan penghambatnya. 

Tapi itu hanya mungkin jika kita berani memindahkan titik berat dari simbol ke substansi, dari takut kepada perbedaan menuju kesiapan untuk belajar dan berbenah.

Padahal, sejarah Islam tidak miskin akan pemimpin besar yang berpikir ke depan. 

Dari Baghdad hingga Andalusia, dari Samudera Pasai hingga Istanbul, Islam pernah menjadi pusat ilmu pengetahuan, diplomasi, ekonomi, dan seni.

Baca juga: Peneliti Tulisan Kuno Tgk Taqiyuddin Muhammad Sebut Pidie sebagai Pusat Peradaban Islam Aceh

Bangga dengan Warisan, Lupa Merancang Wawasan

Ketika Islam dijadikan simbol kosong yang dipisahkan dari nilai-nilai keadaban, maka ia menjadi kaku--dan terkadang, memusuhi kehidupan itu sendiri.

Aceh sering merasa bangga dengan warisan, tapi lupa merancang wawasan. 

Kita disibukkan  merayakan masa lalu tanpa sangat cukup siap menyusun masa depan.

Warisan sejarah kita besar. 

Tapi ia bukan hanya untuk dipajang dalam museum atau disinggung dalam pidato. 

Ia harus diterjemahkan menjadi strategi. 

Jika Sultan Iskandar Muda hidup hari ini, ia barangkali lebih sibuk membangun pusat riset energi terbarukan di Lhokseumawe daripada sibuk mengatur perempuan tidak duduk mengangkang di kereta roda dua, sekaligus dengan aturan pakaian.

Kita lupa bahwa Islam bukan hanya tentang tatanan hidup pribadi. 

Ia adalah peta besar tentang bagaimana masyarakat hidup, bekerja, dan tumbuh bersama. Ia tidak anti terhadap perubahan--bahkan sejak awal, Islam hadir sebagai revolusi: sosial, spiritual, dan intelektual.

Tapi sekarang, di banyak tempat, termasuk di Aceh, perubahan justru dicurigai. 

Pemuda yang bertanya dianggap memberontak bahkan dituduh liberal. 

Perempuan yang berpikir dianggap melewati batas. 

Kata “ijtihad” dibatasi hanya untuk mereka yang memiliki gelar dan jabatan tertentu.

Padahal, tantangan Aceh hari ini sangat nyata dan sangat menyesakkan: angka pengangguran muda yang tinggi, daya saing rendah, pendidikan yang belum nyambung dengan keterampilan abad 21, dan kebijakan pembangunan yang masih acak acakan.

Saya ingin mengusulkan satu sudut pandang sederhana: barangkali yang kita perlukan bukan Islam yang lebih keras, tapi Aceh yang lebih cerdas.

Cerdas dalam merancang masa depan. 

Cerdas dalam menyusun ulang hubungan antara agama dan pemerintahan. 

Cerdas dalam mendidik anak-anak, bukan hanya agar mereka takut, tapi agar mereka mampu dan percaya diri.

Dalam salah satu tulisannya, Zakaria menyebut bahwa tantangan terbesar dunia Islam bukan sekadar potensi radikal walau dari sebagian yang sangat kecil, melainkan ketidaksiapan struktural untuk bersaing dalam dunia modern.

Ketertinggalan dalam bidang pendidikan, riset, tata kelola pemerintahan, serta pemberdayaan ekonomi menjadi hambatan nyata umat Islam, termasuk Aceh

Ketika institusi-institusi sosial dan politik tidak dibangun di atas asas meritokrasi, transparansi, dan inklusivitas, maka ruang bagi inovasi pun menyempit.

Dalam konteks ini, modernitas bukan berarti meniru Barat, tetapi membangun kapasitas internal untuk menghadirkan Islam sebagai kekuatan transformasi yang berakar pada nilai-nilai universal: keadilan, ilmu, dan kemaslahatan umat. 

Baca juga: Sudah 4 Kali Nikah, Pria Abdya Ini Rudapaksa Anak Tiri Hingga Melahirkan, Terancam 200 Kali Cambuk

Harus Berani Mengambil Jalur Berbeda

Tantangan Aceh hari ini bukan hanya menjaga identitas keislamannya, tetapi menjadikannya sebagai fondasi bagi kemajuan yang berdaya tahan dalam dunia yang terus berubah.

Aceh, jika ingin menjadi pelopor Islam yang membumi dan modern, harus berani mengambil jalur berbeda. 

Bukan berarti menanggalkan identitas, tetapi menjadikannya sebagai kekuatan yang adaptif.

Modernitas bukanlah ancaman bagi nilai-nilai Islam, melainkan lahan subur untuk menumbuhkan etika sosial, keadilan, dan ilmu pengetahuan yang berpihak pada kemaslahatan umat. 

Dengan memadukan warisan syariat dengan semangat inovasi, Aceh dapat menciptakan model peradaban yang tidak hanya religius secara simbolik, tetapi juga solutif dalam menjawab tantangan zaman. 

Di sinilah letak keberanian sejati: meretas batas antara tradisi dan pembaruan demi menghadirkan Islam yang membumi, kontekstual, dan relevan bagi generasi mendatang.

Rindu Aceh yang tak Canggung Peradaban

Pemuda yang mengirim WA dari Jumeirah tadi, bukan sedang membandingkan. 

Ia sedang berharap. 

Ia rindu pada versi Aceh yang tidak tegang, tidak curiga pada masa depan, dan tidak canggung dengan peradaban.

Ia tidak ingin meninggalkan Aceh

Tapi ia ingin kembali ke Aceh yang menyambutnya--bukan hanya dengan berbagai qanun, tapi dengan ruang tumbuh.

Suatu hari nanti, mungkin ia akan kembali dari Tunisia. 

Ia duduk di masjid kecil di Meureudu, Takengon, atau Kota Fajar, di antara taman bermain dan perpustakaan. 

Ia melihat imam masjid yang punya start up dan juga dosen kewirausahaan. 

Ia mendengar khutbah tentang membangun koperasi syariah digital dan agritech sederhana pedesaan. 

Ia melihat ibu-ibu bicara tentang gizi bayi dan lansia,  dan berbagai hak anak, termasuk bukan sekadar memaksa mereka dengan berbagai hafalan.

Ia tak behenti dan terus berpikir, mengajak kawan-kawannya untuk satu tekad: Aceh, Islam, dan modernitas, bukan lagi tiga kata yang terpisah. 

Tapi satu napas yang membangun harapan.

Aceh harus bergulat dengan cerdas. 

Ia harus berdamai dengan zaman tanpa kehilangan ruhnya, harus menjinakkan modernitas dengan cara yang penuh keanggunan dan inovasi. 

Dunia menawarkan contoh-contoh yang megah--Dubai dengan menara-menara kacanya, Doha dengan kilau masa depannya, Kuala Lumpur dengan denyut modernitas yang tak pernah padam. 

Namun Aceh tidak harus menjadi Dubai, tidak mesti menyerupai Doha, dan tidak harus mengcopy Kuala Lumpur. 

Aceh harus menjadi dirinya sendiri.

Aceh harus belajar memadukan kearifan lokal yang sudah lama mengalir dalam nadinya, menjahitkan nilai-nilai Islam yang telah menjadi nafasnya, dan menyulam semangat modernitas yang terus menggoda. 

Sintesis ini bukan sekadar meniru, tetapi melahirkan sesuatu yang baru. 

Bukan hanya menyesuaikan diri, tetapi memimpin arah.

Nanti di tangan anak-anak Aceh yang berani bermimpi, yang cerdas dan teguh, yang mau berdialog dengan dunia tanpa kehilangan jati dirinya, masa depan Aceh akan terbuka. 

Sebuah masa depan di mana Aceh menjadi tanah yang maju, tetapi tetap berpijak pada akar budayanya. 

Menjadi Aceh yang tidak hanya bersinar, tetapi juga membanggakan hati para leluhurnya.

Dan mungkin si pemuda dari tanah Gayo itu, ia akan mengirim pesan baru:

“Yahwa, aku baru keluar dari salah satu masjid kecamatan Pantai Barat-Selatan Aceh. Tapi aku merasa seperti di Jumeirah, Dubai. Modern, hangat, dan Islami. Sepertinya, masa depan itu sudah mulai mampir ke sini.”

 

*) PENULIS adalah Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca artikel KUPI BEUNGOH lainnya di SINI.

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved