Meuseuraya Akbar 2025
Pidie Perkuat Identitas sebagai Pusat Peradaban Islam di Asia Tenggara
Kegiatan ini melahirkan tujuh rekomendasi sebagai terobosan untuk menyelamatkan peninggalan sejarah di Kabupaten Pidie.
Penulis: Muhammad Nazar | Editor: mufti
Kegiatan ini menjadi sorotan karena menampilkan proses nyata pemulihan situs sejarah, khususnya pemeliharaan batu nisan yang sarat nilai budaya dan keagamaan.
Acara tersebut didukung oleh Kementerian Kebudayaan dan LPDP melalui program Dana Indonesiana.
Warga yang hadir menyaksikan ajang pelestarian tradisi, yang menjadi ruang edukasi bagi masyarakat mengenai teknik dan prinsip konservasi benda cagar budaya, khususnya batu nisan bersejarah yang banyak ditemukan di Aceh.
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah I Aceh, Piet Rusdi, mengatakan bahwa kemampuan penanganan situs Islam di Aceh yang dilakukan Mapesa menjadi contoh dalam penanganan situs Islam di daerah lain di Indonesia.
Baca juga: Peneliti Tulisan Kuno Sebut Pidie sebagai Pusat Peradaban Islam Aceh, Ajak Meuseuraya di Cot Gunduek
Ketua Panitia, Iskandar Tungang, pada Kamis (29/5/2025) menyebutkan bahwa kegiatan tersebut dirancang sebagai bentuk edukasi publik sekaligus penghormatan terhadap situs makam leluhur.
Pada sesi utama, peserta diajak menyaksikan proses pembersihan, dokumentasi, hingga pelurusan posisi batu nisan yang dilakukan secara hati-hati dan sesuai kaidah arkeologi.
“Penanganan batu nisan kuno tidak bisa sembarangan. Kita harus memahami nilai sejarah, makna inskripsi, hingga cara terbaik merawatnya agar tetap utuh bagi generasi mendatang,” ujarnya.
Menurutnya, di Gampong Cot Geunduek terdapat sejumlah makam kuno yang diyakini berasal dari masa awal Islam abad 18 berkembang di wilayah Pidie.
Sebagian besar batu nisannya telah terkubur atau miring karena faktor usia dan alam, sehingga membutuhkan pemulihan secara profesional.
Anggota Mapesa, Hasan Basri, mengatakan bahwa kegiatan di Cot Geunduek dirangkaikan dengan kenduri jeurat, yaitu tradisi kenduri di makam, sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.
Kegiatan tersebut berlangsung dalam suasana khidmat. Panitia menyajikan delapan paket besar berupa kari daging sapi khas Pidie untuk masyarakat sekitar dan tamu yang hadir.
Baca juga: Meuseuraya Akbar 2025 Pidie, Serukan Kesadaran Baru terhadap Sejarah Aceh
Sejumlah pelajar dan mahasiswa dengan penuh konsentrasi mencatat dan berdiskusi dengan para penggiat sejarah mengenai teknik identifikasi batu nisan, penggunaan alat, hingga cara merekam data sejarah dari situs yang ditemukan.
“Kalau begini kondisi nisannya, tentu kita wajib mengangkatnya karena kalimat tauhid sudah tenggelam. Jika tidak kita angkat, maka berdosa kita karena kalimat tauhid terinjak-injak, padahal sejatinya kalimat itu harus kita tinggikan,” ungkapnya.
Untuk itu, kata Hasan, Mapesa berharap kegiatan seperti ini dapat diperluas ke daerah-daerah lain di Aceh yang kaya dengan situs makam Islam, sehingga mampu mendorong keterlibatan generasi muda dalam pelestarian sejarah.
“Kami ingin membuktikan bahwa pelestarian sejarah bukan sekadar wacana, melainkan tindakan nyata. Meuseuraya adalah panggung untuk memperlihatkannya kepada masyarakat luas,” jelasnya.
Pameran Meuseuraya Akbar 2025
Meuseuraya Akbar 2025
Pidie Pusat Peradaban Islam Aceh
Pusat Peradaban Islam Aceh
Asia Tenggara
Pusat Peradaban Islam di Asia Tenggara
| Mapesa Gelar Khanduri Jeurat di Pidie, Tradisi di Aceh yang Hampir Punah |
|
|---|
| MAPESA Peringatkan Warisan Sejarah Pidie Sedang Dijarah, Meuseuraya Akbar 2025 Jadi Tindakan Nyata |
|
|---|
| Libatkan 14 Tim Perumus, Meuseuraya Akbar Lahirkan Tujuh Rekomendasi dalam Duek Pakat |
|
|---|
| Mapesa Canangkan Desa Cot Geunduek sebagai Gampong Warisan Sejarah Aceh, ini Alasannya |
|
|---|
| Temuan Baru Mapesa Dalam Kompleks Pemakaman di Cot Geunduek, Ternyata Penguasa Pelabuhan di Pidie |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Pidie-Perkuat-Identitas-sebagai-Pusat-Peradaban-Islam-di-Asia-Tenggara.jpg)