Kupi Beungoh
Zebra Cross yang Tak Bertaji dan Trotoar yang Tak Bertuan
Berkali-kali pula pengendara roda dua dan roda empat hampir mengenai saya karena minimnya penerangan dan tidak adanya trotoar.
*) Oleh: Amalia Saumi
BEBERAPA hari lalu, saya mencoba berjalan kaki dari kampus ke sebuah warung kopi yang jaraknya tak sampai satu kilometer.
Bukan masalah besar, pikir saya—cuaca cerah, suasana kota relatif tenang.
Tapi dalam waktu kurang dari lima menit, saya sudah harus berjalan di atas tanah berdebu, menghindari kendaraan yang nyaris menyentuh siku, dan menahan napas dari asap knalpot yang mengepul di depan wajah saya.
Tentu itu bukan yang pertama kali saya alami. Saat berjalan kaki di malam hari pun, saya kadang hampir terjatuh karena gelap dan kondisi jalan yang tak memadai.
Berkali-kali pula pengendara roda dua dan roda empat hampir mengenai saya karena minimnya penerangan dan tidak adanya trotoar.
Pengalaman itu membuat saya bertanya: apakah Banda Aceh memang tidak dirancang untuk orang yang memilih berjalan kaki?
Padahal, berjalan kaki adalah aktivitas sederhana yang memberikan dampak luar biasa. Selain mudah dilakukan, berjalan kaki sangat baik bagi kesehatan tubuh.
Berbagai penelitian membuktikan bahwa berjalan kaki dapat menurunkan risiko penyakit jantung, hipertensi, diabetes tipe 2, hingga meningkatkan kualitas tidur dan kesehatan mental.
Bahkan menurut Kementerian Kesehatan RI, berjalan kaki selama 30 menit sehari mampu memperbaiki metabolisme tubuh dan memperkuat sistem kekebalan.
Lebih dari itu, berjalan kaki juga ramah lingkungan. Aktivitas ini tidak menghasilkan polusi, membantu mengurangi kemacetan, dan berkontribusi pada kualitas udara yang lebih sehat.
Bisa kita rasakan sendiri se-panas apa suasana Kota Madya ini di siang hari akibat kombinasi polusi dan minimnya ruang terbuka hijau.
Kota yang ramah pejalan kaki biasanya memiliki kualitas hidup lebih tinggi, angka kesehatan masyarakat yang lebih baik, dan interaksi sosial yang lebih aktif.
Namun di banyak sudut kota ini, keberadaan trotoar bisa dibilang langka, tak layak, atau malah tak ada sama sekali.
Bahkan ketika trotoar tersedia, sering kali justru digunakan untuk parkir motor, gerobak jualan, atau tumpukan material bangunan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Amalia-Saumi-Mahasiswi-S1-Komunikasi-dan-Penyiaran-Islam-UIN-Ar-Raniry.jpg)