Kupi Beungoh
Jakarta, Aceh, Singkil: Mangkir Bukan Sekadar Nama Pulau – Bagian 1
Empat nama yang selama puluhan tahun tak pernah jadi sengketa, tiba-tiba ‘dipindahkan’ ke Sumatera Utara oleh keputusan administratif yang sunyi
Dulu, wilayah Blok B yang kaya gas juga pernah dikelola secara tidak adil.
Kini wilayah maritim pun mulai digerogoti.
Jika pola seperti ini terus dibiarkan, maka kepercayaan Aceh terhadap pusat akan makin tiris.
Dan ketika kepercayaan itu habis, jangan salahkan siapa pun jika masyarakat mulai bertanya ulang tentang makna menjadi bagian dari republik.
Namun Aceh tidak mengancam.
Aceh hanya menuntut satu hal: keadilan.
Semua Mata Tertuju pada Prabowo
Kini semua mata tertuju pada Presiden baru, Prabowo Subianto.
Publik Aceh percaya, Prabowo tak perlu dinasihati soal pentingnya wilayah ini.
Ia tahu sendiri sejarah panjang Aceh dalam republik.
Ia tahu bahwa menjaga keutuhan NKRI bukan berarti menyeragamkan semua hal, tapi memberi ruang hidup yang adil bagi semua perbedaan.
Prabowo dikenal bukan sebagai politisi biasa.
Ia seorang militer yang mengerti geostrategi, tetapi juga memahami nilai politik simbolik. Pulau Mangkir bukan sekadar gugusan karang dan pasir--ia simbol dari apakah negara masih mengingat janjinya kepada daerah yang pernah terbakar perang.
Jika Prabowo membiarkan keputusan ini tetap berlaku, maka itu sinyal bahwa sentralisasi gaya baru masih akan terus hidup.
Tapi jika ia berani membatalkan atau mengkaji ulang keputusan ini, Aceh akan mengingatnya sebagai pemimpin yang tahu bagaimana menjaga martabat tanpa perlu dituntun.
Karena dalam diam dan sunyi, banyak rakyat Aceh hari ini merasa dijadikan uji coba.
Seakan negara hanya ingin tahu seberapa lama Aceh bisa diam saat wilayahnya dipreteli.
Seberapa sabar Aceh menghadapi pengabaian demi pengabaian.
Dan jika semua ini hanya eksperimen kekuasaan, maka jawabannya harus segera datang--dengan tindakan, bukan pidato.
Empat pulau itu memang kecil.
Tapi di dalamnya ada hak, sejarah, dan kepercayaan.
Bila negara mengabaikan semuanya hanya karena hitungan koordinat, maka ia sedang membuka jalan bagi gerogotan lain yang lebih besar.
Mangkir bukan hanya soal pulau--ia adalah refleksi dari negara yang mangkir dari rasa adil jika empat pulau bertukar baju provinsinya.
Dan ketika keadilan sudah tak lagi jadi dasar keputusan, maka wilayah sekecil apa pun bisa jadi medan perlawanan.
Sebab bagi Aceh, Mangkir bukan sekadar nama pulau. Ia kini adalah nama luka baru di tubuh perdamaian yang belum selesai. (Bersambung)
*) PENULIS adalah Sosiolog, Guru Besar Universitas Syiah Kuala.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca artikel KUPI BEUNGOH lainnya di SINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/humam-hamid-sosiolog-aceh-4.jpg)