KUPI BEUNGOH

Perang Israel–Iran: Apa Beda Arab dan Persia?

Perang antara Israel dan Iran yang dulu hanya berupa bayang-bayang kini sudah berubah menjadi perang terbuka. 

Editor: Yocerizal
YouTube Serambinews
Prof Ahmad Humam Hamid, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. 

Oleh: Ahmad Humam Hamid *)

PERANG antara Israel dan Iran yang dulu hanya berupa bayang-bayang kini sudah berubah menjadi perang terbuka. 

Semua dimulai ketika Israel menyerang fasilitas nuklir Iran. Iran membalas. Rudal dan drone beterbangan di langit. Kota-kota seperti Tel Aviv dan Haifa jadi sasaran. 

Dan meski sistem pertahanan Israel seperti Iron Dome masih bekerja, tapi kerusakan dan ketegangan sudah menyebar ke seluruh kawasan. 

Dunia menahan napas, karena untuk pertama kalinya dua musuh besar ini saling menyerang secara langsung dalam skala penuh.

Tapi perang ini bukan sekadar soal misil dan bom. Ini cerita panjang tentang sejarah, luka lama, dan siapa yang masih mau berjuang. 

Kita harus ingat kembali Perang Enam Hari pada 1967. Saat itu, negara-negara Arab bersekutu melawan Israel. Tapi justru mereka yang kalah telak. 

Mesir kehilangan Sinai, Suriah kehilangan Dataran Tinggi Golan, dan Yordania kehilangan Yerusalem Timur. 

Kekalahan itu bukan hanya militer, tapi juga simbolik. Kekalahan itu meninggalkan trauma dan pesimisme di banyak negara Arab. 

Sejak saat itu, banyak pemimpin Arab memilih mundur dari jalan perlawanan dan lebih memilih berdamai. Sebagian karena tekanan Amerika, sebagian karena ingin menjaga kekuasaan mereka sendiri.

Baca juga: Sosok Kuok Khoon Hong Pemilik Wilmar Group, Kembalikan Dana Rp 11,8 T Hasil Korupsi CPO

Baca juga: Rudal Iran Gampur Sejumlah Wilayah di Israel, 50-an Warga Zionis Terkena Serangan, 1 Gedung Roboh

Di tengah suasana itu, Iran justru mengambil jalan berbeda. Meskipun bukan negara Arab, Iran berdiri membela Palestina. 

Bukan hanya dengan kata-kata, tapi juga dengan senjata, pelatihan, dan logistik. Iran mendukung Hamas di Gaza, Hizbullah di Libanon Selatan, kelompok Houthi di Yaman, bahkan milisi di Irak dan Suriah. 

Inilah yang disebut “poros perlawanan”, kekuatan-kekuatan yang tetap memilih melawan Israel ketika negara-negara Arab sudah memilih diam atau berdamai. 

Iran melihat dirinya sebagai benteng terakhir dalam perlawanan terhadap zionisme, dan mengklaim tidak ada motif sektarian di balik dukungannya. Namun demikian  dunia tahu, Iran juga memainkan “kartu Syiah".

Amerika punya peran penting di sini. Sejak 2020, lewat perjanjian Abraham, AS mendorong negara-negara Arab seperti Uni Emirat Arab, Bahrain, Maroko, dan Sudan untuk menjalin hubungan resmi dengan Israel. Bahkan Arab Saudi juga hampir ikut. 

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved