Konflik Iran vs Israel

Bahaya Jika Iran Tutup Selat Hormuz, Ini Dampak yang Dirasakan Indonesia, AS Hingga China

Pasalnya China merupakan pelanggan minyak terpenting Iran dan memelihara hubungan persahabatan dengan Republik Islam tersebut.

Editor: Faisal Zamzami
Tangkapan layar
SELAT HORMUZ - Peta Selat Hormuz. Amerika Serikat menyerukan China agar mencegah Iran menutup Selat Hormuz, jalur vital 20 persen pasokan minyak dunia. Ketegangan meningkat usai serangan udara AS ke Iran. 

 Karenanya, Bertu meminta pemerintah mengantisipasi beban anggaran yang ditimbulkan akibat naiknya harga minyak dunia.

"Kenaikan harga minyak dunia sudah pasti akan menambah beban berat APBN kita, terutama untuk pos subsidi BBM. Kami berharap pemerintah segera melakukan langkah antisipasi agar dampak perang Timur Tengah tidak kian melambatkan pertumbuhan ekonomi yang memang sudah melambat akhir-akhir ini," ujar Bertu.

Di samping itu, ia meminta kementerian/lembaga terkait untuk segera berkoordinasi dalam merumuskan langkah mitigasi dampak konflik antara Iran, Israel, dan AS.

"Pemerintah harus segera bergerak untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat yang dikuatirkan akan menerima dampak dari adanya perang tersebut. Kami minta masyarakat khususnya pelaku usaha kecil dan menengah diberikan pelatihan untuk berdaya dikala berada di situasi seperti ini," ujar Bertu.

Baca juga: Kutuk Serangan AS ke Iran, China Disebut Tempuh Jalur Diplomatik Imbas Ancaman Tutup Selat Hormuz

Indonesia Akan Kena Dampak

Analis geopolitik dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Dina Sulaeman menilai, potensi penutupan Selat Hormuz bakal berdampak pada kenaikan harga barang di Indonesia.

Adapun Selat Hormuz merupakan jalur distribusi strategis pasokan minyak global. Lebih dari 20 juta barel minyak atau setara dengan 20 persen konsumsi minyak dunia melewati selat itu setiap hari.

"Kalau (Selat Hormuz) benar-benar ditutup, ya dampaknya pasti besar dari sisi ekonomi. Dan semua akan kena termasuk kita Indonesia, karena ketika harga minyak naik, harga gas naik, ya pastilah merembet ke mana-mana," ujar Dina saat dihubungi Kompas.com, Senin (23/6/2025).

Ia tidak memungkiri, kenaikan harga sejumlah komoditas akan membuat daya beli masyarakat menurun. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi akan melambat, dari yang ditargetkan pemerintah.

"Ya (pertumbuhan melambat karena daya beli menurun). Harga-harga semuanya juga akan naik dan perekonomian kita di Indonesia akan semakin sulit," ujar Dina.

Diketahui, eskalasi antara Amerika Serikat, Iran, dengan Israel meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir setelah AS melancarkan serangan udara terhadap sejumlah target militer Iran.

Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa pasukan militer negaranya telah menghancurkan tiga fasilitas nuklir utama Iran, yakni Isfahan, Natanz, dan Fordow.

Baca juga: UNIGHA Gelar FGD Implementasi Statuta: Bahas Strategi Merger Fakultas

Baca juga: Ternyata Donald Trump dan Putin Sudah Bahas Teheran, Rusia Tegaskan Posisi: Apa yang Dibutukan Iran

Baca juga: Ini Prakiraan Cuaca Sebagian Aceh Besok Hingga Kamis, 26 Juni 2025

 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved