Kupi Beungoh
Krisis Arah dan Manajemen SDM dalam Organisasi Pendidikan
Analisa jabatan bukan sekadar administrasi, melainkan fondasi bagi penempatan SDM sesuai kompetensi, pengembangan karier, hingga evaluasi kinerja.
*) Dr. Aishah, M.Pd
DI TENGAH semangat perubahan dan tuntutan zaman, dunia pendidikan Indonesia justru kian menunjukkan gejala kehilangan arah.
Lagu “Mangu” yang saya dengarkan hari ini, dari kata-kata nya “Gila, tak masuk logika, Termangu hatiku” seolah menjadi pengingat getir, ‘ ada sesuatu yang sudah sepertinya melenceng jauh dari kiblat ideal pendidikan.’
Bagaimana pendidikan yang kini kita rasakan ketika kita berada di lingkungan Pendidikan, perasaan absurditas kah yang terjadi, bukan hanya pada kebijakan, tetapi juga pada tata kelola organisasi.
Salah satunya adalah Analisa jabatan yang merupakan hal penting dalam kedinasan sebagai hak pegawai seperti terabaikan.
Seharusnya, setiap pegawai yang masuk ke dalam organisasi pendidikan berhak mendapatkan analisa jabatan yang jelas.
Analisa jabatan bukan sekadar administrasi, melainkan fondasi bagi penempatan SDM sesuai kompetensi, pengembangan karier, hingga evaluasi kinerja.
Namun, realitasnya, proses ini kerap diabaikan. Banyak pejabat di organisasi pendidikan tidak pernah melakukan analisa jabatan secara serius.
Akibatnya, pegawai yang memiliki kemampuan dan pengalaman justru tidak difungsikan secara optimal. Mereka hanya menjadi “pengisi kursi”, bukan penggerak perubahan.
Komunikasipun di dalam organisasi mandek. Komunikasi internal yang sehat adalah prasyarat utama bagi organisasi pendidikan yang dinamis.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya, komunikasi yang buruk, minim transparansi, dan tidak ada ruang diskusi.
Pegawai yang kritis atau punya gagasan segar dianggap ancaman, bukan aset. Tidak heran, banyak SDM kompeten memilih walk out, meninggalkan organisasi yang tidak memberi ruang bagi pertumbuhan dan kontribusi nyata.
Fenomena ini bukan hanya terjadi di satu kota atau satu instansi. Studi oleh Gallup (2023) menunjukkan bahwa 67 persen pegawai yang keluar dari organisasi pendidikan di Asia Tenggara menyebut “tidak difungsikan sesuai kompetensi” dan “minimnya komunikasi efektif” sebagai alasan utama resign.
Di Indonesia, data Kemendikbudristek (2022) juga menunjukkan tingginya angka mutasi dan pengunduran diri di lingkungan dinas pendidikan daerah, terutama di kota-kota besar.
Di sisi lain, riset McKinsey (2021) menegaskan bahwa organisasi yang tidak melakukan analisa jabatan secara rutin berisiko kehilangan hingga 40 % talenta terbaiknya dalam lima tahun.
| Traffic Light dan Karakter Kita: Renungan Umur Manusia |
|
|---|
| Peusijuk: Dari Warisan Budaya ke Katalisator Pendidikan |
|
|---|
| Rektor UIN Ar-Raniry Idaman: Mengembalikan Hakikat Jantong Hate |
|
|---|
| Rumah Sakit Iskandar Muda: Warisan Medis Belanda yang Lestari di Kutaraja |
|
|---|
| Ismail Rasyid: Pengusaha Merangkap Ilmuwan dari Aceh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Pegawai-di-Dinas-Pendidikan-dan-Kebudayaan-Kota-Banda-Aceh-Dr-Aishah-MPd.jpg)