Selasa, 21 April 2026

Kupi Beungoh

Krisis Arah dan Manajemen SDM dalam Organisasi Pendidikan

Analisa jabatan bukan sekadar administrasi, melainkan fondasi bagi penempatan SDM sesuai kompetensi, pengembangan karier, hingga evaluasi kinerja.

Editor: Agus Ramadhan
FOR SERAMBINEWS.COM
Dr Aishah MPd. 

Mereka yang bertahan pun cenderung mengalami penurunan motivasi, produktivitas, dan loyalitas.

Mari kita bandingkan dengan organisasi pendidikan progresif.

Sebagai pembanding, organisasi pendidikan di negara-negara Skandinavia secara rutin melakukan analisa jabatan, mengadakan forum komunikasi terbuka, dan menempatkan SDM sesuai keahlian. 

Hasilnya, tingkat kepuasan kerja dan retensi pegawai di atas 85 % . Mereka yang kompeten justru didorong untuk mengambil peran strategis, bukan diparkir di sudut organisasi.

Organisasi pendidikan yang gagal membangun sistem analisa jabatan, mengabaikan komunikasi, dan menyingkirkan SDM kompeten sesungguhnya sedang menggali kuburannya sendiri.

Tidak hanya kehilangan talenta, tapi juga kehilangan arah, makna, dan kepercayaan publik.

Sudah saatnya organisasi pendidikan berbenah, mengembalikan logika, menegakkan hak pegawai, dan membuka ruang bagi mereka yang mampu membawa perubahan.

Di dalam organisasi tersebut, realitas yang terjadi semakin ironis,  hanya segelintir orang yang benar-benar berperan dan memegang kendali.

Mereka menjadi pusat pengambilan keputusan, penentu arah, sekaligus aktor utama dalam setiap kebijakan.

Sementara itu, sebagian besar pegawai lain hanya menjadi “pelengkap aktor utama atau stuntman”, hadir secara fisik, tetapi tidak pernah dilibatkan dalam proses berpikir strategis maupun pelaksanaan program yang bermakna.

Fenomena ini menciptakan hierarki semu, di mana partisipasi dan inisiatif pegawai nyaris mati.

Mereka yang berpotensi dan punya kompetensi akhirnya memilih diam, menahan ide, atau bahkan keluar dari sistem.

Organisasi pun kehilangan energi segar, inovasi, dan semangat kolektif yang seharusnya menjadi kekuatan utama dalam menghadapi tantangan pendidikan masa kini.

Lebih parah lagi, keputusan-keputusan penting sering kali diambil secara sepihak, tanpa mendengar masukan dari pegawai yang sebenarnya lebih memahami persoalan di lapangan.

Akibatnya, kebijakan yang dihasilkan sering tidak relevan, tidak efektif, dan gagal menjawab kebutuhan riil pendidikan.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved