Rabu, 6 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Bubur Asyura, Tradisi Masyarakat Aceh di Bulan Muharam

Bubur Asyura bukan sekadar makanan. Ia adalah simbol. Simbol persaudaraan, kekeluargaan, dan juga penghormatan terhadap peristiwa sejarah.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: mufti
IST
Cut Novrita Rizki, S. Pd., M. Sc.., Dosen Tadris Biologi Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Aceh, melaporkan dari Banda Aceh 

Setelah matang, bubur dibagi dalam mangkuk-mangkuk atau bungkus daun pisang, lalu dibagikan ke tetangga dan anak-anak yatim. Ada kebahagiaan sederhana saat melihat senyum mereka yang menerima. Tradisi ini juga jadi sarana berbagi rezeki dan memperkuat silaturahmi antarwarga, di luar perbedaan status sosial.

Bubur Asura memiliki citarasa khas, manis, gurih dengan sedikit aroma jahe dan pandan. Namun, lebih dari rasa, yang paling melekat adalah kenangan tentang bagaimana semua orang terlibat. Tak ada yang merasa asing, semua bagian dari satu keluarga besar.

Kini, meskipun zaman telah banyak berubah, tradisi ini tetap dijaga oleh sebagian besar masyarakat Aceh. Bahkan, di kota-kota besar seperti Banda Aceh, bubur Asyura masih dimasak di masjid, meunasah, atau komunitas, biasanya disertai ceramah singkat tentang makna 10 Muharam atau dikenal juga sebagai Hari Asyura.

Beberapa kalangan muda mulai mendokumentasikan proses ini lewat media sosial, sebagai bentuk pelestarian budaya. Mereka sadar, jika tidak diwariskan dan diperkenalkan, bisa jadi generasi berikutnya hanya mengenal nama tanpa rasa, tradisi tanpa makna.

Yang membanggakan, meski tak lagi semasif dulu, semangat kebersamaan itu belum pudar. Bubur Asyura mengajarkan kita bahwa tradisi bisa jadi media dakwah yang lembut, ia menyentuh hati lewat rasa dan kebersamaan, bukan lewat kata-kata keras, apalagi indoktrinasi.

Sebagai orang Aceh, saya merasa beruntung tumbuh dalam tradisi ini. Di tengah gempuran modernitas dan budaya instan, bubur Asyura adalah pengingat bahwa kebaikan bisa hadir dalam hal paling sederhana. Semangkuk bubur, semangat gotong royong, dan doa-doa yang mengalir dari hati yang ikhlas.

Tradisi ini tak butuh panggung besar. Cukup ada api yang menyala, wajan yang mendidih, dan hati yang tulus ingin berbagi. Karena sesungguhnya, di sanalah letak kekuatan warisan budaya Aceh: tidak hanya pada apa yang dibuat, tapi bagaimana itu diwariskan dengan cinta.

Tradisi tentu bukanlah kewajiban agama yang harus dijalankan, tetapi ia menjadi bagian dari cara masyarakat menjaga identitas dan harmoni sosial. Masyarakat Aceh telah membuktikan bahwa menjaga tradisi tidak harus berarti menutup diri dari perkembangan zaman, justru sebaliknya, nilai-nilai dalam tradisi bisa menjadi penguat dalam menghadapi tantangan modernitas.

Karena itu, menjaga tradisi seperti bubur Asyura bukan berarti memaksakan budaya harus seragam, melainkan menjaga ruang bersama, tempat nilai-nilai persatuan, gotong royong, dan kepedulian tumbuh subur. Inilah warisan budaya yang tak ternilai: bukan sekadar resep, melainkan semangat hidup bersama yang patut kita jaga.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved