Pojok Humam Hamid
Dana Otsus: Apa Beda “Penyakit Belanda” dan “Penyakit Aceh”?
Seperti Belanda Aceh pun menunjukkan gejala klasik negara, dalam hal ini, daerah, yang terlalu cepat menerima uang dalam jumlah besar tanpa...
Proyek disalurkan bukan ke tempat yang paling membutuhkan, tapi ke tempat yang paling menguntungkan secara keuangan dan politik.
Maka, dari mana pun uang itu datang, dampaknya tidak jauh berbeda.
Alih-alih memperkuat fondasi masa depan, ia malah mempertebal ilusi stabilitas.
Beda Belanda Beda Aceh
Jika Belanda berhasil mengoreksi diri--menghentikan eksplorasi gas, menyusun ulang kebijakan industrinya, bahkan mulai memimpin dalam ekonomi hijau--Aceh belum sampai ke titik refleksi itu.
Yang terjadi justru pengulangan.
Tahun-tahun terakhir Dana Otsus yang seharusnya menjadi masa transisi menuju kemandirian fiskal malah menjadi pesta terakhir sebelum dana habis.
Sementara elite sibuk memperpanjang warisan kekuasaan, birokrasi disibukkan dengan menghabiskan anggaran.
Kita terlalu lama mengira bahwa perdamaian adalah garis akhir.
Bahwa setelah MoU Helsinki, segalanya akan berjalan dengan sendirinya.
Bahwa uang adalah solusi dari luka sejarah.
Tapi sejarah selalu menuntut lebih dari sekadar absennya konflik.
Perdamaian tanpa keadilan, tanpa arah, tanpa gagasan, hanyalah jeda.
Ia bisa berubah menjadi stagnasi, lalu frustrasi.
Dan inilah titik krusial yang kita hadapi sekarang.
Aceh tidak hanya sedang sakit secara ekonomi.
| Revisi Narasi Sejarah Aceh dari Hanya Perang dan Ulama: Saudagar Habib Bugak |
|
|---|
| Qurban Sosial: Mampukah Aceh Melepaskan Hambatan Kemajuan |
|
|---|
| Membaca Indonesia Hari Ini: Chairul Tanjung, Purbaya, dan Presiden Prabowo |
|
|---|
| Dolar Naik: Neraca Untung-Rugi Masyarakat Kawasan Pedesaan Kita |
|
|---|
| Prabowo dan The Economist: Indonesia dan Siklus Optimisme - Kewaspadaan Versi Media Internasional |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Ahmad-Humam-Hamid-perang-tarif.jpg)