Kupi Beungoh

Bukan Cuma Remaja: trend S-Line dan Mereka yang Sudah Menikah Tapi Masih FOMO Pamer Aib

Tren ini berasal dari drama Korea berjudul S-Line, adaptasi dari Webtoon populer yang mengisahkan seorang siswi SMA dengan kemampuan melihat garis

Editor: Amirullah
dok pribadi
Siti Nurramadani, Mahasiswi Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Ar-Raniry 

Oleh: Siti Nurramadani 

Yang lagi ramai di media sosial saat ini adalah tren “S-Line” sebuah fenomena digital yang memperlihatkan jumlah pengalaman seksual seseorang dengan menggambar garis-garis merah di atas kepala mereka. 

Tren ini berasal dari drama Korea berjudul S-Line, adaptasi dari Webtoon populer yang mengisahkan seorang siswi SMA dengan kemampuan melihat garis merah yang menghubungkan dua orang yang pernah berhubungan seksual. 

TikTok @username, 2025 & Instagram @akunviral, 2025.

Dari fiksi, tren ini menjalar ke dunia nyata lewat TikTok dan Instagram, menjadi konten viral yang mengundang beragam reaksi.

Mirisnya, tren ini tidak hanya diikuti remaja. Mereka yang sudah dewasa, bahkan sudah menikah, juga ikut memamerkan “jumlah garis” dengan bangga. Ada yang menyebutnya candaan. Tapi ketika candaan menyentuh wilayah kehormatan diri dan martabat, bisakah kita tetap menganggapnya lucu?

Netizen pun terbelah. Ada yang melihatnya sebagai ekspresi bebas, tapi tak sedikit pula yang merasa ini sebagai bentuk normalisasi zina dan kebanggaan atas aib pribadi. 

Jika garis merah di atas kepala kini dianggap keren, lalu apa yang tersisa dari rasa malu dan nilai-nilai yang dulu dijunjung tinggi?

Baca juga: Link Nonton Drakor S Line, Drama yang Lagi Viral di Tiktok, Ini Spoiler Drakor S-Line Episode 3-4

Ketika Hiburan Melunturkan Nilai

“Cuma hiburan kok, nggak usah baper.” Begitu pembelaan paling umum dari mereka yang mengikuti tren “S-Line”. Tapi benarkah semua yang viral bisa dibenarkan atas nama hiburan? Di balik garis merah yang dianggap lucu itu, ada pesan yang jauh lebih dalam: bahwa pengalaman seksual kini bisa dijadikan bahan konten, dinormalisasi, bahkan dipamerkan layaknya pencapaian. 

Lebih menyedihkan lagi, yang ikut-ikutan bukan cuma remaja yang belum paham batas, tapi juga mereka yang sudah menikah yang seharusnya lebih bijak dalam memilah mana ranah privat, mana yang layak konsumsi publik.

Ketika hiburan tak lagi punya batas, nilai-nilai ikut dikorbankan. Masyarakat mulai menertawakan hal-hal yang dulu dianggap aib. Budaya malu terkikis, digantikan oleh kebanggaan semu demi validasi sosial. 

Padahal, kalau yang dibanggakan adalah sejarah seksual, bukan lagi integritas atau akhlak, maka arah kompas moral bangsa sedang melenceng jauh. Kita harus bertanya: apa yang sebenarnya sedang kita rayakan?

Kalau semua demi konten, lalu siapa yang menjaga nilai? Kalau yang sudah menikah pun ikut “pamer dosa”, bagaimana generasi di bawahnya bisa diajarkan makna kehormatan?

FOMO Jadi Dalih, Aib Jadi Brand Pribadi 

Di balik tren S-Line, ada dorongan psikologis yang lebih dalam dari sekadar ikut-ikutan: FOMO Fear of Missing Out. Banyak Gen Z dan dewasa muda merasa wajib tampil relevan, update, dan nyambung dengan arus digital. 

Dalam dunia yang serba cepat ini, ketertinggalan informasi seolah membuat seseorang tak lagi “ada”. Maka, tren apa pun meski mempertaruhkan privasi atau martabat tetap dilakukan demi satu hal: diakui.

Di sinilah masalahnya. Ketika rasa takut ketinggalan dikemas dalam bentuk konten, batas antara hiburan dan harga diri jadi kabur. 

Orang mulai menjadikan aib sebagai “personal brand”. Mereka bangga menertawakan masa lalu kelamnya, seolah itu nilai jual yang sah. Padahal yang ditukar adalah integritas.

Fenomena ini menunjukkan bahwa eksistensi di dunia maya kini jauh lebih diprioritaskan dibandingkan penghargaan terhadap diri sendiri. 

Yang penting viral, bukan benar. Yang penting dapat like, bukan layak dihormati. Ini bukan hanya soal mentalitas generasi, tapi juga peringatan bahwa kita tengah menciptakan budaya di mana martabat bisa dikompromikan demi beberapa detik sorotan.

Baca juga: Arti Trend S Line Garis Merah di Atas Kepala yang Lagi Viral di Media Sosial, Ini Asal-Usulnya

Garis Merah di Atas Kepala: Tentang Bangga Berzina, Tapi Dibungkus Aplikasi 

Apa jadinya jika zina tak lagi dianggap salah, tapi justru dijadikan tren visual? Itulah yang sedang terjadi lewat fenomena S-Line: garis merah di atas kepala sebagai simbol koneksi seksual. 

Awalnya hanya fiksi dalam drama Korea, kini berubah jadi realita yang “dijual” di TikTok dan Instagram. Mereka menggambarkan seberapa banyak pengalaman seksual seseorang dengan bangga bukan lewat pengakuan, tapi melalui efek digital yang dinormalisasi.

Yang lebih miris, ini bukan terjadi di ruang tertutup, tapi di platform publik. Di layar gawai kita, anak-anak, remaja, hingga orang dewasa disuguhi konten pamer aib, dibungkus sebagai tren. Di balik candaan “seru-seruan aja”, terselip pesan bahwa dosa bisa jadi estetika. Bahwa kenakalan seksual bisa jadi konten viral.

Tak ada lagi batas antara nilai dan noise. Aplikasi yang dulunya alat ekspresi, kini bisa jadi jembatan menuju penyimpangan yang dilegitimasi. 

Sebuah pergeseran nilai yang diam-diam berbahaya. Bukan cuma soal moral, ini tentang bagaimana masyarakat mulai tersesat dalam “hiburan” dan lupa bahwa beberapa hal memang seharusnya disimpan, bukan dipamerkan.

Konten Boleh Bebas, Tapi Nilai Tetap Punya Batas

Di era ketika semua bisa jadi konten, kita dihadapkan pada dilema: sampai di mana batas ekspresi itu layak, dan kapan ia berubah jadi degradasi? Tren S-Line mungkin terlihat seperti hiburan sesaat. 

Tapi saat tubuh dan pengalaman pribadi dipamerkan demi like dan validasi, apa yang sebenarnya sedang kita perjuangkan?

Kita hidup di zaman yang menuntut eksistensi. Tapi eksistensi tak seharusnya meniadakan esensi. Kebebasan berekspresi bukan berarti bebas dari nilai. 

Ada garis tak kasat mata yang membedakan antara keberanian menyuarakan diri dan keberanian memamerkan yang seharusnya dijaga.

Ingat, tidak semua hal yang bisa dilakukan, layak untuk dilakukan. Tak semua yang viral itu benar. Dan tak semua yang terlihat keren hari ini akan membanggakan di masa depan. 

Saat semua serba bisa, justru kita diuji: apakah kita mampu berkata cukup, saat dunia meminta lebih?

Jangan Biarkan Dosa Jadi Estetik: Saatnya Kita Bicara

Di balik tren yang tampak ringan, tersimpan konsekuensi yang tak bisa diremehkan. 

Kita hidup di era yang menjadikan visual sebagai identitas, dan terkadang dosa pun bisa dikemas dalam estetika. Tapi harusnya, dosa tak pernah menjadi tren. Apalagi dijadikan konten.

Kita semua punya masa lalu. Kita semua pernah salah. Tapi menjadikan kesalahan sebagai kebanggaan, lalu memviralkannya demi validasi? Itu bukan bentuk ekspresi, itu adalah pengabaian terhadap harga diri.

Jangan tunggu generasi ini kehilangan malu baru kita bicara. Saatnya semua kalangan remaja, dewasa muda, bahkan mereka yang sudah menikah berhenti sejenak. 

Tanyakan kembali: siapa yang kita perjuangkan dengan semua ini? Untuk apa kita terlihat keren, jika caranya adalah dengan menggadaikan marwah diri?

Bukan soal takut dilihat orang. Tapi soal sadar bahwa diri ini layak dijaga, karena nilai tak bisa dibeli dengan tren. Kita bisa jadi keren, tanpa kehilangan arah.

 

Penulis adalah Mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Ar-raniry, email: siti.nurramadani1703@gmail.com

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca artikel KUPI BEUNGOH lainnya di SINI

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved