Kupi Beungoh
Dekonstruksi Kesombongan Manusia: Refleksi Kritis Ekoteologi
Refleksi kritis ekoteologi hadir untuk membongkar cara pandang manusia yang antroposentris
Oleh: Fadhlur Rahman
Di tengah krisis ekologis global, muncul kesadaran bahwa kesombongan manusia dalam memperlakukan alam telah membawa dampak yang merusak bagi kehidupan.
Refleksi kritis ekoteologi hadir untuk membongkar cara pandang manusia yang antroposentris, sekaligus mengajak pada sikap kerendahan hati dalam memperlakukan seluruh ciptaan.
Oleh karena itu, tulisan ini berupaya menghadirkan sebuah refleksi kritis atas wacana ekoteologi, dengan menempatkan pembahasan secara khusus dalam konteks Indonesia kontemporer, terutama dalam menekankan pentingnya ekologi spiritual.
Dengan berlandaskan arah kebijakan nasional ini, melalui Menteri Agama (Prof Nasaruddin Umar), artikel ini berargumen bahwa keterlibatan mendalam dengan ekoteologi bukanlah sekadar latihan intelektual, melainkan jalur krusial untuk memulihkan identitas manusia, sebagai makhluk, yang autentik dan rendah hati.
Semakin dalam seseorang menyelami refleksi ekoteologis, maka akan semakin tumbuh kesadaran akan kerendahan hati yang mendasar dalam pandangan tentang manusia.
Manusia tidak lagi menempatkan dirinya sebagai pusat segala sesuatu, melainkan sebagai bagian dari ekosistem ciptaan Tuhan.
Ekoteologi menunjukkan betapa eratnya hubungan timbal balik antara manusia dengan seluruh makhluk hidup.
Baca juga: Sah! Persiraja Pertahankan Akhyar Ilyas Sebagai Pelatih Kepala, Latihan Pekan Depan
Dari sini lah muncul interpretasi pemahaman bahwa manusia memiliki tanggung jawab moral untuk merawat dan menjaga kelestarian seluruh ciptaan Tuhan.
Martin Heidegger, meskipun bukan seorang teolog, mampu menangkap esensi ini ketika menyatakan:
“Manusia bukanlah tuan atas makhluk-makhluk. Manusia adalah gembala dari Keberadaan” (Letter on Humanism, 2023).
Lebih lanjut, mengacu kepada visi ekologi yang tertanam dalam narasi teologis dan antaragama Indonesia serta seperti yang tercermin dalam ungkapan oleh Kementerian Agama argumen dari tulisan ini ingin menggarisbawahi bahwa ekoteologi tidak terbatas pada abstraksi teoretis.
Sebaliknya, ia mewakili kerangka kerja eksistensial dan etis yang transformatif, mampu menjembatani kesadaran spiritual dan tanggung jawab ekologi dalam masyarakat pluralistik seperti yang ada di Indonesia (Nusantara).
Manusia diciptakan sesuai dengan gambaran Tuhan (yaitu sebagai hamba/makhluk), manusia tidak diciptakan untuk menguasai bumi, tetapi untuk merawat bumi sebagaimana Tuhan telah melakukannya berulang-ulang.
Dengan demikian, kesadaran ekoteologi tidak mengangkat manusia ke posisi yang lebih tinggi, melainkan mengembalikannya ke asal-usulnya yang rendah hati: bergantung pada bumi, terbentuk dari tanah dan air yang hina, dan ditakdirkan untuk kembali kepada-Nya.
Baca juga: Harga HP iPhone 15 Plus Diperkirakan Anjlok di Akhir Juli 2025, Speknya Masih Worth It
| 24 Tahun Aceh Tamiang : Negeri yang Ditempa untuk Menjadi Besar |
|
|---|
| Hegemoni Energi AS dan Dilema China di Balik Penangkapan Maduro dan Serangan ke Iran |
|
|---|
| Membaca Strategi Pakistan Sebagai Mediator yang Lahir di Tengah Badai Krisis |
|
|---|
| Carut Marut Kabel Optik dan Wajah Kota Banda Aceh |
|
|---|
| Merindukan Calon Rektor UIN Ar-Raniry Bervisi Internasional |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Fadhlur-Rahman-Dosen-UIN-SUNA-Sultanah-Nasrasiyah-Lhokseumawe.jpg)