Kupi Beungoh
Dekonstruksi Kesombongan Manusia: Refleksi Kritis Ekoteologi
Refleksi kritis ekoteologi hadir untuk membongkar cara pandang manusia yang antroposentris
Oleh karena itu, tujuan sejati ekoteologi bukanlah kepuasan diri melalui kemutakhiran atau hanya sebatas masturbasi intelektual, melainkan ini merupakan sebuah reformasi eksistensial kembali kepada kerendahan hati, tanggung jawab, dan relasionalitas (ke sesama makhluk).
Ini merupakan sebuah “movement” keterlibatan yang sebenar-benarnya, dengan ekoteologi menghancurkan ilusi supremasi manusia dan mengembalikan kemanusiaan pada identitas autentiknya sebagai bagian dari, bukan terpisah dari, penciptaan.
Jauh dari sekadar merasakan kenikmatan dalam proses berpikir, ekoteologi, lebih jauh, mengajak pada pergeseran radikal dalam diri manusia: dari penakluk menjadi penjaga, dari makhluk yang terasing menjadi makhluk yang terintegrasi.
Oleh karena itu, dalam "movement" ekoteologi ini, manusia dapat belajar untuk melihat dirinya sebagai makhluk biasa, tanpa merasa lebih unggul dari ciptaan lain.
Sikap rendah hati menjadi kunci utama. Justru melalui kerendahan hati itulah, manusia dapat menemukan kembali jati diri dan kemanusiaannya yang sejati.
References:
Heidegger, M. (2023). Letter on “Humanism”. Psyhology & society, (2), 51-74.
Penulis adalah Dosen UIN SUNA -Sultanah Nasrasiyah Lhokseumawe.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca artikel KUPI BEUNGOH lainnya di SINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Fadhlur-Rahman-Dosen-UIN-SUNA-Sultanah-Nasrasiyah-Lhokseumawe.jpg)