Pojok Humam Hamid
Serial MSAKA21: Membaca Sejarah Aceh dengan Kacamata Abad ke-21 – Bagian 1
Tulisan yang berpenampilan serial ini saya beri judul “Membaca Sejarah Aceh dengan Kacamata Abad ke-21”, selanjutnya disingkat MSAKA21.
Jika gen Z merasa bosan membaca sejarah, jangan salahkan mereka.
Mungkin sejarah yang mereka baca memang membosankan, karena ia ditulis untuk mematikan imajinasi, bukan membangkitkannya.
Panggung Global
Sebelum Aceh bernama Aceh, wilayah ini sudah menjadi panggung global.
Fansur di Singkil bukan fiksi.
Ia disebut dalam catatan Arab, Yunani, dan Tionghoa sebagai tempat di mana kayu, rempah, dan manusia bertemu dalam sistem dagang yang lebih tua dari VOC.
Perlak bukan hanya kerajaan kecil.
Ia adalah laboratorium sosial tempat Islam, adat, dan dagang bersintesis.
Samudra Pasai bukan sekadar kerajaan Islam pertama di Nusantara, tetapi mungkin juga pusat intelektual yang menghubungkan Gujarat dan Melaka.
Tapi siapa yang mencatat ini dalam buku pelajaran sejarah?
Ketika Aceh menjadi kekuatan maritim di abad ke-16, itu bukan karena ia kuat, tapi karena ia tahu bagaimana bertahan di tengah kekacauan.
Sultan Iskandar Muda membangun negara bukan dari mimpi besar, tetapi dari pembacaan jeli terhadap ancaman global.
Portugis yang menguasai Melaka, Johor yang tak jelas, dan para pedagang Portugis yang membawa injil dalam peti rempah adalah ancaman lama berkelanjutan yang berubah bentuk semenjak masa Sultan Ali Mughayatsyah.
Karena itulah Iskandar Muda berperang.
Ia berperang karena Islam, karena ingin menjadikan Aceh sebagai pusat perdangan antar bangsa, dan karenanya, Aceh harus menjadi penguasa tunggal Selat Malaka
Tapi ingat, kekuasaan bukanlah cermin keagungan semata.
| Irwandi, Mualem, dan “Peunutoh”: “JKA Bandum” vs “JKA Kudok” - Akankah Lahir Paradoks Kebijakan? |
|
|---|
| MDCP Prabowo dan Trump: Kenapa Kita Harus Tahu? |
|
|---|
| Makar atau Tak Nyaman? Membaca Mujani, Amsari, Fahri Hamzah, dan Mahfud MD |
|
|---|
| Iran dan Gencatan Senjata: “Lamuek” Hormuz, Nuklir, dan Adi Kuasa Timur Tengah |
|
|---|
| Komunikasi Publik Menteri Purbaya: Kebingungan Teknokratis, Krisis Nasional, atau Tarian Populis? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/humam-hamid-sosiolog-aceh-4.jpg)