Jurnalisme Warga
Matematika Itu Seru, Asal Tahu Caranya
Saat itu, saya tidak sadar bahwa saya sedang belajar matematika. Yang saya tahu, saya sedang bermain dan bersenang-senang bersama papa saya.
RAFEYFA ASYLA POETRIE NUGRAHA, Siswi SMP Teuku Nyak Arief Fatih Bilingual School Banda Aceh, melaporkan dari Banda Aceh
Banyak teman saya menganggap matematika itu pelajaran yang menakutkan. Kata mereka, rumusnya membingungkan, soalnya sulit, dan sedikit kesalahan bisa membuat nilai berantakan. Namun, bagi saya, matematika justru menyenangkan, seperti tantangan yang memacu rasa ingin tahu.
Saya percaya bahwa matematika bisa menjadi sahabat, asalkan kita tahu cara mendekatinya.
Sejak usia satu tahun, saya sudah akrab dengan angka. Papa saya, seorang alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) dan beliau bisa masuk ITB karena waktu SMA nilai matematikanya selalu bagus.
Papa sering mengajak saya bermain angka dalam kehidupan sehari-hari. Kami menghitung jumlah mobil yang lewat di jalan, menebak kelipatan, menyusun balok mainan sambil mengenal simetri, dan masih banyak lagi. Tanpa saya sadari, semua itu adalah pengenalan awal pada matematika dan rasanya seperti bermain, bukan belajar. Mungkin itulah sebabnya saya tumbuh dengan perasaan akrab dan nyaman terhadap angka.
Saat itu, saya tidak sadar bahwa saya sedang belajar matematika. Yang saya tahu, saya sedang bermain dan bersenang-senang bersama papa saya.
Ketika mulai memasuki sekolah dasar (SD), saya sudah terbiasa memandang matematika bukan sebagai hafalan rumus, melainkan sebagai alat berpikir dan menganalisis. Saya belajar menyelesaikan soal bukan karena dipaksa, melainkan karena penasaran.
Bagi saya, setiap soalnya seperti teka-teki yang menunggu untuk dipecahkan. Guru-guru saya pun berperan besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan saya. Guru matematika saya di sekolah mengajar dengan cara yang menyenangkan: mereka bercerita, memberi analogi yang lucu, dan bahkan membuat tantangan kecil yang membuat siswa tertarik menyelesaikan soal.
Sayangnya, tidak semua anak mendapat dan merasakan kesempatan seperti itu. Banyak yang belajar matematika dengan pendekatan yang membuatnya terasa kaku dan membosankan. Soal latihan yang monoton, tuntutan menghafal rumus, dan tekanan nilai sering membuat anak-anak takut dengan pelajaran matematika sebelum sempat mengenalnya secara utuh.
Namun, saya juga menyadari bahwa tidak semua anak mendapat pengalaman yang sama. Banyak teman saya merasa cemas setiap kali pelajaran matematika dimulai. Mereka mengeluh tentang pembahasan yang terlalu cepat, takut membuat kesalahan, hingga terkadang kehilangan rasa percaya diri terhadap performa mereka di bidang matematika.
Saya rasa ini bukan karena mereka tidak mampu, melainkan karena cara belajar yang mereka alami tidak memberi ruang untuk eksplorasi dan rasa aman dalam bertanya dari setiap kesulitan yang mereka rasakan.
Kenyataannya adalah dalam kehidupan sehari-hari pun, matematika hadir di berbagai aktivitas kita. Ketika kita membagi kue kepada kawan-kawan secara adil, itu sudah pembagian. Saat membandingkan harga barang belanjaan di toko, itu termasuk pemahaman nilai. Saat memperkirakan sisa waktu sebelum bel masuk sekolah, itu konsep waktu dan logika. Jika pendekatannya lebih aplikatif dan kontekstual, saya yakin banyak anak akan lebih terbuka, bahkan kasmaran terhadap matematika.
Karena matematika itu menyenangkan, maka sejak kelas 4 SD saya mulai mengasah kemampuan matematika saya dengan mengikuti berbagai kompetisi matematika, baik tingkat nasional maupun internasional.
Saya setiap tahun mengikuti Southeast Asian Mathematical Olympiad (SEAMO) dan Thailand International Mathematical Olympiad (TIMO), serta beberapa kompetisi matematika lainnya. Ada yang saya menangi, ada juga yang tidak. Akan tetapi, bagi saya, yang paling berharga bukan hanya medali, melainkan proses belajarnya. Soal-soal olimpiade memang sulit, tetapi menantang dan justru di situlah letak keseruannya. Kita diajak berpikir di luar kebiasaan, menguji logika dari sudut yang tidak biasa.
Sejak pandemi Covid-19 pada tahun 2020, hampir seluruh kompetisi matematika dialihkan secara online (daring). Awalnya saya merasa aneh karena suasana lomba secara daring tentu tidak seintens dengan lomba secara bertemu langsung.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/RAFEYFA.jpg)