Jurnalisme Warga
Melirik Potensi Ekowisata di Samar Kilang
Di tengah semangat pemerintah menggalakkan swasembada pangan, sudah sepatutnya berbagai potensi pangan lokal
“Potensi hasil hutan bukan kayunya juga sangat besar, misalnya janeng dan aren yang melimpah di Samar Kilang dapat diolah menjadi aneka produk turunan yang bernilai ekonomi,” kata Raihal.
Di tengah semangat pemerintah menggalakkan swasembada pangan, sudah sepatutnya berbagai potensi pangan lokal tersebut dibudidayakan kembali agar tak hilang oleh “invasi” beras. Dengan dukungan dari Katahati Institute, masyarakat setempat mulai mengolah janeng menjadi berbagai produk turunan, seperti tepung, kerupuk, dan keripik.
Aren pun demikian, kini sudah dipasarkan dalam bentuk gula aren bubuk, cair, dan padat. Bahkan, menurut Ama Tris, janeng menjadi sumber pangan lokal yang menyelamatkan warga Samar Kilang dari ancaman kelaparan akibat paceklik di tahun 1970-an.
Berbagai pengetahuan lokal, seperti penggunaan obat-obat tradisional yang berbasis herbal juga masih dipertahankan hingga saat ini. Semua itu dapat menjadi “modal sosial” yang jika dikelola dengan baik justru akan mendatangkan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.
Menurut Ketua STIK Chik Pantekulu, Dr Aswita SHut, MP, ekowisata adalah konsep pariwisata ekologis yang berkelanjutan. Fokus utamanya, menumbuhkan pemahaman, apresiasi, dan konservasi terhadap lingkungan dan budaya lokal.
“Jadi, ekowisata ini memadukan program-program konservasi dengan kebutuhan berwisata sehingga berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat, baik di tingkat daerah, nasional, maupun global,” katanya, Jumat, 25 Juli 2025.
Ekowisata, menurutnya, memiliki tujuh pilar, yaitu ekologi, sosial-budaya, ekonomi, pengalaman, kepuasan, kenangan, dan pendidikan. Tiga pilar pertama berkaitan dengan paradigma pembangunan berkelanjutan, tiga pilar kedua berkaitan dengan kebutuhan dasar wisatawan, dan pilar terakhir berkaitan dengan kebutuhan edukasi sebagai upaya membangun kesadaran kolektif dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan.
Seiring dengan efek perubahan iklim yang semakin nyata, Aswita mengatakan bahwa ekowisata dapat menjadi salah satu solusi dalam memitigasi dampak perubahan iklim yang semakin parah.
“Ekowisata bisa menjadi alat konservasi sumber daya alam dan budaya untuk mencapai tiga tujuan keberlanjutan, yaitu ekologi, sosial-budaya, dan ekonomi,” katanya.
Sementara itu, Andra Masyhuri selaku Manajer Keuangan Katahati Institute mengatakan bahwa misi utama Katahati di Samar Kilang sejalan dengan konsep-konsep ekowisata. Namun, dalam pelaksanaannya memerlukan sinergi lintas pihak. Misalnya, pemerintah perlu menyiapkan regulasi untuk mendukung ekowisata.
“Sebagai langkah konkret, kami sudah membangun Rumah Pengetahuan Hasil Hutan Bukan Kayu bernama ‘Umah Uteun’ sebagai pusat aktivitas dan pendidikan masyarakat di Samar Kilang,” kata Andra.
Dengan pengembangan yang bijak dan melibatkan semua pemangku kepentingan, Samar Kilang bisa menjadi destinasi ekowisata unggulan. Ekowisata yang tidak hanya akan memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga memperkuat komitmen bersama terhadap pelestarian lingkungan dan keberlanjutan sumber daya alam untuk generasi mendatang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/IHAN-NURDIN-2025-OKE.jpg)