Jurnalisme Warga
Melirik Potensi Ekowisata di Samar Kilang
Di tengah semangat pemerintah menggalakkan swasembada pangan, sudah sepatutnya berbagai potensi pangan lokal
IHAN NURDIN, Pemimpin Redaksi www.perempuanleuser.com, melaporkan dari Samar Kilang, Kabupaten Bener Meriah
SAMAR KILANG adalah salah satu kawasan yang sudah lama masuk dalam ‘wishlist’ untuk saya kunjungi. Kawasan ini berada di Kecamatan Syiah Utama, Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh.
Sebagaimana kondisi umum di Tanah Gayo, awalnya saya membayangkan jika Samar Kilang juga berhawa sejuk. Ternyata, setelah saya tiba di sana pada Selasa, 15 Juli 2025, saya justru merasakan suhu Samar Kilang yang tak ubahnya seperti suhu wilayah pesisir.
Letak Samar Kilang memang berada di dataran rendah atau lembah. Samar Kilang adalah ibu kota Kecamatan Syiah Utama yang hanya memiliki dua kemukiman. Merujuk pada data BPS Kabupaten Bener Meriah, Syiah Utama merupakan kecamatan dengan wilayah terluas di Bener Meriah. Mencakup 41,95 persen atau setara dengan 814,63 km dari total wilayah Bener Meriah yang mencapai 1.941,61 km. Sedangkan jumlah penduduknya tercatat yang paling sedikit, hanya 1,42?ri total penduduk Bener Meriah.
Satu-satunya akses jalan darat menuju Samar Kilang hanyalah melalui jalur Pondok Baru, kawasan terdingin di Kabupaten Bener Meriah. Jaraknya sekitar 70-an kilometer dari Simpang Tiga Redelong (ibu kota kabupaten) dengan waktu tempuh sekitar dua jam berkendara jika kondisi sedang tidak hujan.
Untuk saat ini, akses jalan ke Samar Kilang memang sudah mulus beraspal. Sepanjang Pondok Baru—Samar Kilang, hanya di beberapa titik saja terdapat jalan berlubang atau kawasan rawan longsor.
Namun, kenyamanan akses tersebut baru dirasakan dalam dua tahun terakhir oleh masyarakat setempat. Setelah proyek tahun jamak pembangunan ruas jalan Pondok Baru—Samar Kilang yang dimulai sejak 2018 rampung pada 2022 lalu. Bahkan, jaringan telepon seluler pun baru menjangkau kawasan itu pada tahun 2019.
“Dulu, sebelum ada akses jalan yang memadai seperti sekarang, bisa berhari-hari kalau kami ingin pergi ke Pondok Baru atau ke ibu kota kabupaten,” kata Mukim Samar Kilang, M. Syam, atau yang akrab disapa Ama Tris.
Itu sebabnya, penduduk setempat tak terlalu bergantung pada akses jalan darat. Mereka lebih sering naik rakit dan melewati jalur sungai yang terhubung ke Aceh Utara. Dengan rakit itulah mereka mengeluarkan hasil kebun untuk dijual di Lhoksukon, ibu kota Kabupaten Aceh Utara. Karena membutuhkan waktu hingga berhari-hari, selama “pelayaran” jalur sungai itu pun mereka membawa berbagai perbekalan dan alat untuk memasak.
“Di titik-titik tertentu, kami akan berhenti untuk memasak atau beristirahat. Nanti ketika pulang kami membawa barang belanjaan. Kalau belanjaannya terlalu banyak, tak mungkin diangkut dengan rakit karena ketika pulang sudah melawan arus sungai, terpaksa melalui Pondok Baru,” kata Ama Tris lagi.
Beberapa orang terpaksa harus pulang melalui jalan darat untuk membawa barang-barang belanjaan. Mereka naik angkutan umum dari Aceh Utara menuju Bener Meriah. Kemudian dari Pondok akan lanjut jalan kaki menuju Samar Kilang. Bahkan, kata Ama Tris, ada selorohan di kalangan mereka. Orang-orang yang melakukan perjalanan jauh dari Pondok Baru ke Samar Kilang dapat dilihat dari banyaknya karet gelang di tangan mereka.
Sampai kini pun, akses transportasi menuju Samar Kilang masih sangat terbatas. Satu-satunya moda transportasi umum adalah truk milik Pak Ateng. Truk ini setiap harinya melakukan satu kali perjalanan (one way) dari dan/atau ke Pondok Baru dari Samar Kilang. Dengan truk itulah saya pergi ke Samar Kilang bersama beberapa rekan jurnalis dan kreator konten pada pertengahan Juli lalu.
Dengan segala keterbatasan prasarana dan sarana tersebut, Samar Kilang menyimpan potensi besar. Khususnya terkait dengan potensi ekowisata. Direktur Katahati Institute, Raihal Fajri, yang selama beberapa tahun terakhir aktif melakukan program-program pemberdayaan di Samar Kilang menyebutkan, ada beberapa potensi yang dapat menjadi “nilai jual” Samar Kilang. Misalnya, dari segi lanskap, Samar Kilang memiliki bentang alam yang diselimuti hutan. Apalagi, statusnya yang masuk dalam Kawasan Ekosistem Leuser yang perlu dilindungi dan dilestarikan.
Keindahan lanskap ini juga diakui oleh rekan-rekan jurnalis dan konten kreator yang juga baru pertama kali menginjakkan kaki ke Samar Kilang. Lembah dan perbukitan yang ditumbuhi pohon pinus yang dibelah oleh aliran sungai berbatu, menyajikan keindahan seperti lembah-lembah di Kashmir. Kesempatan naik truk Pak Ateng juga memberikan pengalaman dan menjadi kenangan yang berkesan bagi mereka.
Samar Kilang juga memiliki DAS Jambo Aye yang bermuara ke Selat Malaka dan menjadi habitat alami ikan jurung (keureuling) yang kaya protein. Sedangkan dari sisi kebudayaannya, mayoritas penduduknya adalah suku Gayo yang sampai saat ini masih mempertahankan nilai-nilai dan tradisi mereka.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/IHAN-NURDIN-2025-OKE.jpg)