Kamis, 23 April 2026

Opini

Ayah, Pulanglah dari Warung Kopi, Semai Cinta di Rumah

DI Aceh, warung kopi bukan sekadar tempat menikmati secangkir kopi. Ia telah menjadi ruang hidup masyarakat; tempat diskusi, melepas penat,

|
Editor: mufti
IST
Dr Herawati SPd I SPd MA, Peneliti Parenting Islam dan Dosen Prodi PGSD Universitas Ubudiyah Indonesia 

Dr Herawati SPd I SPd MA, Peneliti Parenting Islam dan Dosen Prodi PGSD Universitas Ubudiyah Indonesia

DI Aceh, warung kopi bukan sekadar tempat menikmati secangkir kopi. Ia telah menjadi ruang hidup masyarakat; tempat diskusi, melepas penat, dan bersosialisasi.

Namun, ketika malam demi malam lebih sering dihabiskan di sana dibandingkan hadir di rumah bersama keluarga, kita perlu bertanya pada diri sendiri: Apa yang sebenarnya sedang kita bangun?

Banyak ayah hari ini terjebak dalam peran sempit sebagai pencari nafkah semata.

Mereka lelah bekerja, lalu merasa "selesai" saat pulang membawa penghasilan.

Padahal, anak-anak di rumah tak hanya menanti uang saku atau mainan baru. Yang mereka rindukan jauh lebih dalam itu semua: “pelukan, kehadiran, dan waktu yang tulus dari sang ayah”.

Hasil penelitian penulis (2024) menunjukkan bahwa mayoritas ibu merasa mengasuh anak hampir sendirian.

Para ayah memang hadir secara fisik di rumah, namun keterlibatan dalam aspek emosional dan spiritual masih minim.

Hal ini sangat disayangkan, karena menurut teori attachment John Bowlby, kelekatan yang sehat antara anak dan orang tua membentuk fondasi psikologis yang kokoh; anak menjadi tangguh, percaya diri, dan mampu menghadapi tekanan hidup.

Islam telah lebih dulu mengajarkan pentingnya peran ayah.

Dalam QS. At-Tahrim: 6, Allah swt memerintahkan: “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

Ini bukan sekedar perintah spiritual, tapi panggilan tanggung jawab moral dan pendidikan.

Rasulullah saw sendiri, di tengah kesibukannya memimpin umat, tetap menyempatkan diri bercanda, bermain, dan memeluk anak-cucunya.

Teladan ini adalah bukti bahwa cinta dan kehadiran adalah bagian dari ibadah yang tidak dapat diabaikan begitu saja.

Sayangnya, budaya patriarki yang masih mengakar kuat di Aceh menempatkan peran ayah lebih banyak di luar rumah.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved