Kupi Beungoh
Dinamika Demokrasi dalam Politik Pilkada Aceh 2024: Sabar, Bos
Dinamika politik dalam koridor demokrasi Aceh, akhirnya kembali “sehat”, setelah dicekam kebekuan dan kejumudan yang lumayan parah
Oleh: Dr. Wiratmadinata, S.H., M.H.,
Semangat saya membaik dalam seminggu terakhir, kopi pagi pun terasa semakin terasa lezat.
Mengapa? Karena dinamika politik dalam koridor demokrasi Aceh, akhirnya kembali “sehat”, setelah dicekam kebekuan dan kejumudan yang lumayan parah, selama enam bulan terakhir.
Pasalnya, sebagaimana yang pernah saya nyatakan pada 10 Juli lalu di salahsatu media Aceh, antara lain; “Jika benar Pj Gubernur Aceh saat ini, Bustami Hamzah, terjun dalam kancah kontestasi Gubernur Aceh yang akan datang, maka kontestasi Pilkada Aceh akan lebih menarik dan sehat”.
Kepada media tersebut saya menegaskan; “Saya pribadi berharap Bustami Hamzah betul-betul (serius) berhasrat dan mencalonkan diri sebagai Gubernur Aceh.
Akhirnya setelah 20 hari pasca berita saya itu muncul, sinyal semakin menguat dan semakin tegas mengindikasikan Bustami Hamzah, yang oleh koleganya disebut “Om Bus”, memang benar-benar akan bertarung dalam Pilkada Gubernur Aceh November 2024 mendatang.
Ketika diwawancarai oleh Sagoe-TV dalam Podcastnya, apakah Bustami sudah siap untuk bertarung dalam Pilkada Gubernur mendatang, dengan tegas walau simbolik dan diplomatis ia menjawab: “Bismillah”. Dua kali “Om Bus” mengucapkan kata “Bismillah” itu.
“Bismillah” pertama agak pelan dan “Bismillah” kedua, tegas serta nyaring. Bagi orang Aceh, simbol ini jelas bermakna. Tekad sudah bulat bahwa, “Om Bus” akan bertarung merebut posisi Gubernur Aceh, bersama Mualem yang juga sudah pasti dicalonkan oleh Partainya sendiri, Partai Aceh.
Bersamaan dengan itu, bagai cerita yang tersusun rapi, dalam dua minggu terakhir, Kota Banda Aceh dan sekitarnya mendadak dibanjiri oleh Baliho-baliho besar dengan foto-foto ukuran raksasa “Om Bus”, dengan tulisan yang beragam, meskipun intinya sama saja, yaitu: Mendukung “Om Bus” sebagai Calon Gubernur Aceh, atau mendukung “Om Bus” untuk dicalonkan sebagai Gubernur Aceh. Jika dilihat dari pilihan pose dan kualitas foto yang demikian tertata, jelas ini gerakan serius, dan selaras pula dengan dukungan logistik yang besar.
Gilanya lagi, ternyata fenomena ini terjadi di seluruh Aceh, tegasnya di 23 Kabupaten/Kota di Aceh, tanpa kecuali. Saya melakukan perjalanan sepanjang Pantai Timur-Utara bahkan Dataran Tinggi, gelombang baliho berlimpah di seluruh Aceh.
Tidak hanya baliho, bahkan di Medsos, video-video bertebaran yang berisi “deklarasi” mendukung “Om Bus”, sebagai Calon Gubernur Aceh. Terakhir Podcast di Serambi Indonesia dan disusul podcast di Sagoe-TV.
Lalu, apa pula alasan saya bersemangat, dan antusias melihat perkembangan diatas?
Alasan saya, persis sama dengan apa yang saya nyatakan 10 Juli lalu; bahwa jauh sebelum ada indikasi “Om Bus” bakal jadi calon Gubernur, Pilkada Aceh sungguh sangat membosankan, seperti air yang membeku, tidak menarik, stagnan dan tanpa dinamika.
Jika ada yang ajak bicara, saya sendiri, malas diskusi soal Pilkada; sebab, seakan-akan Pemilihan Gubernur Aceh sudah selesai sebelum dimulai. Soalnya, hanya nama Mualem yang beredar dan pasti bahwa ia akan menjadi kandidat Gubernur.
Sementara jajaran partai-partai politik di Aceh, khususnya Partai Nasional (Parnas) hanya berani “membebek” dan dengan tanpa malu-malu merasa puas dengan hanya menyodorkan “proposal” calon wakil Gubernur saja.
| Nyak Sandang dan Pesawat dari Lamno: Ketika Cinta Tanah Air Dibayar dengan Emas Istri |
|
|---|
| Kebiasaan Mengacungkan Jari Tengah pada Anak: Alarm Darurat Pendidikan Karakter di Era Digital |
|
|---|
| Ketika Uang Mengendap, Kesehatan Dipangkas: Paradoks Anggaran Aceh |
|
|---|
| Perang dan Damai – Bagian 7, Gencatan Senjata, Pertemuan Islamabad Menuju Perdamaian |
|
|---|
| Perang dan Damai - Bagian 6, No King: Protes Rakyat AS, Kembali ke Demokrasi Menuju Perdamaian |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Wiratmadinata-SH-MH.jpg)