Banjir Landa Aceh
PLN Bawa 30 Ton Peralatan Tower ke Aceh, Mendagri Tito Pastikan Listrik Segera Normal
PLN telah mendatangkan peralatan vital, dan Mendagri optimistis pemulihan total bisa dilakukan dalam waktu satu minggu.
Ringkasan Berita:
- Mendagri Tito Karnavian menyatakan bahwa Perusahaan Listrik Negara (PLN) sudah membawa sekitar 30 ton peralatan untuk perbaikan/pengganti jaringan listrik Aceh yang roboh akibat bencana banjir dan longsor.
- Mendagri Tito Karnavian menyatakan upaya perbaikan jaringan listrik di Aceh yang roboh akibat banjir dan longsor terus dipercepat.
- PLN telah mendatangkan peralatan vital, dan Mendagri optimistis pemulihan total bisa dilakukan dalam waktu satu minggu.
SERAMBINEWS.COM - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyatakan bahwa Perusahaan Listrik Negara (PLN) sudah membawa sekitar 30 ton peralatan untuk perbaikan/pengganti jaringan listrik Aceh yang roboh akibat bencana banjir dan longsor.
Mendagri Tito Karnavian menyatakan upaya perbaikan jaringan listrik di Aceh yang roboh akibat banjir dan longsor terus dipercepat.
PLN telah mendatangkan peralatan vital, dan Mendagri optimistis pemulihan total bisa dilakukan dalam waktu satu minggu.
Hal itu disampaikan Mendagri usai meninjau lokasi banjir bandang di kawasan Gampong Blang Awe, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Sabtu (29/11/2025).
Tito mengaku dirinya sudah berkoordinasi dengan Dirut PT PLN terkait kondisi kelistrikan di Aceh pascarobohnya sejumlah tiang SUTT akibat diterjang banjir.
Kondisi tersebut perlu ditangani dengan dibangunnya tower pengganti, yang mana semua peralatannya seberat lebih kurang 30 ton dibawa dari jakarta ke Banda Aceh.
“Sudah ada pengiriman ke lokasi, itu hanya satu jalur saja yaitu menggunakan helikopter. Nah helikopternya ini hanya mampu mengangkut 6 ton sedangkan totalnya 30 ton, jadi perlu waktu 5 hari untuk mengangkut, enam ton per hari,” kata Tito.
“Lima hari terus tambah dua hari perbaikan jadi diperkirakan 7 hari insyaAllah hari Sabtu nanti listrik akan jalan. Kalau listrik jalan komunikasi akan lebih mudah,” lanjutnya.
Tito menyebut, salah satu penghambat komunikasi di Aceh memang disebabkan oleh kondisi kelistrikan yang belum stabil. Sebab, di Aceh ada dua pembangkit listrik, di Arun dan di Nagan Raya.
“Yang di Arun ini satu pembangkit ke arah timur, Langsa, itu lancar gak ada masalah. Yang pembangkit menuju ke barat itu, yang menuju ke Banda Aceh termasuk diantaranya adalah Pidie Jaya, Pidie, Bireuen, ini terdampak banjir. Sehingga lampu masih mati,” ujarnya.
Sementara untuk Banda Aceh, lanjut Tito, untuk saat ini hanya disupport dari Nagan Raya, sehingga tidak maksimal, karena biasanya disupport dari Arun dan Nagan Raya.
Lebih lanjut, Tito sangat prihatin dengan kondisi banjir yang melanda Aceh. Menurutnya, dampak dari banjir kali ini cukup dahsyat dan begitu terasa bagi masyarakat.
“Hari ini kami juga memberikan dukungan, bantuan, selain dari Kemendagri, pemerintah provinsi ya, dalam bentuk pangan, pakaian dan lain-lain,” katanya.
Baca juga: Banjir Aceh 2025: Bencana Terburuk dalam Dua Dekade, dan Lumpuhnya Sistem Penanggulangan
Dirut PLN Pimpin Pemulihan Listrik di Aceh
| Jembatan Wih Kanis Tak Kunjung Diperbaiki, Anggota DPRA Tagih Janji Kemen-PU |
|
|---|
| Jangkau Titik Kebakaran Sisa Kayu Banjir di Aceh Tamiang, Mesin Damkar Diseberangkan Pakai Perahu |
|
|---|
| Pemerintah Akui Sulit Bersihkan Lumpur |
|
|---|
| Dilanda Hujan, Huntara Korban Banjir di Langkahan-Aceh Utara Terendam Air |
|
|---|
| Korban Banjir Bireuen Mulai Menerima Bantuan Jadup |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/listrik-ijk.jpg)