Minggu, 19 April 2026

Opini

Pemimpin Menyesatkan, Lebih Bahaya dari Dajjal

Bahaya Dajjal, sehebat apa pun, bersifat eksplisit dan mudah diidentifikasi oleh orang beriman yang kokoh ilmunya. Sedangkan bahaya pemimpin

|
Editor: Ansari Hasyim
hand over dokumen pribadi
Prof Dr Apridar SE MSi, adalah guru Besar Ilmu Ekonomi dan Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh.  

Dalam konteks pandemi Covid-19, kita menyaksikan pemimpin di berbagai belahan dunia yang meremehkan virus, mendukung pengobatan yang tidak teruji, dan menolak protokol kesehatan berbasis sains.

Akibatnya, bukan hanya nyawa yang melayang, tetapi juga kepercayaan publik pada institusi sains menjadi terkikis. Ini adalah bentuk "kesesatan" modern yang berbalut kebijakan publik.

Kedua Narasi Populis yang Memecah Belah. Pemimpin seperti ini seringkali berbicara tanpa dasar ilmu, tetapi penuh retorika yang membangkitkan emosi dan prasangka.

Mereka menciptakan musuh bersama (baik dari dalam maupun luar negeri) untuk menyatukan basis pendukungnya. Narasi kebencian, sentimen SARA, dan teori konspirasi menjadi senjata andalan. 

Data dari Lembaga surveilans seperti Setara Institute atau Indonesian Police Watch sering mencatat peningkatan ujaran kebencian dan intoleransi yang justru difasilitasi atau diabaikan oleh pemimpin. Ucapan tanpa ilmu itu tidak hanya menyesatkan persepsi publik, tetapi juga merobek sosial fabric bangsa.

Ketiga Korupsi dan Penyia-nyiaan Amanah. Hadis lain dari Bukhari melengkapi gambaran ini: "Apabila amanah (kepercayaan) sudah disia-siakan maka tunggulah datangnya hari kiamat."

Ditanyakan, "Bagaimana menyia-nyiakannya?" Beliau bersabda, "Apabila suatu urusan diserakan kepada yang bukan ahlinya (bidangnya) maka tunggulah datangnya hari kiamat." 

Penunjukan pejabat berdasarkan loyalitas politik, kedekatan keluarga, atau transaksi balas jasa, tidak berdasarkan kompetensi dan integritas, adalah bentuk nyata "menyerahkan urusan kepada yang bukan ahlinya."

Korupsi yang masif, seperti yang terus diungkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), adalah puncak dari penyia-nyiaan amanah.

Kebijakan yang lahir dari sistem yang korup pada hakikatnya adalah kebijakan yang menyesatkan, karena ia mengalihkan sumber daya publik untuk kepentingan segelintir orang, bukannya untuk kemaslahatan rakyat.

Mengapa Lebih Berbahaya dari Dajjal?

Perbandingan ini menjadi jelas ketika kita melihat mekanisme kerjanya. (a) Dajjal menyesatkan dengan keajaiban palsu; Pemimpin menyesatkan dengan kebijakan dan wewenang nyata. Seorang Dajjal perlu "menipu" mata dengan sihir.

Seorang pemimpin yang bodoh dan jahat cukup mengeluarkan peraturan, instruksi, atau keputusan yang secara struktural memaksa rakyatnya untuk mengikuti jalur yang salah.

Seorang Dajjal tidak bisa memaksa Anda membayar pajak untuk proyek yang tidak jelas; seorang pemimpin yang korup bisa.

(b) Dajjal mudah dikenali; Pemimpin menyesatkan justru sering dikultuskan. Identitas Dajjal sebagai musuh sudah jelas. Sebaliknya, pemimpin yang menyesatkan seringkali dibungkus dengan citra religiusitas, nasionalisme, atau narasi penyelamat.

Pengkultusan ini membuat kritik menjadi tabu dan kesalahan mereka sulit untuk dikoreksi. Pengikutnya akan membela mati-matian kebijakan yang jelas-jelas merugikan mereka sendiri sebuah fenomena yang dalam psikologi sosial dikenal sebagai "cognitive dissonance."

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved