Minggu, 19 April 2026

Opini

Pemimpin Menyesatkan, Lebih Bahaya dari Dajjal

Bahaya Dajjal, sehebat apa pun, bersifat eksplisit dan mudah diidentifikasi oleh orang beriman yang kokoh ilmunya. Sedangkan bahaya pemimpin

|
Editor: Ansari Hasyim
hand over dokumen pribadi
Prof Dr Apridar SE MSi, adalah guru Besar Ilmu Ekonomi dan Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh.  

(c) Dajjal merusak dari luar; Pemimpin menyesatkan merusak dari dalam fondasi masyarakat. Kerusakan yang dibawa Dajjal bersifat fisik dan spiritual individual. Sedangkan pemimpin yang menyesatkan merusak sistem hukum, pendidikan, ekonomi, dan sosial.

Ia mengikis kepercayaan, menghancurkan tatanan, dan melemahkan bangsa dari dalam untuk jangka panjang. Sebuah negara bisa selamat dari serangan luar, tetapi sulit bangkit dari kerusakan sistemik yang dilakukan oleh pemimpinnya sendiri.

Menjaga Ilmu dan Amanah

Oleh karena itu, peringatan Nabi ini bukanlah ramalan pasif, melainkan seruan untuk bertindak. Menghadapi Dajjal, kita diajarkan untuk membaca sepuluh ayat awal Surah Al-Kahfi. Menghadapi pemimpin yang menyesatkan, "immunisasi"-nya adalah dengan menjaga dan menghidupkan tradisi ilmu serta amanah.

Masyarakat harus dididik untuk kritis dan memilih pemimpin berdasarkan track record kompetensi dan integritas, bukan sekadar retorika.

Para ulama dan cendekiawan (sebagai pewaris Nabi) harus tetap vokal menyuarakan kebenaran berdasarkan ilmu, mengkritik kebijakan yang salah, dan tidak membiarkan ruang publik dikuasai oleh "orang-orang bodoh." 

Sementara itu, sistem checks and balances harus diperkuat untuk memastikan bahwa setiap urusan diserahkan kepada ahlinya.

*) PENULIS adalah guru Besar Ilmu Ekonomi dan Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh. 

Isi artikel ini menjadi tanggung jawab penulis.

Email: apridar@usk.ac.id

 

 

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved