Opini
Saatnya Menjadikan Indonesia Raksasa Pangan Dunia
Fakta di lapangan membeberkan paradoks yang mencolok. Sebagai negara agraris dengan lebih dari
Tahun 2045, seabad kemerdekaan, harus menjadi penanda tegaknya Indonesia sebagai Global Food Hub, pusat produksi, inovasi, dan ekspor pangan tropis berkualitas tinggi dunia. Bayangkan ekspor sagu organik dan turunannya memenuhi permintaan Asia dan Eropa.
Buah-buahan tropis Indonesia dengan branding kuat menjadi primadona pasar global. Produk perikanan olahan berkelanjutan dengan sertifikasi internasional mendominasi rantai pasok global. Bahan baku hijau berbasis sawit berkelanjutan menjadi andalan ekspor, dan produk pengganti gandum lokal bahkan diekspor ke negara-negara yang menghadapi masalah ketahanan pangan serupa.
Dari Peringkat ke Kejayaan
Peringkat 65 GFSI adalah pijakan, bukan tujuan akhir. Kejutan sesungguhnya terletak pada jurang antara potensi dan realitas yang ada. Indonesia memegang semua kartu truf: lahan subur, iklim ideal, keanekaragaman hayati tak ternilai, bonus demografi, dan bukti kesuksesan swasembada beras. Tantangan seperti alih fungsi lahan, perubahan iklim, dan ketergantungan impor memang nyata, tetapi bukan penghalang tak teratasi.
Kunci utamanya adalah keberanian untuk bertransformasi. Konsistensi kebijakan, kolaborasi erat antara pemerintah, swasta, akademisi, dan petani, serta investasi berani dalam teknologi dan infrastruktur adalah prasyarat mutlak.
Jika langkah-langkah revolusioner ini dijalankan dengan sungguh-sungguh dan berkelanjutan, maka “kejutan” berikutnya bukan sekadar naik beberapa peringkat indeks, melainkan kejutan melihat Indonesia berdiri tegak sebagai salah satu raksasa pangan yang memberi makan dunia.
Saatnya menjadikan pertanian bukan sekadar urusan perut, tetapi mesin kemakmuran dan kebanggaan bangsa. Momentum 2045 dimulai dari aksi nyata hari ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/apridarrr.jpg)