Berita Banda Aceh
Warga Simeulue Tewas Diterkam Buaya, FJL Aceh Desak Pemerintah Bertindak Serius
Seorang warga Simeulue, Jusmitawati (36), tewas diterkam buaya saat mencari kerang di Sungai Luan Boya, memicu ketakutan masyarakat.
Penulis: Indra Wijaya | Editor: Saifullah
Ringkasan Berita:
- Seorang warga Simeulue, Jusmitawati (36), tewas diterkam buaya saat mencari kerang di Sungai Luan Boya, memicu ketakutan masyarakat.
- Forum Jurnalis Lingkungan (FJL) Aceh menilai tragedi ini sebagai bukti lemahnya penanganan konflik manusia-satwa dan mendesak pemerintah bertindak serius.
- Pemerintah sementara hanya mengimbau warga menjauh dari sungai dan memasang papan peringatan, namun FJL menuntut solusi jangka panjang berbasis konservasi dan perlindungan masyarakat.
Laporan Wartawan Serambi Indonesia Indra Wijaya | Simeulue
SERAMBINEWS.COM SINABANG – Forum Jurnalis Lingkungan (FJL) Aceh mendesak pemerintah segera mengambil langkah konkret dan terukur menyusul tewasnya seorang warga Desa Bulu Hadek, Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Simeulue, Aceh, akibat diterkam buaya saat mencari kerang di Sungai Luan Boya, Minggu (16/2/2026) kemarin.
Korban bernama Jusmitawati (36), dilaporkan hilang saat menyusuri sungai bersama dua rekannya.
Upaya pencarian yang dilakukan warga berujung duka ketika korban ditemukan dalam kondisi mengenaskan.
Bahkan, saat ditemukan korban masih berada di rahang buaya yang muncul ke permukaan sungai.
Video peristiwa tersebut kemudian beredar luas dan memicu ketakutan serta kemarahan masyarakat.
FJL Aceh menilai tragedi ini bukan sekadar kecelakaan, melainkan alarm keras atas lemahnya penanganan konflik manusia dan satwa liar di Aceh.
Khususnya dengan buaya muara yang kian sering muncul di wilayah aktivitas warga.
Baca juga: Buaya Pemangsa Pencari Kerang di Simeulue Ditangkap, Potongan Tubuh Dievakuasi di Perut Predator Itu
Kepala Departemen Advokasi FJL Aceh, Hidayatullah menegaskan, bahwa pemerintah tidak boleh lagi bersikap reaktif dan menunggu korban berikutnya.
“Ini bukan kejadian pertama adanya korban manusia dari konflik satwa di Aceh,” ujarnya.
“Artinya ada persoalan serius dalam tata kelola wilayah dan mitigasi konflik satwa,” tukas dia.
“Kalau pemerintah hanya terus mengimbau warga menjauh dari sungai, lalu di mana solusi jangka panjangnya?” tegas Hidayatullah, Selasa (17/2/2026).
Menurut Dayat--panggilan akrab Kepala Departemen FJL Aceh--negara seolah melempar tanggung jawab kepada masyarakat.
Sementara akar persoalan seperti kerusakan habitat, perubahan ekosistem, serta absennya peta wilayah rawan konflik belum ditangani secara serius.
Baca juga: VIDEO Buaya Pemangsa Pencari Kerang di Simeulue Berhasil Ditangkap Warga
Reaksi Pemerintah
buaya
diterkam buaya
Warga Diterkam Buaya
Forum Jurnalis Lingkungan (FJL) Aceh
Simeulue
Serambi Indonesia
Serambinews.com
| Dua Terpidana Zina Dicambuk 100 Kali di Taman Bustanussalatin Banda Aceh |
|
|---|
| Razia Malam di Rutan Banda Aceh, Ini Daftar Barang Terlarang yang Disita |
|
|---|
| Mualem Sampaikan LKPJ 2025 |
|
|---|
| Martini Ungkap Besaran Pokir, Setiap Anggota DPRA Rp 4 Miliar, Minta Ketua DPRA Tak Potong |
|
|---|
| DPRA Bentuk Pansus Evaluasi LKPJ Gubernur Aceh 2025 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Buaya-dengan-ukuran-lebih-kurang-4-meter-yang-memangsa-pencari-kerang.jpg)