Sabtu, 16 Mei 2026

Liputan Eksklusif Aceh

DBD Mendera Aceh Singkil, Jumlah Kasus Naik 3 Kali Lipat

Data Dinas Kesehatan Aceh Singkil, periode Januari sampai Agustus 2025 tercatat sudah ditemukan 108 kasus DBD. Naik tiga kali lipat dari tahun lalu.

Tayang:
Penulis: Dede Rosadi | Editor: Safriadi Syahbuddin
SERAMBINEWS.COM/DEDE ROSADI
FOGGING - Tim Dinas Kesehatan Aceh Singkil, melakukan Fogging di permukiman penduduk yang ditemukan kasus demam berdarah dengue (DBD) pada tahun 2025. Langkah itu untuk mencegah sebaran virus dengue yang ditularkan gigitan nyamuk. 

Laporan Dede Rosadi | Aceh Singkil

SERAMBINEWS.COM, SINGKIL - Kasus demam berdarah dengue (DBD) mengalami lonjakan di Kabupaten Aceh Singkil.

Data Dinas Kesehatan Aceh Singkil, periode Januari sampai Agustus 2025 tercatat sudah ditemukan 108 kasus DBD.

Angka itu naik lebih dari tiga kali lipat dibanding 2024 yang tercatat hanya 31 kasus DBD.

Pada awal tahun, kasus DBD mulai ditemukan 20 Januari 2025 di Desa Rimo, Kecamatan Gunung Meriah.

Setelahnya itu menyebar di sembilan kecamatan yang ada di Kabupaten Aceh Singkil.

Masing-masing Kecamatan Simpang Kanan 43 kasus, Gunung Meriah 38 kasus, Singkil Utara 11 kasus, Singkil 10 kasus dan Kecamatan Pulau Banyak 2 kasus.

Lalu Kecamatan Singkohor, Suro, Kuala Baru dan Kecamatan Danau Paris, masing-masing 1 kasus.

Tingginya kasus demam berdarah di Kabupaten Aceh Singkil, disinyalir akibat minimnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan atau menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Baca juga: Empat Hari Terjadi 7 Kasus DBD di Aceh Singkil, Dinkes Sigap Lakukan Ini

Penyebab lain masih kurangnya menjaga daya tahan tubuh, dengan asupan makan bergizi.

Mengingat dalam cuaca tropis nyamuk demam berdarah tidak bisa dibasmi. Fogging (pengasapan) hanya membunuh nyamuk dewasa. 

Sementara jentik nyamuk yang bersarang di genangan air dalam barang bekas di sekitar tempat tinggal tidak dibersihkan. 

Padahal tindakan preventif atau pencegahan kasus demam berdarah dengue (DBD) lebih penting dibanding kuratif atau pengobatan. 

Terkait hal itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Singkil, diminta tingkatkan langkah pencegahan DBD dengan menggencarkan gerakan bersih-bersih lingkungan serta pemberantasan sarang nyamuk (PSN). 

Masyarakat sudah familiar pencegahan DBD melalui gerakan 3M plus yaitu menguras, menutup, dan mendaur ulang barang bekas untuk membasmi sarang nyamuk.  

Hanya saja perlu motor penggerak, agar warga sadar pentingnya menjaga kebersihan.

Tindakan Pencegahan

Ketua Komisi IV DPRK Aceh Singkil, dr Desra Novianto sepakat bahwa tindakan preventif atau pencegahan harus diutamakan dalam mencegah DBD.

Politisi partai Nasdem itu menegaskan untuk melakukan tindakan preventif maka Dinas Kesehatan, jajaran Puskesmas, Puskesmas Pembantu (Pustu) dan lintas sektor terkait harus memberikan perhatian besar terhadap proses edukasi kepada masyarakat.

Masyarakat sebutnya perlu edukasi agar peduli dan terlibat dalam proses pencegahan. 

Misalnya dengan kampanye membersihkan dan menutup penampungan air, memanfaatkan daur ulang barang bekas, serta mencegah gigitan nyamuk. 

Kemudian kampanye penting lainnya rutin menguras bak mandi, genangan air dan memasang kawat kasa pada jendela.

Menurut Ides, sapaan akrab Desra edukasi sangat penting sebab saat ini masyarakat masih menganggap fogging (pengasapan) sebagai cara utama mengusir nyamuk DBD

Oleh karena itu jajaran eksekutif terkait perlu menjelaskan apakah fogging merupakan cara efektif atau tidak. 

"Apakah ada alternatif lain yang harus dikampanyekan oleh pemerintah daerah," ujarnya. 

Ides kembali menegaskan kasus DBD di daerahnya harus segera ditangani, jangan sampai kejadian luar biasa (KLB). 

Ia menyarankan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Singkil, memberikan surat edaran sampai ke tingkat desa cara penangan dan pencegahannya.

"Jangan sampai ada kasus yang meninggal," kata Ketua Fraksi Nasdem DPRK Aceh Singkil tersebut.

Kebersihan Lingkungan

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Aceh Singkil, Surkani, tidak menampik jika kesadaran menjaga kebersihan di daerahnya masih relatif kurang.

"Kalau kita lihat trend terkait kesadaran menjaga kebersihan lingkungan di Kabupaten Aceh Singkil masih relatif kurang," kata Surkani, Rabu (3/9/2025).

Ia juga mengakui paradigma bahwa sampah adalah tanggung jawab orang lain masih belum hilang. 

Padahal persoalan sampah terutama kebersihan di lingkungan tempat tinggal merupakan tanggung jawab bersama.

Terkait hal itu, Dinas Lingkungan Hidup Aceh Singkil, berusaha melakukan edukasi kepada masyarakat dalam meningkatkan kesadaran hidup bersih. 

Dengan menyasar kalangan pelajar agar memiliki kesadaran sejak usia dini bahwa menjaga kebersihan merupakan tanggung jawab bersama. 

"Upaya yang dilakukan adalah sosialisasi dan kampanye tentang prilaku hidup bersih yang kita lakukan ke sekolah sekolah dari mulai SD, SMP dan SLTA sederajat," kata Surkani.

Masyarakat umum juga tidak luput dari sasaran kampanye. Terutama edukasi memilah sampah dari sumbernya. Seperti sampah rumah tangga, pertokoan, sekolah, kantor dan lain-lain. 

Untuk membudayakan jaga kebersihan lingkungan Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil juga telah keluarkan surat edaran tentang Jumat bersih.

Upaya Penanggulangan

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Aceh Singkil, Mursal SKM MMKes, Kamis (4/9/2025) menyatakan telah melakukan sejumlah langkah penanggulangan DBD

Antara lain melakukan fogging di tempat tinggal serta lingkungan sekitar pasien.

Fogging merupakan tindakan pengasapan dengan menggunakan insektisida untuk membunuh nyamuk dewasa, terutama yang menjadi vektor penyakit seperti DBD

"Fogging dilakukan sesuai standar operasional prosedur (SOP)," kata Kepala Dinas Kesehatan Aceh Singkil, Mursal.

Berikutnya menurut Mursal, pihaknya telah instruksikan Puskesmas agar imbau warga melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

Langkah lain yang telah dilakukan Dinas Kesehatan Aceh Singkil, melakukan penyelidikan epidemiologi (PE) ke rumah pasien dan lingkungan sekitar pasien. 

Kemudian melakukan survei jentik nyamuk. Setelah jentik nyamuk ditemukan, maka melakukan pemberantasan sarang nyamuk.

"Saat PE petugas melakukan promosi kepada masyarakat dan menjelaskan kepada keluarga pasien agar bisa melakukan pemantauan jentik di setiap tempat penampungan air seperti tong penyimpanan air, bak mandi dan lain-lain," jelas Mursal. 

Promosi yang dimaksud Mursal adalah promosi kesehatan, yakni proses yang dirancang untuk memberdayakan individu dan masyarakat agar dapat meningkatkan dan mempertahankan kesehatan. 

Pada bagian lain Mursal berharap kepala desa bisa melaksana surat edaran Jumat bersih yang telah dikeluarkan Pemkab Aceh Singkil. Sebab kunci utama mencegah DBD menjaga kebersihan lingkungan. 

"Kalau petugas kami, Insya Allah setiap Jumat melaksanakan gotong royong. Hanya saja tidak cukup harus ada keterlibatan bersama," ujarnya. 

Mursal juga mengingatkan pentingnya melaksanakan program 3M secara rutin untuk mencegah jentik nyamuk berkembang biak, yaitu menguras, menutup dan mendaur ulang atau menimbun barang bekas.

Kepala Puskesmas Singkil Utara dr Tri Patriyuni, MBiomed mengatakan, sesuai fungsi puskesmas pihaknya terus melakukan tindakan promotif dan preventif dalam mencegah DBD.

Misalnya di satu desa ada pasien terindikasi atau DBD langsung dilakukan penyuluhan oleh petugas promosi kesehatan (Promkes) dan petugas surveilans. 

Memang diakuinya mengubah pola pikir masyarakat butuh perjuangan keras. Sebab sepengetahuan masyarakat fogging merupakan cara penangan DBD.

Padahal langkah paling utama menjaga kebersihan lingkungan. Puskesmas, sebutnya, ada atau tidak kasus tetap rutin melakukan penyuluhan perilaku hidup bersih dan sehat.

Penyuluhan selain dalam kegiatan rutin saat pelaksanaan Posyandu, juga dilakukan pada kelompok pengajian kaum ibu. 

"Di tempat perwiridan ibu-ibu, bisanya kami lakukan," tukasnya.

DBD; Gejala dan Cara Mencegahnya

Sementara itu demam berdarah dengue yang disingkat DBD, merupakan penyakit infeksi disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti atau aedes albopictus.

Gejala umum DBD meliputi demam tinggi, sakit kepala parah, nyeri di belakang mata, nyeri otot dan sendi, ruam kulit, serta perdarahan.

Penderita DBD harus segara ditangani dengan tepat. Jika tidak DBD dapat menyebabkan komplikasi serius seperti syok, perdarahan hebat, bahkan berujung kematian. 

Pengobatan DBD biasanya bersifat suportif (memberikan dukungan dan semangat), istirahat, konsumsi cairan yang cukup, dan penggunaan obat untuk mengurangi demam serta nyeri.

Sedangkan pencegahan DBD melibatkan pengendalian populasi nyamuk dan menghindari gigitan nyamuk dengan menggunakan kelambu, obat nyamuk, dan pakaian pelindung.

Pengendalian atau pemberantasan nyamuk dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan serta menggalakan gerakan 3M, yaitu menguras dan membersihkan tempat-tempat penampungan air seperti bak mandi, ember dan vas bunga.

M berikutnya menutup rapat-rapat tempat-tempat penampungan air seperti tempat penampungan air minum, drum, dan lain-lain agar tidak menjadi tempat berkembang biak nyamuk. 

Langkah M ketiga mengubur atau mendaur ulang barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan, seperti kaleng bekas, botol bekas, ban bekas, dan lain-lain.

Kepala Puskesmas Singkil Utara, dr Tri Patriyuni MBiomed menyebutkan, nyamuk DBD bersarang di air bersih. Sehingga penting untuk menerapkan 3M.

Bedanya lagi nyamuk demam berdarah menggigit korbannya pada siang hari. Oleh karena itu, pada siang hari penting melakukan pencegah gigitan nyamuk DBD.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved