Kupi Beungoh
Banjir Bukan Takdir, Tapi Buah Keserakahan
Dalam tradisi Islam, ihtikar, menimbun barang demi keuntungan saat kelangkaan, adalah dosa publik.
Oleh Dr. Muhammad Nasir*)
Hujan yang Menangis, Desa yang Tenggelam
Hujan menetes seperti air mata bumi yang terluka.
Setiap tetes menuturkan kisah hutan yang ditebang, sungai yang kehilangan jalur, dan masyarakat yang menunggu pertolongan.
Akhir November 2025, Sumatera menangis dalam diam; lebih dari 400 jiwa hilang, ratusan masih terombang-ambing di antara harapan dan doa, dan sekitar 70 ribu orang mengungsi (BNPB, 2025).
Kerugian ekonomi diperkirakan mencapai Rp 12 triliun, menghantam pertanian, UMKM, dan infrastruktur, namun angka itu hanyalah permukaan dari tragedi yang sesungguhnya, tragedi manusia yang terguncang oleh pilihan sendiri.
Di balik arus lumpur yang menenggelamkan kampung dan sawah, terdapat dua bencana yang bersinergi: bencana ekologis yang diciptakan manusia, hutan ditebang, gambut dikeringkan, sungai dipersempit; dan bencana moral.
Spekulan menimbun kebutuhan pokok di tengah penderitaan warga.
Hutan yang hilang membuat air kehilangan jalannya; sungai yang menyempit mempercepat derasnya aliran.
Mereka yang menimbun barang tidak menunggu hujan untuk menghanyutkan sesama; mereka hanya menunggu kesempatan.
Tragedi ini bukan statistik, tetapi catatan nurani yang terabaikan.
Air dan Karakter: Ujian Moral yang Terlupakan
Air bisa diprediksi, karakter manusia tidak.
Laporan lapangan menunjukkan harga beras, mie instan, air minum, dan bahan bakar melonjak hingga 50 persen, rak pasar kosong, sementara di gudang spekulan, barang menumpuk menunggu “harga naik”.
Dalam tradisi Islam, ihtikar, menimbun barang demi keuntungan saat kelangkaan, adalah dosa publik.
Musibah seharusnya memperbesar empati, bukan laba.
Solidaritas menjadi mata uang sejati saat krisis, dan keserakahan adalah pengkhianatan terhadap kemanusiaan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/M-Nasir-cahaya-peradaban-september-2025.jpg)