Kamis, 23 April 2026

Kupi Beungoh

Banjir Bukan Takdir, Tapi Buah Keserakahan

Dalam tradisi Islam, ihtikar, menimbun barang demi keuntungan saat kelangkaan, adalah dosa publik.

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/HO
Dr. Muhammad Nasir, Dosen Magister Keuangan Islam Terapan Politeknik Negeri Lhokseumawe; Peneliti Sosial Kemasyarakatan; Pembina Yayasan Generasi Cahaya Peradaban. 

Rehabilitasi hutan dan restorasi lahan gambut menjadi pondasi ekologi, sementara normalisasi sungai dan penataan permukiman di zona aman menekan risiko banjir di masa depan.

Semua ini bukan sekadar proyek kosmetik, melainkan investasi sosial-ekologis yang menentukan masa depan generasi mendatang.

Timeline aksi harus jelas dan terukur.

Dalam 0–72 jam, evakuasi warga terisolir dan distribusi pangan darurat harus dilakukan tanpa kompromi.

Dalam 1–4 minggu, stabilisasi harga, distribusi bantuan, dan audit logistik wajib rampung.

Sedangkan dalam 1–12 bulan, pemulihan ekonomi mikro, restorasi ekologi, dan program padat karya harus berjalan beriringan, membangun ketahanan jangka panjang.

Jika lingkaran krisis tidak diputus hari ini, kita sedang menulis babak baru bencana esok.

Saatnya bergerak bukan hanya untuk menyelamatkan rumah atau aset, tetapi menyelamatkan masa depan bangsa.

Tanggung jawab itu bukan milik pemerintah semata, tetapi tanggung jawab kolektif: antara negara, komunitas, dan setiap warga yang peduli.

Ketika Hutan Ditebang, Nurani Jangan Turut Tumbang

Banjir Sumatera bukan sekadar curah hujan.

Ia adalah akumulasi pilihan manusia yang berpihak pada keuntungan, bukan keadilan sosial.

Saat hutan ditebang, akar hilang bukan hanya dari tanah, tetapi dari hati: kepedulian, kepekaan, dan rasa berbagi. "Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya..." (QS. Al-A’raf: 56)

Bangsa ini masih memiliki kesempatan memperbaiki tata kelola.

Rumah yang hanyut atau nyawa yang hilang tidak bisa dikembalikan, tetapi kezaliman dapat dicegah.

Setiap banjir meninggalkan satu pertanyaan: apakah kita belajar, atau hanya menunggu bencana berikutnya?

Sejarah akan mencatat bukan hanya siapa yang menolong, tetapi juga siapa yang menimbun dan merusak hutan demi keuntungan sesaat.

Di sinilah titik krusial: ketika hujan turun, kita memilih untuk menangis bersama atau tetap membiarkan keserakahan menenggelamkan nurani.

Pilihan itu menentukan apakah bangsa ini akan berdiri di atas fondasi kemanusiaan atau hanyut dalam arus amnesia moral.

Wallahu’alam bissawab.


*) PENULIS adalah Dosen Tetap Program Studi Keuangan Islam Terapan, Politeknik Negeri Lhokseumawe; Peneliti Sosial–Kemasyarakatan; Pembina Yayasan Generasi Cahaya Peradaban.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca artikel KUPI BEUNGOH lainnya di SINI

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved