Kupi Beungoh
Banjir Bukan Takdir, Tapi Buah Keserakahan
Dalam tradisi Islam, ihtikar, menimbun barang demi keuntungan saat kelangkaan, adalah dosa publik.
Setiap perilaku serakah menambah deras air yang harus ditanggung masyarakat, mengubah bencana menjadi tragedi moral yang lebih besar.
Baca juga: Bencana Siklon Senyar 2025: Ini Tsunami Darat Luar Biasa
Ekologi Terkoyak, Kebijakan Tersandera
Banjir yang berulang bukan hadiah alam. Ia adalah buah dari tata kelola lemah, pengawasan longgar, dan keserakahan tak terkendali.
Hutan-hutan di hulu ditebang untuk perkebunan dan pertambangan, sungai kehilangan bantaran alami, kanal gambut dibuka tanpa memperhitungkan daya dukung ekosistem.
Model pembangunan yang timpang mempercepat frekuensi dan intensitas banjir.
Data KLHK menunjukkan Sumatera kehilangan lebih dari 1,4 juta hektare hutan dalam dua dekade terakhir, termasuk hutan primer yang menjadi penyangga ribuan desa.
Penelitian hidrologi mengungkap konversi hutan menjadi perkebunan sawit meningkatkan limpasan permukaan hingga 40 % , sedangkan sedimentasi sungai menipiskan kedalaman 1–2 meter per dekade.
Pelajaran dunia tak bisa diabaikan. Di Myanmar (Aung & Lim, 2021) dan Mozambik (Neves & Espling, 2025), ketahanan terhadap banjir lahir dari kolaborasi lintas lembaga, teknologi, dan partisipasi komunitas.
Indonesia dapat meniru praktik ini melalui ICT, pemetaan satelit, dan dashboard publik, agar pengawasan izin dan distribusi bantuan berjalan nyata dan transparan.
Ilegal Logging: Kayu yang Menghanyutkan Negeri
Saat air bah meluap, balok-balok kayu hanyut, menambah kehancuran.
Setiap batang adalah hutan yang ditebang ilegal, tanah terbuka, sungai penuh sedimentasi.
Ilegal logging bukan sekadar perusakan ekologi; ia adalah pengkhianatan terhadap generasi dan hak hidup masyarakat.
Pelaku harus diusut tuntas, dari oknum lokal hingga sindikat besar.
Setiap izin perlu audit ekologi berbasis transparansi digital, memastikan hutan tetap menjadi penyelamat, bukan sumber bencana.
Tidak ada toleransi bagi mereka yang mengorbankan rakyat demi keuntungan sesaat.
Memutus Lingkaran Krisis: Menyelamatkan Nyawa, Ekonomi, dan Moral
Ribuan warga terisolir menunggu pertolongan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/M-Nasir-cahaya-peradaban-september-2025.jpg)