Rabu, 22 April 2026

Opini

Siklon Tropis Senyar 2025 dan Momentum Aceh, Sumut, Sumbar Maju

Pemerintah daerah dari tiga provinsi mangsa Siklon Tropis Senyar diyakini tak mampu melakukan rehab-rekon wilayah mereka.

Serambinews.com/HO/Tidak Ada
Hasan Basri M. Nur, PhD adalah Direktur Agama Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi Aceh–Nias (BRR NAD-Nias 2005-2009) 

Oleh: Hasan Basri M. Nur, PhD*)

Bencana banjir raksasa berlabel Siklon Tropis Senyar secara serentak menghantam belahan barat Pulau Sumatra pada Rabu (26/11/2025) dini hari.

Provinsi Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat dalam sekejap luluh lantak.

Dampak dan kerusakannya disinyalir setara musibah tsunami 26 Desember 2004.

Dari sisi wilayah terdampak, bencana akhir tahun 2025 ini melebihi dari tsunami 2004.

Bencana tsunami kala itu hanya menyerang Aceh dan Kabupaten Nias Sumatra Utara di Indonesia.

Jumlah korban jiwa memang tak setara dibanding bencana tsunami 2004, tetapi dampak yang ditimbulkan pada manusia berkali-kali lipat dibanding tsunami; mencapai 1,5 juta jiwa dengan jumlah pengungsi mencapai 570 ribu jiwa di tiga provinsi tersebut.

Badai Siklon Senyar 25 telah merusak berbagai infrastruktur strategis di tiga provinsi; jalan raya, jembatan, perkantoran, fasilitas pendidikan, kesehatan, olahraga, pusat ekonomi dan industri, rumah ibadah dan tentu saja ratusan ribu unit rumah warga.

Diperkirakan membutuhkan dana antara puluhan hingga ratusan triliun rupiah untuk proses rehabiltasi dan rekonstruksi (rehab-rekon) tiga provinsi tersebut dengan target “Build Back Sumatra Better”.

Pemerintah daerah dari tiga provinsi mangsa Siklon Tropis Senyar diyakini tak mampu melakukan rehab-rekon wilayah mereka.

APBD mereka sangat terbatas.

Sumber utama APBD provinsi berasal dari “sedekah” pemerintah pusat dan sebagian besar tersedot untuk biaya rutin di daerah.

Khusus Aceh memiliki secuil dana otonomi khusus dan hanya tersisa 1 persen dari Dana Alokasi Umum Nasional (DAUN) dan itu pun akan berakhir pada 2027.

Pengalaman BRR Aceh – Nias

Indonesia memiliki pengalaman sangat baik dalam pembangunan pascabencana.

Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh – Nias (2005-2009) yang didirikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono adalah lembaga terbaik dalam menjalankan fungsi koordinasi dan pembangunan di wilayah bencana.

Dr Ir Koentoro Mangkusubroto yang ditunjuk sebagai Kepala BRR Aceh – Nias berhasil mengoordinir dan menggalang dana pembangunan dari berbagai belahan dunia sehingga target rehab-rekon Aceh dan Nias tercapai dengan baik dalam tempo singkat.

Tercatat sekitar seribu lembaga donor, negara donor, NGO nasional dan internasional hadir di Aceh dan Nias untuk satu misi: Build Back Aceh-Nias Better.

Motto “Build Back Aceh Better” dapat diraih secara terukur sesuai amanat yang terdapat dalam kitab blue print Rehab-Rekon Aceh – Nias yang disusun oleh Bappenas RI.

BRR Sumut – Aceh - Sumbar

Beranjak dari kisah sukses rehab-rekon pascatsunami melalui lembaga BRR Aceh – Nias, maka sejatinya pada tahun 2025 saat ini patut didirikan BRR Sumut – Aceh - Sumbar (BRR SAS).

Fungsi BRR SAS sama seperti BRR Aceh – Nias, yaitu melakukan koordinasi sekaligus eksekusi rehab-rekon di wilayah terdampak bencana di Sumut, Aceh, Sumbar.

Tidak ada alasan untuk menolak bantuan pendanaan rekonstruksi dari negara-negara sahabat.

Lembaga donor asing dapat masuk di bawah koordinasi lembaga BRR SAS sehingga pembangunan Sumut, Aceh, Sumbar tidak tumpang tindih, sebaliknya semakin berkeadilan antarwilayah.

Untuk itu, blue print pembangunan Sumut, Aceh, Sumbar mesti dipersiapkan oleh Bappenas RI bersama Bappeda tiga provinsi sejak sekarang sambil melalui masa tanggap darurat.

Blue print pembangunan Sumut, Aceh, Sumbar mesti dirancang dengan target pembangunan berdampak jangka panjang dan terkoneksi antarprovinsi di Sumatra, mulai Aceh hingga Lampung, seperti rencana jalan tol yang belum selesai.

Blue print tersebut mesti bervisi “Build Back Sumatra Better” (membangun kembali Sumatra yang lebih baik dari sebelumnya).

Harus diakui, selama ini pembangunan di Sumatra agak tertinggal dari Pulau Jawa, apalagi jika dibanding dengan tetangga di Semenanjung Malaysia.

Penataan pembangunan Sumatra, terutama dalam aspek infrastuktur penunjang ekonomi, pendidikan dan kesehatan yang menjadi indiktor Human Development Index (HDI), perlu setara dengan negara tetangga Malaysia.

Tujuannya agar Sumatra ke depannya menjadi kiblat bagi Gen Z dan Gen Alpha di Asia Tenggara dalam mencari pekerjaan (ekonomi), belajar (pendidikan) dan berobat (kesehatan), seperti yang dialami Malaysia dalam beberapa dekade terakhir.

Baca juga: Kisah Nyata Penyintas Banjir Aceh, Bertahan di Atap, Doa Malam Jumat, dan Pertolongan tak Terduga

Kuntoro Vs Susi Pudjiastuti

Almarhum Kuntoro Mangkusubroto berhasil menakhodai BRR Aceh – Nias dengan sempurna.

Visi “Build Back Aceh Better” berhasil dicapai sesuai target blue print rehab-rekon.

Di bawah kepemipinannya, Aceh terbangun dengan cepat dan jauh lebih baik dari sebelumnya.

Infrastruktur jalan dan jembatan terutama di lintas barat, belasan pelabuhan, airport SIM, perumahan, perkantoran, lembaga pendidikan, fasilitas ekonomi, kesehatan, rumah ibadah, hingga pemberdayaan SDM dari kalangan teungku dayah melalui gerakan studi purna ulama dan karya tulis ulama/santri dan lain-lain menjadi legacy Kuntoro dan tim di Aceh.

Kiranya Presiden Prabowo Subianto dapat segera menetapkan bencana Siklon Tropis Senyar yang menimpa Aceh, Sumut, Sumbar sebagai bencana nasional dan membuka kedua telapak tangan dalam menyambut uluran bantuan dari negara-negara sahabat.

Prabowo juga dapat menunjuk orang yang tepat untuk menakhodai rehab-rekon Sumut, Aceh, Aceh.

Sosok seperti Susi Pudjiastuti, mantan Menteri Kelautan RI yang bekerja dengan cepat, terencana dan terukur, dapat dipertimbangkan sebagai sosok calon Kepala BRR Sumut – Aceh - Sumbar.

Dengan demikian, Aceh, Sumut, Sumbar akan cepat keluar dari kerusakan yang dialami dengan sumber dana APBN ditambah pendanaan dari donors.

Dana APBN harus digelontorkan dalam jumlah memadai dalam membangun tiga provinsi di bagian barat Indonesia ini sehingga amanat pembangunan berkedilan sosial dalam Pancasila benar-benar dirasakan.

Jika kekurangan dana, tak ada salahnya dialihkan dana MBG untuk keperluan rehab-rekon Sumatra sehingga indeks ekonomi, kesehatan, dan IQ manusia Sumatra meningkat dan ia akan dikenang sepanjang masa sebagai legacy Prabowo Subianto dari Partai Gerindra.

Kiranya Gubernur Aceh, Sumut, Sumbar dan para gubernur lain di Sumatra perlu mengadakan pertemuan untuk membahas dan menindaklanjuti gagasan ini demi tercapainya kemajuan Sumatra.

 Ini adalah momentum terbaik dalam mempercepat pembangunan Sumatra. Semoga!

Banda Aceh, 05 Desember 2025

*) PENULIS, Hasan Basri M. Nur, PhD adalah Direktur Agama Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi Aceh–Nias (BRR NAD-Nias 2005-2009), Koordinator Pembangunan Sarana Ibadah Aceh – Nias (2008-2009), Humas Badan Kesinambungan Rekonstruksi Aceh (BKRA) Aceh, Contactor Project Kampanye Pengurangan Risiko Bencana pada Disaster Risk Reduction for Aceh (DRR-A) United Nation Development Programme 2010, Manager Program pada Peace Aceh Concert Tambo Multimedia Centre – United States Agency for International Development (USAID) 2005, Deputi Team Leader Survey Sosial Kawasan Ekosistem Leuser Mitra Koalisi - Globlal Eco Rescue 2010, Redaktur Pelaksana Tabloid Rehab-Rekon Aceh “Seumangat” 2008-2009, Redaktur Pelaksana Tabloid “Beudoh Aceh” INGO Northwest Medical Teams (NWMT) 2005, Redaktur Pelaksana Tabloid Pembangunan Aceh “Tabangun Aceh” 2010-2019, dan kini sebagai pengajar “bangku panjang” pada Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) dan Prodi Studi Agama-Agama (SAA) UIN Ar-Raniry Banda Aceh, email: hasanbasrimnur@gmail.com.

Isi artikel dalam rubrik opini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved